Apa yang Terjadi Jika Vaksin Corona COVID-19 Tak Tercipta? Ini Respons Profesor Australia

Oleh Tanti Yulianingsih pada 24 Apr 2020, 19:40 WIB
Diperbarui 24 Apr 2020, 19:40 WIB
Ilustrasi Covid-19, virus corona
Perbesar
Ilustrasi Covid-19, virus corona. Kredit: Gerd Altmann via Pixabay

Liputan6.com, Gold Coast - Kurva kasus Virus Corona COVID-19 telah rata di banyak negara dunia, dan belum ada antivirus baru atau vaksin hingga saat ini.

Tammy Hoffmann Profesor Epidemiologi dari Klinik di Universitas Bond, Gold Coast Australia dan rekannya Profesor obat-obatan dari klinik yang sama, Paul Glasziou mengungkap bahwa mereka terselamatkan oleh intervensi nonobat-obatan seperti karantina, jarak sosial, cuci tangan, dan --untuk petugas kesehatan-- masker dan peralatan pelindung lainnya.

"Kita semua mengharapkan vaksin pada tahun 2021. Tetapi apa yang kita lakukan sementara itu? Dan yang lebih penting, bagaimana jika tidak ada vaksin yang muncul?" kata mereka seperti dikutip dari Channel News Asia, Jumat (24/4/2020).

Dunia telah bertaruh sebagian besar dana penelitiannya untuk menemukan vaksin dan obat-obatan yang efektif. Upaya itu sangat penting, tetapi harus disertai dengan penelitian tentang bagaimana menargetkan dan meningkatkan intervensi non-obat yang merupakan satu-satunya hal yang bekerja sejauh ini.

Perdebatan masih memanas tentang pertanyaan dasar seperti apakah masyarakat harus menggunakan masker wajah; berdiri terpisah sejauh 1, 2 atau 4 meter; dan apakah harus mencuci tangan dengan sabun atau sanitiser. "Kami membutuhkan jawabannya sekarang."

Intervensi Non-Obat

Di semua penelitian kesehatan, intervensi non-obat adalah subjek dari sekitar 40 persen uji klinis. Namun mereka menerima jauh lebih sedikit perhatian daripada pengembangan dan pengujian obat.

Dalam pandemi Corona COVID-19, jutaan dolar telah diberikan kepada kelompok-kelompok penelitian di seluruh dunia untuk mengembangkan vaksin dan mencoba obat-obatan potensial.

"Ratusan uji klinis pada obat-obatan dan vaksin sedang berlangsung, tetapi kami hanya dapat menemukan beberapa uji coba intervensi non-obat, dan tidak ada uji coba tentang cara meningkatkan kepatuhan terhadap hal tersebut."

"Kita semua berharap upaya global besar-besaran untuk mengembangkan vaksin atau perawatan obat untuk COVID-19 berhasil. Tetapi banyak ahli, termasuk Ian Frazer, yang mengembangkan vaksin HPV Australia, berpikir itu tidak akan mudah atau cepat."

Jika vaksin atau obat yang efektif tidak terwujud, kita akan memerlukan Rencana B yang hanya menggunakan intervensi non-obat.

"Itu sebabnya kami membutuhkan penelitian berkualitas tinggi untuk mengetahui mana yang berfungsi dan bagaimana melakukannya seefektif mungkin."

2 dari 4 halaman

Intervensi Non-Obat Berfungsi?

[Fimela] mencuci tangan
Perbesar
mencuci tangan untuk menghindari infeksi virus corona | pexels.com/@burst

Anda mungkin berpikir mencuci tangan, masker, dan jarak sosial adalah hal-hal sederhana dan tidak perlu penelitian. Faktanya, intervensi non-bat seringkali sangat kompleks.

Dibutuhkan penelitian untuk memahami tidak hanya "komponen aktif" dari intervensi (mencuci tangan, misalnya), tetapi juga berapa banyak yang dibutuhkan, bagaimana membantu orang memulai dan terus melakukannya, dan bagaimana mengkomunikasikan pesan-pesan ini kepada orang-orang. Mengembangkan dan menerapkan intervensi non-obat yang efektif sangat berbeda dari pengembangan vaksin atau obat, tetapi bisa sama rumitnya.

