44 Mahasiswa di Texas Positif Corona COVID-19 Usai Berlibur ke Meksiko

Oleh Teddy Tri Setio Berty pada 03 Apr 2020, 16:41 WIB
Diperbarui 03 Apr 2020, 16:41 WIB
[Fimela] Texas, Amerika Serikat
Perbesar
Ilustrasi Texas, Amerika Serikat | unsplash.com/@lostfrequency

Liputan6.com, Austin - Dua minggu lalu, saat pandemi Corona COVID-19 masih mewabah, sekitar 70 mahasiswa dari University of Texas, Austin Amerika Serikat melakukan perjalanan ke Meksiko saat liburan musim semi.

Dikutip dari laman New York Times, Jumat (3/4/2020) para mahasiswa ini rata-rata berusia 20 tahun dan terbang menggunakan pesawat sewaan ke Cabo San Lucas.

Sementara itu beberapa di antaranya memilih untuk kembali dengan penerbangan komersial terpisah ke Texas.

Kini, 44 dari 70 mahasiswa itu dinyatakan positif Corona COVID-19 setelah menjalankan tes.

Mereka juga harus melakukan karantina dan perawatan di rumah sakit. Wabah Virus Corona baru di Austin ini dibawa oleh mahasiswa yang mengabaikan pedoman jarak sosial.

Selain itu, mereka juga nekad melakukan perjalanan musim semi ke Meksiko. Dan kini lebih dari setengah kelompok itu positif Corona COVID-19.

Siswa di University of Tampa, University of Wisconsin-Madison dan perguruan tinggi lainnya telah diuji.

Dan ada sejumlah dari mahasiswa yang bersekolah di universitas berbeda juga terpapar birus ini.

Di Austin, pejabat kesehatan dengan pemerintah kota dan universitas telah menginfromasikan anak muda untuk berhati-hati dan tidak mengabaikan arahan.

Pejabat kesehatan kota tersebut menjadikan kasus ini sebagai tanda bahwa masyarakat harus berada di rumah.

 

**Ayo berdonasi untuk perlengkapan medis tenaga kesehatan melawan Virus Corona COVID-19 dengan klik tautan ini.

2 dari 3 halaman

Jumlah Kasus COVID-19 di AS Tembus 200 Ribu Orang

Ilustrasi bendera Amerika Serikat (AFP Photo)
Perbesar
Ilustrasi bendera Amerika Serikat (AFP Photo)

Jumlah warga Amerika Serikat yang terpapar Virus Corona COVID-19 per 1 April 2020 dikonfirmasi melampaui 200 ribu kasus, demikian disampaikan dalam perhitungan Johns Hopkins University.

Negara bagian New York adalah pusat dari perang AS melawan Virus Corona baru yang sangat mematikan itu. Dengan setidaknya ada 1.900 kematian tercatat di sana, menurut Gubernur Andrew Cuomo.

Delapan dari 10 orang Amerika sekarang berada di bawah perintah untuk tetap di rumah dari pemerintah negara bagian dan lokal dalam upaya untuk mengekang penyebaran SARS-CoV-2.

Gedung Putih telah menawarkan angka-angka gamblang tentang kemungkinan kematian nasional, dengan mengatakan bahwa sebanyak 240.000 orang Amerika bisa mati, bahkan dengan langkah-langkah mitigasi yang berlaku.

Donald Trump mengatakan AS akan berada dalam posisi yang sangat baik, ketika puncak perebakan Virus Corona COVID-19 muncul di negaranya. Hal ini ia sampaikan lantaran AS sedang memproduksi ventilator guna menangani pasien.

Melansir laman BBC, Presiden AS mengatakan sekarang ada setidaknya 10 perusahaan yang membuat ventilator, peralatan utama untuk merawat pasien yang sakit kritis.

3 dari 3 halaman

Simak video pilihan berikut:

Lanjutkan Membaca ↓