Demokrat Tuduh Donald Trump Terlibat Skema Korupsi Pemilu 2020

Oleh Liputan6.com pada 24 Jan 2020, 16:01 WIB
Diperbarui 24 Jan 2020, 16:01 WIB
Presiden AS, Donald Trump

Liputan6.com, Washington D.C - Partai Demokrat di DPR AS, Rabu (22/1/2020), menuduh Presiden Donald Trump merancang "skema korupsi" untuk menekan Ukraina agar menyelidiki saingan politiknya, mantan Wakil Presiden Demokrat Joe Biden, karena satu alasan "berlaku curang" untuk memenangkan pemilihannya kembali tahun ini.

Anggota Kongres Adam Schiff kepada 100 senator AS yang bertindak sebagai juri dalam persidangan presiden terkait dua pasal pemakzulan mengatakan "Presiden telah menunjukkan ia yakin di atas hukum dan tercela". Demikian seperti dikutip dari VOA Indonesia, Jumat (24/1/2020).

Schiff, seorang Demokrat yang berbicara di awal argumen selama tiga hari untuk memvonis Trump dan memecatnya dari jabatan mengatakan, Presiden ke-45 negara itu meminta "bantuan dari luar negeri untuk membantu dirinya secara politik di dalam negeri."

Di tengah-tengah kasus ini, Schiff, manajer utama DPR yang menuntut Trump, mengatakan Presiden menahan $391 juta bantuan militer yang disetujui kongres untuk Ukraina, "negara yang berperang dengan Rusia."

 

2 of 3

Pelanggaran Trump

Ekspresi Donald Trump Saat Hadiri National Prayer Breakfast
Ekspresi Presiden AS Donald Trump saat menghadiri National Prayer Breakfast atau Sarapan Doa Nasional di sebuah hotel di Washington DC (8/2). (AFP Photo/Mandel Ngan)

Trump kemudian menekan Presiden Ukraina Volodymyr Zelenskiy untuk menyelidiki Biden, pekerjaan putranya, Hunter Biden di perusahaan gas alam Ukraina, dan mengajukan teori yang telah dibantah bahwa Ukraina ikut campur dalam pemilihan AS 2016 untuk merugikan kampanye Trump.

"Ia menggunakan kekuasaan negara yang hanya tersedia baginya," kata Schiff, ketua Komite Intelijen Dewan, yang berpendapat tindakan Trump "melanggar sumpah suci jabatannya."

Schiff mengatakan, tawaran Trump kepada Zelenskiy sama dengan meminta seorang pemimpin asing "untuk melakukan pekerjaan kotor politiknya," ketika ia menghadapi pemilihan nasional November mendatang, kemungkinan melawan Joe Biden, yang unggul pada jajak pendapat nasional para pemilih Partai Demokrat untuk pencalonan presiden dari partai itu.

3 of 3

Saksikan Video Pilihan di Bawah Ini:

Lanjutkan Membaca ↓