Lewat Telepon 30 Jam, Temani Ayah Hingga Meninggal Akibat Corona COVID-19

Oleh Liputan6.com pada 24 Apr 2020, 07:00 WIB
Diperbarui 24 Apr 2020, 07:00 WIB
110715csadap-telefon.jpg

Liputan6.com, New York - Sebuah keluarga berada di saluran telpon selama 30 jam hingga ajal menjemput sang ayah, Don Adair. Pria itu terjangkit Virus Corona COVID-19.

Seperti dikutip dari CNN, Jumat (23/4/2020), Abby Adair Reinhard tidak bisa berada di rumah sakit bersama ayahnya yang sekarat akibat Virus SARS-CoV-2. Sama seperti keluarga pasien penyakit COVID-19 lain, ia tak diizinkan mendekat karena risiko penularan.

Keluarga Don Air akhirnya menerima tawaran perawat untuk berbicara hingga ajal sang ayah menjemput, sekitar 30 jam lamanya.

Adair Reinhard sangat berterima kasih atas kesempatan tersebut. Dirinya mengatakan bahwa momen itu dapat memberikan kesempatan baginya untuk mengatakan hal-hal terakhir untuk sang ayah.

"Itu adalah berkat yang sangat besar," kata Adair Reinhard. "Itu memungkinkan saya untuk memiliki semacam pengakhiran. Saya bisa mengatakan apa yang perlu saya katakan, tahu itu adalah akhir hidupnya, dan meskipun saya tidak bisa melihatnya, tak bisa memegang tangannya, memiliki koneksi melalui telepon sangat berharga," tutur Adair Reinhard.

Pandemi Virus Corona COVID-19 juga telah membuat beberapa negara kewalahan dalam memeranginya. Kini sudah lebih dari 2,6 juta orang di dunia terinfeksi. Paling banyak berada di Amerika Serikat, angka kematian tertinggi juga berada di negara pimpinan Donald Trump itu.

2 dari 3 halaman

Mendengar Detik-Detik Ajal Sang Ayah Menjemput

Pulih, Pasien Virus Corona Sumbangkan Plasma Darah
Pasien yang pulih dari coronavirus menyumbangkan plasma di Pusat Darah Wuhan di Wuhan, Hubei, China (17/2/2020). Beberapa pasien yang telah sembuh menganggap menjadi donor sebagai cara berterima kasih kepada masyarakat karena telah menerima perawatan yang efektif dan tepat waktu. (Xinhua/Cai Yang)

Keluarga Don Air menelpon sang ayah dari Denmark ke tempat perawatannya di New York.

Putranya, Adair Reinhard menjelaskan bahwa mereka sekeluarga di Denmark dapat mendengar Don Air mengalami kesulitan bernafas menjelang ajal menjemput.

"Dia tidak bisa bicara, kau tahu, tapi kami bisa mendengarnya bernafas. Jadi, kami hanya punya waktu bersama," kata Adair Reinhard.

Mereka kemudian saling meminta maaf, meski tak mendapat respons ucapan dari Don Air.

"Aku berterima kasih pada ayahku, karena pernah ada untukku, karena mencintaiku. Aku meminta maaf... Aku memaafkannya," ujarnya.

Mereka kemudian berbagi kenangan dan lagu, termasuk memori saat sang ayah memainkan gitar di sekitar api unggun bersamakeluarga.

"Saya ingin membawanya kembali ke masa-masa indah yang kami miliki, dan bernyanyi di sekitar api unggun dan dia bermain gitar, dan mulai menyanyikan lagu-lagu Peter, Paul, dan Mary," kata Adair Reinhard.

"Kami benar-benar bisa mendengarnya menderita," kata Adair Reinhard.

 

3 dari 3 halaman

28.000 Orang Dilaporkan Meninggal Akibat COVID-19 Tidak Masuk Daftar

Permakaman untuk Jenazah Pasien Corona di Argentina
Seorang pekerja menggali tanah kuburan di pemakaman San Vicente di Cordoba, Argentina, 14 April 2020. Pemerintah kota di provinsi Argentina tengah, Cordoba telah menggali sekitar 250 kuburan untuk mengantisipasi peningkatan korban jiwa dari pandemi Covid-19. (AP/Nicolas Aguilera)

Memang, COVID-19 ini telah memakan banyak korban meski jumlah yang sembuh dari virus ini juga sangat banyak. Menurut New York Times, setidaknya 28.000 orang yang meninggal akibat COVID-19 tidak masuk dalam daftar. Hal ini juga disebabkan karena tinjauan data kematian akibat COVID-19 dari beberapa negara masih belum lengkap. 

Beberapa ahli juga mengatakan bahwa angka ini juga kemungkinan tidak lengkap, karena angka kematian yang dilaporkan adalah laporan dari rumah sakit. 

 

Reporter: Yohana Belinda

Lanjutkan Membaca ↓