Hari Malaria Sedunia 25 April 2020, Dirayakan di Tengah Pandemi Virus Corona

Oleh Liputan6.com pada 25 Apr 2020, 16:30 WIB
Diperbarui 25 Apr 2020, 16:30 WIB
Liputan 6 default 5
Perbesar
Ilustraasi foto Liputan 6

Liputan6.com, Jakarta Tanggal 25 April ditetapkan PBB sebagai Hari Malaria Sedunia, penyakit yang masih menjadi salah satu penyebab kematian di dunia, salah satunya di benua Afrika. Hari Malaria Sedunia ini pertama kalinya dirayakan pada tahun 2008, seperti yang dikutip dari Britannica.

Hari Malaria Sedunia awalnya terinspirasi dari gerakan serupa di Afrika yang telah berjalan sejak tahun 2001, salah satu alasan perayaan ini adalah meningkatkan pemahaman rakyat mengenai Malaria. 

Malaria sendiri ada di setidaknya 100 negara dan mengakibatkan kematian sebanyak 900.000 orang setiap tahunnya. Namun Malaria ini dapat dicegah melalui obat dan seperti kelambu berinsektisida dan penyemprotan insektisida dalam ruangan.

Namun kabar baik datang dari penyebaran Malaria, WHO mencatan bahwa dari tahun 2000 hingga 2014, tingkat kematian akibat Malaria ini turun 40%.

2 dari 3 halaman

Malaria di Tengah Pandemi COVID-19 di Afrika

Foto yang diambil lewat kelambu nyamuk, dua anak dengan malaria beristirahat bersama ibunya di sebuah rumah sakit setempat di sebuah desa kecil di Walikale, Kongo (AP)
Perbesar
Foto yang diambil lewat kelambu nyamuk, dua anak dengan malaria beristirahat bersama ibunya di sebuah rumah sakit setempat di sebuah desa kecil di Walikale, Kongo (AP)

Afrika memiliki sistem kesehatan yang rendah, dilaporkan oleh VOA bahwa tahun 2018 lalu setidaknya 380,000 orang Afrika meninggal akibat Malaria. Dengan adanya pemicu lain seperti COVID-19, sistem kesehatan di Afrika sangatlah terganggu. 

Hari Malaria Sedunia 2020 ini hadir di  saat Afrika sedang berjuang untuk membuat kemajuan lebih lanjut melawan penyakit yang ditularkan nyamuk tetapi juga ketika pandemi coronavirus mengancam sistem perawatan kesehatan yang lemah di benua itu.

Pandemi ini menjadi tantangan besar kepada benua Afrika, pasalnya Malaria dan COVID-19 ini memiliki gejala yang mirip, yaitu panas yang tinggi. Sehingga hal ini dapat mengakibatkan pasien menerima perawatan yang salah. Namun Afrika telah meluncurkan vaksin malaria yang menjanjikan yang menurut WHO efektif pada anak-anak, negara seperti Ghana, Kenya dan Malawi menawarkan 360.000 vaksin Malaria setiap tahunnya kepada anak-anak. 

 

Reporter: Yohana Belinda

3 dari 3 halaman

Simak video pilihan berikut:

Lanjutkan Membaca ↓