Dua Rohingya Positif Corona COVID-19 di Kamp Pengungsi Terbesar Bangladesh

Oleh Benedikta Miranti Tri Verdiana pada 15 Mei 2020, 05:05 WIB
Diperbarui 15 Mei 2020, 10:09 WIB
Etnis Muslim Rohingya, yang baru saja melintas perbatasan Myanmar menuju Bangladesh, sedang menunggu giliran menerima bantuan makanan dekat kamp pengungsi Balukhali (AP)

Liputan6.com, Dhaka - Hal yang dikhawatirkan oleh banyak pihak terjadi juga. 

Dua pengungsi Rohingya dinyatakan positif mengidap Virus Corona COVID-19 di kamp pengungsi terbesar di dunia di Bangladesh.

Mengutip BBC, Jumat (15/5/2020), ini adalah kasus pertama yang dikonfirmasi di antara para pengungsi di Cox's Bazar, di mana sekitar satu juta Rohingya mengungsi. Hal ini dilaporkan oleh seorang dokter pemerintah.

Para pejabat mengatakan bahwa mereka yang terinfeksi sekarang dirawat secara terpisah.

Sedangkan 1.900 pengungsi lainnya sekarang diisolasi untuk menjalani tes.

Rohingya, di kamp-kamp sesak di Cox's Bazar telah menerapkan penguncian atau lockdown sejak 14 Maret.

 

2 dari 3 halaman

Kekhawatiran di Kamp Rohingya

Sekitar 200.000 Rohingya berunjuk rasa di kamp pengungsian Bangladesh memperingati 'Hari Genosida'. (AFP)
Sekitar 200.000 Rohingya berunjuk rasa di kamp pengungsian Bangladesh memperingati 'Hari Genosida'. (AFP)

Badan-badan bantuan telah memperingatkan selama berminggu-minggu tentang dampak potensial virus terhadap para pengungsi Rohingya yang hidup dalam kondisi sempit dan padat dan memiliki akses terbatas kepada air bersih.

"Sekarang virus telah memasuki pemukiman pengungsi terbesar di dunia di Cox's Bazar, kami sedang melihat prospek yang sangat nyata bahwa ribuan orang mungkin meninggal akibat COVID-19," kata Dr Shamim Jahan, direktur kesehatan Save the Children's di Bangladesh, dalam sebuah pernyataan.

"Pandemi ini dapat membuat Bangladesh kembali ke beberapa dekade lalu."

Manish Agrawal, direktur negara Bangladesh di Komite Penyelamatan Internasional, menunjukkan bahwa para pengungsi yang tinggal ada sebanyak 40.000 hingga 70.000 orang per kilometer persegi.

"Itu setidaknya 1,6 kali kepadatan populasi di atas kapal pesiar Diamond Princess, tempat penyakit ini menyebar empat kali lebih cepat daripada di Wuhan pada puncak wabah," katanya merujuk pada sebuah kapal pesiar di Jepang dimana COVID-19 menyebar dengan cepat.

3 dari 3 halaman

Saksikan Video Pilihan di Bawah ini:

Lanjutkan Membaca ↓