Data Malaysia Sebut Tingkat Kematian Corona COVID-19 Indonesia Nomor 2 di Dunia

Oleh Tommy Kurnia pada 03 Apr 2020, 12:00 WIB
Diperbarui 10 Mei 2020, 10:08 WIB
Presiden Jokowi

Liputan6.com, Jakarta - Fatality rate atau tingkat kematian akibat Virus Corona (COVID-19) di Indonesia tercatat menjadi ranking 1 se-Asia. Secara keseluruhan, Indonesia berada di ranking 2 dunia dengan persentase tingkat kematian 9,36 persen. 

Informasi ini tidak berasal dari Kementerian Kesehatan Indonesia, melainkan disebarkan Kementerian Kesehatan Malaysia. Pemerintah Malaysia mengumpulkan data dari WHO dan pusat kesehatan nasional. 

Data Virus Corona disebarkan Kemenkes Malaysia di Twitter pada Kamis 3 April malam. Berikut datanya yang sudah viral: 

Secara jumlah, tingkat kematian Indonesia sudah mencapai 170 orang. Dengan ini, kasus kematian Virus Corona di Indonesia sudah melewati Korea Selatan, Jepang, dan Singapura. 

Italia memiliki tingkat kematian 11,90 persen dan jumlah pasien meninggal hampir 14 ribu orang, menjadikannya nomor 1 di dunia. Sementara, Amerika Serikat memiliki jumlah pasien tertinggi yakni 244 ribu. Akan tetapi, tingkat kematian di Negeri Paman Sam tidak masuk 10 besar. 

China juga tidak masuk 10 besar, namun Bloomberg melaporkan intelijen AS tak percaya dengan data China yang dinilai tidak jujur.

Pemerintah Indonesia memutuskan tidak melaksanakan lockdown, baik secara total atau parsial, karena khawatir pada dampak ekonomi.

Ada negara seperti China yang lockdown-nya sangat ketat, tetapi ada juga negara seperti Inggris yang lockdown namun membolehkan warga keluar rumah untuk menjalankan aktivitas seperti pekerjaan tertentu atau belanja kebutuhan pokok.

Presiden Jokowi menyebut lockdown Virus Corona  belum tentu cocok dengan Indonesia. Ia berkata masih ingin aktivitas ekonomi berjalan. 

"Kita tetap aktivitas ekonomi ada tapi masyarakat kita semua harus jaga jarak aman, social distancing, physical distancing itu yang paling penting," ucap Jokowi.

 

 

**Ayo berdonasi untuk perlengkapan medis tenaga kesehatan melawan Virus Corona COVID-19 dengan klik tautan ini.

2 dari 3 halaman

Kasus Positif Virus Corona COVID-19 di Dunia Tembus 1 Juta

Xi Jinping Sambangi Wuhan
Presiden China Xi Jinping melambaikan tangan kepada warga yang dikarantina di rumah serta menyampaikan salam kepada mereka di sebuah area permukiman di Wuhan, 10 Maret 2020. Xi melakukan inspeksi terkait upaya pencegahan dan pengendalian wabah virus corona di Wuhan. (Xinhua/Xie Huanchi)

 Total kasus Virus Corona (COVID-19) di seluruh dunia resmi menembus satu juta kasus. Lonjakan ini karena makin banyak negara yang melakukan tes massal sehingga banyak kasus terdeteksi.

Berdasarkan peta Johns Hopkins University, kasus positif tertinggi kini berada di Amerika Serikat dengan 244 ribu pasien. Berikutnya, ada Italia dengan 115 ribu pasien dan kasus kematian tertinggi yakni 13 ribu orang. 

Berikut 5 negara dengan kasus Virus Corona terbanyak: 

1. AS (244.678) 

2. Italia (115.242) 

3. Spanyol (112.065) 

4. Jerman (84.794)

5. China (82.433)

Kasus di China kini tercatat relatif sedikit mengingat penduduknya ada 1,4 miliar orang. Intelijen dan pakar kesehatan AS pun mulai meragukan kejujuran China dalam menampilkan data secara lengkap.

"Ketika kamu melihat data China di awal-awalnya, dan kamu mendapati ada 80 juta orang, atau 20 juta orang di Wuhan dan 80 juta di Hubei, dan mereka menyebut ada 50 ribu (pasien), kamu berpikir ini lebih mirip SARS ketimbang pandemi global seperti sekarang," ujar Dr. Deborah Birx, Koordinator Respons Virus Corona Gedung Putih.

"Saya pikir komunitas medis menginterpretasi data dari China bahwa ada sesuatu yang serius, tetapi lebih kecil ketimbang yang siapa pun perkirakan, karena saya pikir mungkin kita kehilangan jumlah data yang signifikan," pungkas Dr. Birx. 

Sementara, Bloomberg News melaporkan bahwa ada laporan intelijen AS yang menyebut laporan pasien Virus Corona dari China memang tidak lengkap. Tiga pejabat yang membocorkan informasi intel itu meminta informasinya dirahasiakan.

Kementerian Luar Negeri China menolak laporan intelijen AS. Juru bicara Kemlu China berkata AS hanya sedang mencoba menyalahkan China. 

3 dari 3 halaman

Saksikan Video Pilihan Berikut Ini:

Lanjutkan Membaca ↓