26-3-1979: Perjanjian Damai Mesir dan Israel Pertama Kali Ditandatangani

Oleh Benedikta Miranti Tri Verdiana pada 26 Mar 2020, 06:00 WIB
Diperbarui 26 Mar 2020, 06:00 WIB
Pasukan Israel memeriksa pesawat Mesir yang menjadi sasaran serangan udara Israel saat Perang Enam Hari 1967 (Wikimedia Commons)

Liputan6.com, Jakarta - Dalam sebuah upacara di Gedung Putih, Presiden Mesir Anwar el-Sadat dan Perdana Menteri Israel Menachem Begin menandatangani perjanjian damai bersejarah.

Hal ini berperan sebagai tanda berakhirnya permusuhan selama tiga dasawarsa antara Mesir dan Israel dan membangun hubungan diplomatik serta komersial.

Melansir history.com, Rabu (25/3/2020), kurang dari dua tahun sebelumnya, dalam langkah yang belum pernah terjadi sebelumnya bagi seorang pemimpin Arab, Sadat melakukan perjalanan ke Yerusalem, Israel, untuk mencari penyelesaian perdamaian permanen dengan tetangga Yahudi Mesir setelah beberapa dekade konflik.

Kunjungan Sadat, di mana ia bertemu dengan Begin dan berbicara di hadapan parlemen Israel, disambut dengan kemarahan di sebagian besar dunia Arab. Terlepas dari kritik dari sekutu regional Mesir, Sadat terus mengejar perdamaian dengan Begin.

Sampai pada akhirnya, pada bulan September 1978 kedua pemimpin bertemu lagi di Amerika Serikat, di mana mereka menegosiasikan kesepakatan dengan Presiden AS Jimmy Carterdi Camp David, Maryland.

Tujuh bulan kemudian, sebuah perjanjian perdamaian resmi ditandatangani.

2 dari 2 halaman

Dianugerahi Nobel

Ilustrasi nobel (AP)
Ilustrasi nobel (AP)

Atas prestasi mereka, Sadat dan Begin secara bersama-sama dianugerahi Hadiah Nobel Perdamaian 1978.

Namun, upaya perdamaian Sadat tidak begitu diakui di dunia Arab. Hal ini terbukti ketika Mesir diskors dari Liga Arab. Hingga puncaknya, pada 6 Oktober 1981, para ekstremis Muslim membunuh Sadat di Kairo. 

Kendati demikian, proses perdamaian terus berlanjut tanpa Sadat, dan pada 1982 Mesir secara resmi menjalin hubungan diplomatik dengan Israel.

Lanjutkan Membaca ↓