WHO: Sekitar 70 Vaksin Corona COVID-19 Dalam Tahap Pengembangan

Oleh Natasha Khairunisa Amani pada 14 Apr 2020, 13:02 WIB
Diperbarui 14 Apr 2020, 13:02 WIB
Covid-19 Jadi Nama Penganti Virus Corona

Liputan6.com, Jakarta- Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) mengatakan bahwa ada setidaknya 70 vaksin untuk Virus Corona COVID-19 yang sedang dalam pengembangan saat ini. 

Tiga di antara vaksin tersebut pun dikatakan sedang dalam uji klinis. 

Daftar upaya vaksin terbaru diterbitkan oleh WHO pada 11 April, yang memperlihatkan sejumlah besar perusahaan yang ikut berusaha membuat penyuntikan vaksin Virus Corona baru menjadi nyata.

Pada biasanya, pengembangan vaksin merupakan proses yang membutuhkan banyak waktu, tidak mudah, dan akan mengeluarkan banyak dana serta pengujian bertahun-tahun untuk menentukan apakah vaksin itu aman dan efektif.

Dengan situasi yang cukup buruk saat ini, para pembuat obat dan pejabat kesehatan dikatakan telah berharap untuk secara signifikan mengurangi durasi pengembangan vaksin. 

Uji coba pada manusia di tahap dua untuk vaksin eksperimental dilaporkan telah dikerjakan oleh perusahaan biotek China, CanSino. Sementara pengujian pada manusia telah dimulai oleh dua perusahaan bioteknologi yang berbasis di Amerika Serikat, yaitu Inovio Pharmaceuticals dan Moderna. 

Pengembangan vaksin juga dilaporkan sedang dikejar oleh perusahaan besar seperti Johnson & Johnson dan Sanofi. 

Amerika Serikat dikatakan masih setidaknya 12 hingga 18 bulan lagi untuk memunculkan vaksin Corona COVID-19, menurut Direktur Institut Nasional Alergi dan Penyakit Menular AS, Anthony Fauci.

Beberapa ahli juga dikatakan sudah memberikan peringatan bahwa bahkan mencoba mencapai tenggat waktu itu adalah rencana berisiko yang bisa menjadi bumerang, demikian seperti dikutip dari Science Alert, Selasa, (14/4/2020).

2 dari 3 halaman

Prosedur yang Harus Diperhatikan

Perjuangan Ini Belum Usai
Petugas medis yang bekerja di Rumah Sakit Palang Merah di Wuhan,, China pada 28 Februari 2020. Virus Corona yang bermula di China tengah pada Desember 2019 kini menyebar secara global di mana lima negara terdampak paling besar, yakni Cina daratan, Korea Selatan, Iran, Italia dan Jepang (STR/AFP)

Pengujian vaksin baru pada umumnya harus diuji di labolatorium terlebih dahulu, kemudian pada hewan, dan kemudian di antara sekelompok kecil orang untuk keselamatan sebelum akhirnya diuji dalam kelompok yang lebih besar, untuk melihat apakah mereka dapat mencegah penyakit.

Tetapi yang menjadi kekhawatiran dari para ahli adalah jika melewati salah satu dari langkah-langkah itu, untuk mendapatkan risiko yang disetujui vaksin yang mengarah ke "peningkatan imun," di mana vaksin sebenarnya dapat melemahkan respons seseorang terhadap virus.

Peter Hotez, Dekan dari National School of Tropical Medicine di Baylor College of Medicine, mengatakan kepada Reuters, "Cara Anda mengurangi risiko itu adalah pertama-tama Anda menunjukkan bahwa itu tidak terjadi pada hewan laboratorium."

Namun laporan dari Stat News mengatakan bahwa dalam ketergesaan untuk menemukan vaksin Virus Corona COVID-19, beberapa pembuat obat melewatkan percobaan pada hewan. 

Peter Hotez menyampaikan, "Saya mengerti pentingnya mempercepat batas waktu untuk vaksin secara umum, tetapi dari semua yang saya tahu, bukanlah vaksin yang digunakan untuk melakukannya."

3 dari 3 halaman

Saksikan Video Berikut Ini:

Lanjutkan Membaca ↓