Benarkah Kebiasaan Jalan Cepat Pertanda Orang Tak Bahagia?

Oleh Teddy Tri Setio Berty pada 03 Mar 2020, 20:40 WIB
Diperbarui 03 Mar 2020, 20:40 WIB
Ilustrasi jalan kaki
Perbesar
Ilustrasi (iStock)

Liputan6.com, Jakarta - Benarkah jalan kaki dengan tempo serta langkah yang begitu cepat merupakan pertanda bahwa seseorang itu tidak bahagia?

Meski berjalan kaki pada umumnya dianggap sebagai sebuah aktivitas yang menyehatkan, namun cepat atau lambatnya seseorang berjalan kaki diyakini bisa menggambarkan kondisi mental seseorang.

Dikutip dari laman Brightside.me, Senin (2/3/2020), terlepas dari kenyataan bahwa berjalan cepat adalah sebuah gaya hidup seseorang namun, sebuah studi melakukan penelitian di 32 negara yang warganya memiliki kecepatan dalam berjalan.

Eksperimen menarik dilakukan oleh Profesor Richard Wiseman telah menghitung berapa lama waktu yang dibutuhkan 35 pria dan 35 wanita untuk berjalan di trotoar sambil memegang telepon seluler dan berjuang dengan tas belanja.

Dalam penelitian itu mengungkapkan bahwa seseorang yang cenderung berjalan cepat terutama saat sedang menelepon atau membalas email, adalah seseorang yang kerap mengabaikan untuk merawat dirinya sendiri.

Oleh karenanya, Richard Wiseman mengimbau agar seseorang mampu menyelaraskan langkah kakinya dengan aktivitas multitasking yang tengah ia lakukan saat sedang jalan kaki.

2 dari 2 halaman

Ini Ciri-Ciri Orang yang Suka Berjalan Cepat

Ilustrasi jalan kaki olahraga untuk orang dengan nyeri lutut (iStock)
Perbesar
Ilustrasi jalan kaki olahraga untuk orang dengan nyeri lutut (iStock)

Ia juga menjelaskan ciri-ciri orang yang punya kecenderungan berjalan kaki secara cepat. Sehingga orang tersebut bisa menyadari apakah mereka tergolong dalam seseorang tersebut.

Pertama, Anda adalah orang pertama yang kerap menghabiskan makanan dan bergegas pergi berjalan kaki.

Kedua, Anda merasa frustasi apabila terjebak di belakang orang lain saat berjalan kaki.

Ketiga, Anda merasa mudah tersinggung apabila ada yang tengah menghalangi langkah kaki Anda yang sedang terburu-buru.

Tidak ada hal buruk tentang multitasking, tetapi psikolog mengatakan ketika kualitas ini menjadi kronis, itu tidak selalu mengarah pada penggunaan waktu yang paling efektif. Anda hanya membebani diri sendiri dengan hal-hal yang harus dilakukan.

Lanjutkan Membaca ↓

Tag Terkait