AS Akan Lockdown? Ini Kata Donald Trump

Oleh Tommy Kurnia pada 18 Mar 2020, 07:30 WIB
Diperbarui 18 Mar 2020, 07:30 WIB
Konferensi pers oleh Presiden AS Donald Trump terkait Virus Corona yang kasusnya terus meningkat di Amerika Serikat.

Liputan6.com, Washington, D.C. - Pemerintah Amerika Serikat (AS) kini sedang mengebut untuk memperlambat penyebaran Virus Corona (COVID-19). Masyarakat sudah diminta agar tidak keluar rumah karena virus ini bisa menular meski tidak ada gejala.

Terkait opsi lockdown, Presiden Donald Trump berkata sudah memikirkan skenario itu dan bisa melakukannya. Hanya saja, ia masih berharap agar tidak perlu mengambil langkah tersebut.

"Kamu bisa saja melakukan lockdown. Harapannya, kita tidak perlu melakukan itu. Kami memikirkan semua gagasan. Setiap ide yang kamu sebutkan, kita telah memikirkannya," ujar Presiden Trump dalam briefing harian Virus Corona di Gedung Putih, seperti ditulis Rabu (18/3/2020).

"(Lockdown) Itu adalah adalah langkah yang sangat besar. Itu sesuatu yang sudah kami bahas, tetapi kami belum memutuskan melakukannya," lanjut Trump.

Jumlah pasien Virus Corona di AS terkini adalah 6.420 kasus. Ada sebanyak 108 orang yang meninggal dunia dan 17 sembuh. Negara maju lain seperti Belanda dan Prancis sudah lockdown karena pasien Virus Corona sudah melonjak.

Ketika ditanya faktor apa yang bisa mendorong terjadinya lockdown di AS, Donald Trump berkata akan terlebih dahulu berkonsultasi dengan tim penanganan Virus Corona pemerintah.

Tim yang ia maksud terdiri atas tokoh-tokoh seperti direktur Institut Alergi dan Penyakit Menular Nasional Dr. Anthony Fauci, Koordinator Respons Virus Corona Gedung Putih Dr. Deborah Birx, hingga Surgeon General Jerome Adams.

Namun, Trump sekali lagi berkata lockdown kemungkinan bukan langkah yang ia tempuh.

"Anthony, dan orang-orang yang berdiri di belakang saya, kita akan berkumpul di ruangan bersama beberapa orang lain, dan kita akan membuat sebuah keputusan. Tetapi saya berpikir itu bukan keputusan yang saya akan ambil," tegas Presiden Trump.

 

2 dari 3 halaman

Jangan Keluar Rumah

Suasana Kota Barcelona Setelah Spanyol Berlakukan Lockdown
Warga berjalan di sepanjang La Ramblas, Barcelona, Spanyol, Minggu (15/3/2020). Pemerintah Spanyol memberlakukan lockdown setelah negara berpenduduk 47 juta jiwa itu terdampak virus corona COVID-19 paling parah kedua di Eropa setelah Italia. (AP Photo/Emilio Morenatti)

Pada kesempatan sama, Koordinator Respons Virus Corona Gedung Putih Dr. Deborah Birx kembali meminta agar masyarakat tidak keluar rumah. Ia pun menyayangkan ketika tahu masih ada orang yang ke bar atau restoran.

"Kami mendengar tiap malam orang-orang yang tidak bekerja menuju ke bar dan tempat kumpul-kumpul lainnya. Jika kita terus-terusan begitu, maka kita akan gagal mengekang virusnya," kata Dr. Birx yang berpengalaman sebagai dokter militer.

Birx menegaskan setiap generasi memiliki peran untuk melawan Virus Corona. Generasi muda dan tua diminta melaksanakan peran masing-masing seperti tidak keluar rumah dan membantu dengan teknologi.

"Setiap generasi memiliki peran, kami meminta generasi tua untuk tetap di rumah, dan kami meminta generasi muda untuk membantu mereka dalam kontak sosial melalui video dan fungsi-fungsi seperti Skype, atau telepon saja," ujarnya.

Birx yang juga berpengalaman melawan HIV dan Ebola kembali menegaskan agar anak-anak muda tidak pergi keluar rumah. Pasalnya, meski mereka lebih tahan terhadap virus, tetapi anak muda masih bisa menyebarkannya ke lansia yang lebih rentan.

"Kami meminta para generasi muda berhenti keluar ke tempat-tempat publik seperti bar, restoran, dan menyebar virus tanpa gejala di counter, gagang pintu, tempat belanja, dan kereta belanja," pungkas Dr. Birx.

3 dari 3 halaman

Saksikan Video Pilihan Berikut Ini:

Lanjutkan Membaca ↓