Analis: Tak Usah Cemas Kehabisan Makanan Saat Pandemi Corona COVID-19

Oleh Hariz Barak pada 05 Apr 2020, 19:40 WIB
Diperbarui 05 Apr 2020, 19:40 WIB
Cegah Panic Buying, Kapolda Metro Jaya Pantau Operasi Pasar

Liputan6.com, Jakarta - Pada hari-hari paling awal pandemi Virus Corona Baru, mengunjungi supermarket lokal di sebuah negara yang terdampak buruk akibat wabah terasa seperti mimpi buruk bagi sebagian orang. Hal itu berkaitan dengan fenomena panic buying yang terjadi.

Karena berita tentang Virus Corona Baru telah menarik perhatian dunia, toko bahan makanan, yang biasanya penuh, dengan cepat ludes habis oleh pembeli yang panik membeli kertas toilet, air kemasan, beras, kacang, pasta, roti, dan makanan beku.

Sekarang, ketika April dimulai dan sejumlah orang terus melakukan pembelian massal, rantai toko kelontong mulai beroperasi.

Pengecer telah bersatu dengan produsen, pekerja gudang dan operator rantai pasokan untuk menerapkan kebijakan darurat untuk memenuhi permintaan yang meroket ini.

Tetapi bahkan di tengah ketidakpastian - dan meskipun kelangkaannya tampak - para ahli di seluruh sistem pangan berusaha meyakinkan kita bahwa apa yang bisa menjadi ketakutan utama pembeli --di mana rantai pasokan makanan yang terlalu padat dapat menyebabkan kekurangan makanan-- sesungguhnya akan sulit menjadi kenyataan.

“Saya benar-benar dapat memahami kekhawatiran orang-orang. Setiap kali mereka pergi ke toko kelontong, mereka terbiasa melihat semuanya ... tetapi pada dasarnya, ketika Anda memikirkan produksi dan distribusi makanan, makanan diproduksi pada tingkat tinggi sekarang," kata Lowell Randel, wakil presiden Global Cold Chain Alliance (GCCA) di AS, seperti dikutip dari BBC, Minggu (5/4/2020).

Apa yang diungkapkan oleh krisis seperti Virus Corona Baru tentang sistem pangan sebenarnya adalah fleksibilitas dan kekuatannya di bawah tekanan.

Rantai pasokan bergantung pada beberapa mekanisme rentang industri yang dirancang untuk beradaptasi ketika bencana alam melanda --atau ketika sektor pangan perlu berputar selama lonjakan produksi musiman. Dengan kata lain, kita pernah menghadapi ini sebelumnya, jauh sebelum pandemi Virus Corona terjadi.

"Yang ini sedikit berbeda karena berkepanjangan dan ada di mana-mana ... [tetapi] ketika badai mendekati negara itu, perilaku konsumen persis sama [seperti sekarang]," kata Fred Boehler, CEO dari perusahaan rantai pasokan yang berbasis di AS, Americold Logistic.

Pola perilaku mungkin sama, tetapi ketika permintaan pangan diperbesar ke skala yang belum pernah terjadi sebelumnya di seluruh negara, banyak pabrik harus beralih ke "kapasitas penuh" --keadaan tingkat produksi maksimum yang biasanya disimpan untuk situasi darurat seperti pandemi ini.

 

**Ayo berdonasi untuk perlengkapan medis tenaga kesehatan melawan Virus Corona COVID-19 dengan klik tautan ini.

 

2 dari 4 halaman

Produksi dan Rantai Pasokan Menyesuaikan Permintaan

panic buying
Ilustrasi/copyrightshuttestock/MBLifestyle

Menyesuaikan permintaan pembeli yang berubah setelah Virus Corona Baru adalah tugas yang sangat besar, tetapi para ahli sepakat bahwa melakukannya dengan baik berada dalam kendali sistem --dan tidak menyebabkan kekhawatiran.

Menurut Fred Boehler, kesalahpahaman tentang keadaan rantai pasokan makanan adalah bahwa saat ini sedang tegang hingga titik puncaknya. Untuk memahami misteri rak toko kelontong yang kosong, pertama-tama Anda harus melihat ke hulu, dimulai dari gudang di supermarket itu.

Pada suatu saat, "toko kelontong kami memiliki persediaan untuk sekitar 20 hingga 30 hari di toko," kata Boehler.

Toko-toko menerima inventaris itu dari "pusat distribusi ritel" setempat, tempat para pekerja memilah-milah produk dan mengatur pesanan khusus untuk pengiriman --pusat-pusat ini juga menyimpan sekitar 30 hari inventaris.

"Sebut saja 60 hari inventaris di tangan. Itu semua dimiliki oleh pengecer itu."

