Prajurit Yaman Diserang Rudal Pasukan Houthi Saat Sedang Salat

Oleh Tommy Kurnia pada 20 Jan 2020, 13:01 WIB
Diperbarui 20 Jan 2020, 13:01 WIB
Sekumpulan tentara Uni Emirat Arab berpatroli di wilayah konflik Yaman (AFP/Saleh Al Obeidi)

Liputan6.com, Sana'a - Konflik antara pemberontak Syiah Houthi dan pemerintah Yaman kembali membara pada Minggu, 19 Januari. Korban pun termasuk jamaah yang sedang salat di kamp prajurit Yaman.

Dilaporkan Al Jazeera, Senin (20/1/2020), serangan Houthi menewaskan setidaknya 73 orang dan melukai lusinan orang lainnya. Senjata yang digunakan termasuk rudal balistik dan drones.

Laporan Al Jazeera menyebut ada tiga misil yang menghantam kamp yang berlokasi di Marib ini. Jumlah korban pun diperkirakan terus bertambah.

Saluran TV Al Hadath milik Arab Saudi menampilkan tayangan berdarah sesudah serangan terjadi. Potongan-potongan bagian tubuh terlihat di lantai, darah tergenang di karpet dan turut membahasi tembok.

Presiden Yaman, Mansour Hadi, memberikan pernyataan mengecam kelakuan Houthi. Ia berkata serangan ini bukti bahwa pasukan Houthi tidak punya keinginan berdamai.

"(Pasukan Houthi) adalah alat murahan milik Iran di wilayah ini," ujar Presiden Mansour.

Pasukan Houthi tercatat mendapat bekingan dari Jenderal Qasem Soleimani yang awal 2020 baru saja ditewaskan drone Amerika Serikat (AS) atas perintah Presiden Donald Trump.

Pasukan Houthi membantah mereka adalah boneka Iran dan berkata mereka melawan sistem korup. Sementara, utusan PBB untuk Yaman, Martin Griffiths, mengecam serangan tersebut karena merusak kedamaian di Yaman yang notabene rapuh.

"Progres berat yang telah Yaman buat untuk melakukan de-eskalasi amatlah rapuh. Tindakan seperti itu dapat merusak progres tersebut," ujarnya.

 

2 dari 3 halaman

Perang Saudara, Jutaan Rakyat Jadi Korban

Perang Panjang, 5 Juta Lebih Anak Yaman Terancam Kelaparan Akut
Seorang gadis yang menderita gizi buruk ditimbang di Pusat Kesehatan Aslam di Hajjah, Yaman, 25 Agustus 2018. Kelaparan diperparah dengan meningkatnya harga kebutuhan pokok dan turunnya nilai mata uang Yaman akibat konflik. (AP Photo/Hammadi Issa)

Konflik antara Houthi dan Yaman juga tak terlepas dari isu sektarian. Houthi menganut aliran Islam Syiah dan mendapat dukungan dari Iran yang juga negara Syiah. Sementara, Arab Saudi mendukung penuh pemerintah sah Yaman.

Korban dari masyarakat sipil pun berjatuhan akibat aksi kedua pihak. Human Rights Watch mencatat 14 juta warga Yaman berisiko kelaparan akibat koalisi Saudi dan Houthi yang sama-sama kerap memblokir bantuan kemanusiaan. 

Berdasarkan data Council on Foreign Relations (CFR), ada 22,2 juta orang Yaman yang butuh pertolongan kemanusiaan dan ada 2 juta orang yang harus mengungsi. Korban tewas juga sudah mencapai 91.600 orang. 

 

3 dari 3 halaman

Saksikan Video Pilihan di Bawah Ini:

Lanjutkan Membaca ↓