Harga Daging Babi di China Meroket Akibat Virus Corona

Oleh Tommy Kurnia pada 10 Feb 2020, 16:39 WIB
Diperbarui 10 Feb 2020, 16:46 WIB
Ilustrasi babi

Liputan6.com, Beijing - Harga daging babi di China pada awal 2020 meroket 116 persen dibandingkan Januari tahun lalu. Penyebaran Virus Corona menjadi salah satu alasannya.

Dilaporkan CNBC, Senin (10/2/2020), harga daging babi di China memang biasanya naik ketika Imlek, namun Biro Statistik Nasional China menyebut kenaikan awal tahun ini juga akibat merebaknya Virus Corona.

Ekonom menganggap virus itu membuat disrupsi rantai makanan. Pembeli di China yang menimbun produk pangan turut membuat harga naik. Padahal, sesudah Imlek harga biasanya menurun.

"Sepertinya disrupsi persediaan dan penimbunan akibat penyebaran Virus Corona membuat harga makanan naik selama minggu usai Tahun Baru China ketika pada normalnya harga-harga kembali turun," ujar Julian Evans-Prtichard, ekonom senior dari Capital Economics.

Naiknya harga daging babi membuat harga pangan naik 20,6 persen pada Januari ini keitmbang periode yang sama sebelumnya. Secara keseluruhan, tingkat inflasi konsumen naik 5,4 persen.

Menurut laporan Market Watch, kenaikan itu adalah yang tertinggi sejak 2011. Angka 5,4 persen lebih tinggi dari prediksi para ekonom di polling Wall Street Journal. Prediksi median para ekonom sebesar 4,9 persen.

Inflasi di provinsi Hubei, asal dari Virus Corona, tercatat lebih tinggi yaitu 5,5 persen. Pertumbuhan ekonomi China pada kuartal I 2020 pun diperkirakan lesu akibat Virus Corona.

2 dari 3 halaman

Dubes China Pastikan Dampak Ekonomi dari Virus Corona Hanya Jangka Pendek

Bendera China
Ilustrasi (iStock)

 Virus Corona yang menjadi ancaman dunia saat ini ternyata tidak hanya menjadi gangguan di dunia kesehatan namun juga pariwisata, terutama ekonomi. Hal tersebut telah dikonfirmasi Menteri Keuangan Sri Mulyani Indrawati yang telah menyebut bahwa meluasnya Virus Corona berdampak besar pada pertumbuhan ekonomi China.

Sebab, isu yang dihembuskan saat ini menimbulkan pesimisme terhadap kondisi ekonomi global, khususnya China. "Mereka (China) kehilangan kuartal I momentum growth," kata Sri Mulyani di Jakarta, Rabu 29 Januari.

Sri Mulyani menilai Virus Corona yang terjadi mempengaruhi beberapa negara-negara yang menjadi hub trafic. Dengan tidak adanya kejelasan terhadap penyakit ini kemudian akan merespons ketidakpastian yang menimbulkan dampak utama terhadap ekonomi China.

Namun, Duta Besar Tiongkok untuk Indonesia, Xiao Qian memiliki pandangan sebaliknya. Xiao mengatakan bahwa dampak ekonomi yang ditimbulkan hanyalah merupakan dampak jangka pendek.

"Nampaknya itu hanya bersifat jangka pendek saja. Saat ini perkembangan China sedang berada di periode peluang strategis yang penting perkembangan ekonomi, pertangguhan yang kuat, perdinamika yang bagus dan potensi yang besar," paparnya.

Ia kemudian menambahkan bahwa China memiliki dasar ekonomi yang cenderung stabil dan akan terus meningkat. Ia juga yakin bahwa dalam jangka panjang, kenyataan tersebut belum berubah dan tidak akan berubah karena wabah virus corona ini bisa dicegah dan dikontrol. 

"Ketidakstabilan dalam jangka waktu pendek tidak akan mengubah kecenderungan dalam jangka panjang dan tekanan yang sementara tidak akan menghambat dinamika ekonomi yang mendalam. jadi menurut saya, jangan terlalu khawatir," katanya lagi. 

Bersamaan dengan pernyataan tersebut, Dubes Xiao menyampaikan bahwa dalam tahun ini, China akan membangun masyarakat yang berkecukupan secara menyeluruh dan semakin komprehensif memperdalam reformasi. Negara Tirai Bambu itu juga terus akan memperluas keterbukaan dan mendorong kerja sama ekonomi serta perdagangan untuk mendapat perkembangan yang lebih maju lagi.

China juga telah berkomitmen untuk terus melakukan segala upaya dalam menstabilkan ekonomi negara. 

3 dari 3 halaman

Saksikan Video Pilihan Berikut Ini:

Lanjutkan Membaca ↓