Uni Eropa Suntik Rp 108 Miliar Agar ASEAN Siap Lawan Bencana Alam

Oleh Tommy Kurnia pada 27 Jan 2020, 13:35 WIB
Diperbarui 27 Jan 2020, 13:35 WIB
Penampakan Banjir di Pool Taksi Blue Bird Kramat Jati

Liputan6.com, Jakarta - Uni Eropa (UE) mendorong kapasitas negara-negara ASEAN untuk saling berkoordinasi di kala bencana alam. Biaya sebesar 10 juta euro disalurkan kepada ASEAN Coordinating for Humanitarian Assistance on Disaster Management (AHA Centre).

Direktur Eksekutif AHA Centre Adelina Kamal berkata ASEAN memiliki kekuatan untuk saling membantu melawan kondisi bencana. AHA Centre berupaya memudahkan mobilisasi lintas negara.

AHA Centre pun menggelar pelatihan antar negara dalam mitigasi bencana alam, serta memiliki persediaan bantuan yang tersebar di tiga negara ASEAN.

"AHA Centre di Jakarta, tetapi ada regional stockpiles di tiga tempat: Di Malaysia, Filipina, dan Thailand. Jadi kalau yang di Thailand bencana enggak perlu jauh-jauh dari Malaysia, atau kalau Mekong region kena bencana bisa mengirim dari Thailand," ujar Adelina di Sekretariat ASEAN, Jakarta, Senin (27/1/2020).

Kerja sama Uni Eropa, ASEAN, dan AHA Centre. Dok: Tommy Kurnia/Liputan6.com

Persediaan AHA Centre berupa bantuan non-pangan seperti tenda ukuran besar, perahu karet, hingga generator.

Suntikan dana dari Uni Eropa disusun untuk membantu persediaan dan pengembangan SDM AHA Centre. Saat ini dana yang diberikan sudah sejumlah 7,2 euro atau Rp 108 miliar.

"Jadi 7,2 juta euro untuk 5 tahun. Yang sudah disetujui program empat tahun dulu dan ada kemungkinan tambah lagi," jelas Adelia. Proses penganggaran juga dipantau dengan detail oleh Uni Eropa.

ASEAN menjadi fokus Uni Eropa karena daerah ini rentan terkena bencana alam. AHA Centre mencatat lebih dari 50 persen kematian global terjadi di wilayah ASEAN pada 2004-2014.

AHA Centre juga bekerja sama dengan badan penanggulangan bencana dan militer di berbagai negara. Persediaan bantuan pun dikirim dengan pesawat militer.

Duta Besar Uni Eropa untuk ASEAN Igor Igor Driesmans percaya potensi AHA Centre masih bisa terus berkembang. Ia yakin program ini bisa memperkuat diplomasi, sekaligus meminta wilayah ASEAN makin sadar bencana alam akibat perubahan iklim.

"Program ini merupakan testimoni solidaritas ganda antara negara-negara ASEAN dan ASEAN dan Uni Eropa," ucap Igor.

"Izinkan saya menambahkan bahwa kita sebagai masyarakat global harus memahami bencana akibat iklim, serta mengajukan mitigasi bencana akibat iklim," pungkas Igor yang turut menyinggung "mega flooding" di Jakarta.

2 dari 3 halaman

Bagaimana dengan Wabah Wuhan dan Rohingya?

Sekitar 200.000 Rohingya berunjuk rasa di kamp pengungsian Bangladesh memperingati 'Hari Genosida'. (AFP)
Sekitar 200.000 Rohingya berunjuk rasa di kamp pengungsian Bangladesh memperingati 'Hari Genosida'. (AFP)

Terkait pertolongan kemanusiaan masalah lain seperti virus Corona Wuhan yang menjadi krisis di China atau isu Rohingya, pihak AHA berkata siap menolong. Namun, mereka butuh kesepakatan antar ASEAN dahulu.

"Wuhan belun masuk ke dalam karena kita butuh expertise yang khusus," jelas Adelina.

"Kalau nanti ternyata AHA Centre disuruh bantu tetapi dalam kapasitasnya, AHA Centre punya stockpile Filipina, Thailand, Malaysia, itu bisa di-mobilize," lanjutnya.

Hal yang sama berlaku bagi konflik Rohingya. Adelina berkata tugas AHA Centre tidak masuk ranah rekonsiliasi, akan tetapi pihaknya telah melaksanakan asesmen terkait konflik tersebut.

Dubes Igor berkata pihak Uni Eropa akan berupaya melakukan kerja sama dengan negara-negara ASEAN terkait isu Rohingya pada tahun ini.

"Kita akan melihat dalam beberapa bulan ke depan untuk melihat bagaimana Uni Eropa dan ASEAN bisa menolong dalam isu ini," ujarnya.

(1 euro = Rp 15.004)

3 dari 3 halaman

Saksikan Video Pilihan di Bawah Ini:

Lanjutkan Membaca ↓