Pada simpul lain, sekarang ke "pusat distribusi regional", yang terletak di kota-kota utama, yang memasok pusat ritel lokal. Anda dapat menebaknya: 30 hari lagi inventaris.

Fasilitas produksi, terletak tepat di samping pabrik yang memproduksi dan mengemas barang-barang makanan. Mereka mengambil produk langsung dari jalur dan menyimpannya untuk pengiriman ke pusat-pusat regional. Tiga puluh hari lagi persediaan di sana.

Oleh karena itu, empat simpul dari rantai pasokan umum itu memiliki kepemilikan pangan selama empat bulan, siap dan menunggu untuk diangkut, dipesan, dikirim, dan diisi.

Di dunia yang bebas dari pandemi dan bencana, sistem pangan biasanya membagi inventarisasinya antara toko-toko eceran (misalnya supermarket) dan layanan makanan (restoran dan bar). Tetapi, sebagai bagian dari langkah-langkah darurat yang diambil selama tiga minggu terakhir untuk mengurangi penyebaran virus, negara-negara seperti Italia, Spanyol, Prancis dan sebagian AS telah memaksa restoran untuk menutup pintu mereka.

"Layanan restoran makanan mungkin mewakili 50%, sekarang mereka mewakili sekitar 10%," kata Boehler.

Makanan yang biasanya dikirim ke restoran ada di gudang, sementara pesanan persediaan eceran melonjak secara bersamaan. Fasilitas masih mengirimkan makanan dalam jumlah yang sama, tetapi pesanan mereka telah berubah secara radikal menuju ritel.

"Lebih sedikit (suplai yang menuju ke) layanan restoran makanan, dan kini lebih banyak (ke) ritel."

 

3 dari 4 halaman

Beralih ke Skenario Produksi Alternatif

Supermarket Australia Terapkan Jam Belanja Khusus Lansia
Warga lanjut usia (lansia) berbelanja di pasar swalayan Woolworths di Canberra, 17 Maret 2020. Jaringan pasar swalayan terbesar di Australia, Woolworths, akan menawarkan jam khusus belanja prioritas bagi lansia dan penyandang disabilitas, yang terkena dampak panic buying COVID-19. (Xinhua/Chu Chen)

Untuk mengimbangi permintaan penjual dengan volume 20 hingga 25% lebih tinggi, penyedia kembali pada prosedur alternatif tetapi dapat diandalkan yang dirancang untuk menangani pasar secara fluks.

Beberapa fasilitas produksi dan pengiriman telah menambah jam operasinya untuk mencapai kapasitas penuh dan menghasilkan makanan sebanyak mungkin.

Mekanisme lain, yang sering digunakan secara paralel dengan waktu operasi yang lebih lama, adalah untuk mengurangi variasi produk yang berbeda - memperdagangkan berbagai produk untuk fokus pada volume.

Perusahaan pasta, misalnya, dapat menghentikan varietas dan ukuran pasta yang berbeda untuk hanya menghasilkan jenis inti, kata Jose Arturo-Garza-Reyes, kepala Centre for Supply Chain Improvement at the University of Derby.

Garza-Reyes mengatakan, dia mengharapkan 'fenomena rak kosong' yang lebih besar hany terjadi sementara. Bukan hanya karena supermarket yang membuat fleksibilitas mereka diperhitungkan ketika beradaptasi dengan permintaan, tetapi, karena “akan ada titik di mana pelanggan memiliki produk yang cukup, seperti pasta di ruang penyimpanan mereka yang lebih banyak dari yang dibutuhkan."

Ketika titik itu tercapai, dan upaya-upaya dalam rantai pasokan dan pedagang bahan makanan menyelaraskan diri untuk mengejar permintaan pembeli di bawah wabah Virus Corona, akankah muncul 'situasi normal yang baru' dalam cara sistem makanan diatur?

Kemungkinan tidak, menurut CEO Americold Logistic Fred Boehler, yang mengatakan bahwa selain tenaga kerja yang sementara bergeser, sistem-sistem yang ada di rantai pasokan makanan tersebut dibangun untuk menahan lebih banyak krisis di masa depan.

Konsumen dapat membantu mengurangi ketakutan kolektif akan kekurangan makanan dengan berbelanja seperti biasanya, kata Caitlin Welsh, direktur Program Keamanan Pangan Global di Pusat Studi Strategis dan Internasional di AS. Pekerja hanya perlu waktu untuk mengisi rak-rak itu.

"Orang-orang harus mengambil napas dalam-dalam, dan berbelanja untuk stok maksimal satu hingga dua minggu," katanya. "Jika Anda tidak menemukan apa yang Anda butuhkan, kembalilah besok."

4 dari 4 halaman

Simak video pilihan berikut:

Lanjutkan Membaca ↓