Peredaran Video Budak Seks di Telegram Bikin Geger Korea Selatan

Oleh Tommy Kurnia pada 24 Mar 2020, 08:30 WIB
Diperbarui 24 Mar 2020, 08:30 WIB
[Fimela] Ilustrasi korban
Perbesar
Ilustrasi korban pelecehan | unsplash.com/@anthonytran

Liputan6.com, Seoul - Masyarakat Korea Selatan dibuat geger akibat penyebaran video budak seks di aplikasi Telegram. Presiden Korsel Moon Jae-in sampai angkat karena kasus ini membuat jutaan rakyat Korsel marah.

Berdasarkan laporan Yonhap, Selasa (24/3/2020), kasus budak seks ini melibatkan setidaknya 74 perempuan dan 16 di antaranya masih di bawah umur. Mereka mengalami penyiksaan dan penganiayaan seksual selama beberapa bulan.

Video mereka lantas beredar luas di aplikasi Telegram, beberapa adegan seksnya juga disebut menjijikan dan brutal. Polisi berkata mereka menjadi budak seks karena diancam foto bugil mereka akan disebarkan.  

Parahnya lagi, ada 260 ribu orang yang membayar untuk melihat hasil kejahatan tersebut. Kasus ini disebut kasus "Nth Room."

Rakyat Korea Selatan yang murka langsung membuat petisi agar kasus ini diusut dan identitas pelaku diungkap ke publik. Sebanyak tiga juta orang sudah mendukung petisi tersebut.

"Jika (pria itu) bukan seorang iblis, maka apalagi yang bisa disebut iblis? (Dia) seharusnya difoto dengan wajahnya tampak jelas," tulis petisi itu. 

Presiden Moon Jae-in berkata publik pantas merasa marah atas kasus ini. Ia meminta agar para penyebar video, termasuk anggota chatroom Telegram tersebut, supaya diperiksa. 

"Polisi harus memandang insiden ini sebagai kejahatan serius dan menginvestigasi secara keseluruhan," ujar Moon. 

Ada pula petisi lain yang meminta agar 260 ribu anggota chatroom budak seks itu diungkap ke publik. Sebanyak 1,5 juta orang sudah mendukung petisi itu. 

Berikut perkembangan kasus ini dan pelaku yang tertangkap:

 

2 dari 3 halaman

Oknum yang Tertangkap

Ilustrasi para pelaku dari pelecehan anak.
Perbesar
Ilustrasi para pelaku dari pelecehan anak. (iStockphoto)

Polisi berhasil menangkap seorang pelaku bernama "Cho." Ia dituding memancing perempuan mengambil foto panas, kemudian dipakai sebagai ancaman agar dijadikan budak seks.

Pelaku adalah pria berusia 20 tahunan, namun "Cho" bukan pembuat chatroom itu. Seoul Metropolitan Police Agency akan berdiskusi pada pekan ini untuk mempertimbangkan membuka identitas pelaku "Cho".

Sebanyak 124 orang sudah dilacak oleh polisi, tetapi otak pembuat chatroom Telegram itu masih belum bisa ditemukan. 

Presiden Moon Jae-in berkata kejahatan seks sudah berkembang menjadi kejahatan digital. Ia pun meminta polisi tegas melawan kejahatan ini, terutama melindungi anak-anak di bawah umur.

3 dari 3 halaman

Saksikan Video Pilihan Berikut Ini:

Lanjutkan Membaca ↓