Dalam satu contoh, telah ada kampanye #Masks4All untuk mendorong semua orang memakai masker wajah. Tapi jenis masker, dan terbuat dari apa? kapan dan di mana dipakai? Perlu sedikit kesepakatan tentang pertanyaan-pertanyaan rinci ini.

Mencuci tangan juga terdengar sederhana. "Tetapi seberapa sering? Dua kali sehari, 10 kali sehari, atau pada waktu pemicu tertentu? Apa cara terbaik untuk mengajar orang mencuci tangan dengan benar?"

"Jika orang tidak memiliki teknik yang sempurna, apakah pembersih tangan lebih baik daripada sabun dan air? Apakah memakai masker dan melakukan kebersihan tangan lebih efektif daripada hanya melakukan salah satunya?"

Ini hanya beberapa hal yang tidak kita ketahui tentang intervensi non-obat.

Penelitian yang Ada Kurang

"Kami baru-baru ini meninjau semua uji coba terkontrol secara acak untuk intervensi fisik untuk menghentikan penyebaran virus pernapasan, termasuk intervensi seperti masker, kebersihan tangan, pelindung mata, jarak sosial, karantina, dan kombinasi dari semuanya."

"Kami menemukan banyak percobaan yang berantakan dan bervariasi, banyak yang berkualitas rendah atau ukuran sampel kecil, dan untuk beberapa jenis intervensi, tidak ada uji coba secara acak."

Pilihan non-obat lain untuk penelitian termasuk lingkungan buatan, seperti pemanasan, ventilasi, sirkulasi pendingin udara, dan permukaan (misalnya, virus SARS-CoV-2 "mati" jauh lebih cepat pada tembaga daripada permukaan keras lainnya). Apakah beberapa hal yang kita lakukan sekarang tidak efektif? Mungkin saja.

Masalahnya adalah kita tidak tahu yang mana. "Kami perlu mengetahui hal ini segera sehingga kami tidak membuang waktu, tenaga, dan sumber daya untuk hal-hal yang tidak berhasil."

"Pada saat kita perlu mencapai perubahan perilaku yang cepat dalam skala besar, pesan yang tidak konsisten dan saling bertentangan hanya menciptakan kebingungan dan membuat mencapai perubahan perilaku jauh lebih sulit."

 

3 dari 4 halaman

Pandemik Berikutnya

Ilustrasi Virus Corona
Perbesar
Ilustrasi Virus Corona. (Bola.com/Pixabay)

Jika vaksin COVID-19 yang berhasil dikembangkan, orang-orang bisa bebas keluar. Tetapi apa yang terjadi ketika pandemi atau epidemi berikutnya tiba?

Vaksin adalah virus yang spesifik, jadi lain kali ada virus baru mengancam, situasi yang sama akan terjadi. Namun, apa yang kita pelajari sekarang tentang intervensi non-obat dapat digunakan untuk melindungi kita dari virus lain, sementara menunggu lagi untuk vaksin atau obat baru.

"Kami memiliki kesempatan untuk mempelajari intervensi non-obat untuk virus pernapasan di masa lalu, terutama selama epidemi Sindrom Pernafasan Akut Parah (SARS) pada tahun 2003 dan pandemi influenza H1N1 pada tahun 2009. Namun, peluang untuk studi yang ketat sebagian besar terbuang sia-sia dan kami sekarang mendapati diri kami putus asa mencari jawaban."

Penelitian Rencana B

Untuk mempersiapkan masa depan dan Rencana B, kasus di mana vaksin tidak tercipta, kita perlu melakukan uji coba secara acak ke dalam intervensi non-obat untuk mencegah penyebaran virus pernapasan.

Menurut kedua profesor, pandemi saat ini memberi mereka kesempatan langka untuk dengan cepat melakukan uji coba untuk menjawab banyak hal yang tidak diketahui tentang rangkaian intervensi non-obat ini.

"Mengkonsentrasikan semua pendanaan, upaya, dan sumber daya kami ke dalam penelitian vaksin dan obat-obatan dapat menjadi kesalahan yang menghancurkan dan mahal dalam hal kesehatan dan ekonomi. Hasilnya akan dirasakan tidak hanya di pandemi ini, tetapi juga di masa depan."

4 dari 4 halaman

Saksikan video pilihan di bawah ini: 

Lanjutkan Membaca ↓