Pandemi Corona COVID-19, WNI di Belanda Borong Jahe Saat Tisu Toilet Diburu

Oleh Yuke Mayaratih pada 19 Mar 2020, 18:00 WIB
Diperbarui 19 Mar 2020, 18:00 WIB
Warga Belanda serbu tissue toilet

Liputan6.com, Deventer - Pandemi Virus Corona COVID-19 juga telah melanda Belanda. Per Kamis (19/3/2020) pukul 16.30 WIB, kasus di Negeri Kincir Angin sudah mencapai 2.056 dengan pasien sembuh 2 orang. Sementara angka kematiannya 59.

Pandemi Virus Corona COVID-19 tak ayal membuat warga setempat panic buying. Pantauan Liputan6.com beberapa hari belakangan ini di wilayah Deventer, Belanda, tisu toilet yang jadi buruan orang-orang saat berbelanja.

Sampai hari ini, tisu toilet yang biasanya selalu tersedia di salah satu rak di supermarket, selalu kosong. Habis diserbu warga. Bahkan pihak supermarket sampai memasang pengumuman di pintu masuk bahwa tisu toilet sudah habis untuk hari ini.

Kepanikan warga Belanda terjadi sejak 5 hari lalu. Bahan makanan yang diawetkan dalam toples ataupun makanan beku hampir setiap hari ludes terjual. Tapi yang paling ekstrem adalah tisu toilet dan sabun antiseptik. Tak sampai satu jam, tisu yang baru saja di taruh di rak, langsung habis.

Mengapa orang Indonesia yang di Belanda tak ikut-ikutan memborong tisu toilet?

Maya, seorang Warga Negara Indonesia (WNI) di Belanda mengatakan bahwa orang Indonesia terbiasa membersihkan diri sehabis buang air kecil atau besar dengan air menggunakan gayung. Oleh sebab itulah tisu tak jadi prioritas berbelanja saat pandemi Virus Corona COVID-19.

"Kami menyebutnya botol cebok. Dan bagi orang Indo (keturunan campuran Indonesia- Belanda) istilah itu sudah umum. Jadi kami nggak membutuhkan banyak tisu toilet, seperti mereka (warga lokal)," ujar Maya kepada Liputan6.com.

 

2 dari 2 halaman

WNI Borong Jahe

Akar Jahe di Supermarket Lidl, Belanda
WNI di Belanda incar Jahe untuk jaga stamina selama masa karantina 3 minggu. ( Foto : Eka Tanjung)

Ketika warga Belanda menyerbu tisu toilet, WNI yang tinggal di Belanda justru ramai-ramai memborong jahe segar atau akar jahe.

"Saya beli ini karena saran resep tradisional, bahwa jahe dan rempah lainnya diyakini mujarab untuk penyakit yang berkaitan dengan pernafasan dan mencegah flu. Jadi saya memiliki cadangan minuman atau bahan rempah segar, di antaranya jahe," kata WNI bernama Eka Tanjung.

Eka menambahkan, "Selain konsumsi makanan sehat dan olah raga, saya percaya dengan resep herbal dari Indonesia. karena semua jenis penyakit yang ada di muka Bumi obatnya hanya ada di Indonesia, berupa rempah yang kemudian dikenal sebagai herbal. Karena saya tahu bahwa obat kimia memiliki efek samping ke ginjal dan itu yang saya hindari."

Harga satu kilo jahe di Belanda tidak mengalami perubahan. Tetap dibanderol 4 euro atau 75 ribu rupiah/kilogram.

Sempat ada orang Belanda yang heran dan bertanya, kok kamu beli jahe itu untuk apa? Saat melihat Eka memboyong sekilo jahe. "Buat kami orang Indonesia, ini adalah obat," jawab Eka sambil tertawa.

Di Belanda rempah termasuk jahe segar bisa ditemui di toko yang menjual bahan makanan Asia. Meski sesekali tersedia juga di supermarket besar seperti Jumbo dan Albert Hein.

Lanjutkan Membaca ↓