Menteri Lingkungan Jepang Perdana Umumkan Ambil Cuti Melahirkan untuk Ayah

pada 17 Jan 2020, 14:56 WIB
Diperbarui 17 Jan 2020, 15:00 WIB
Shinjiro Koizumi, Menteri Lingkungan Jepang. (AP)

Tokyo - Untuk pertama kalinya, seorang menteri kabinet Jepang secara terbuka mengumumkan akan mengambil cuti ayah (paternity leave) selama dua minggu. Adalah Menteri Lingkungan Jepang Shinjiro Koizumi, yang mengambil langkah tersebut.

Menteri Jepang berusia 38 tahun yang menikah dengan mantan pembawa acara televisi, mengatakan pada pertemuan kementerian bahwa tidak mudah baginya untuk mengambil keputusan agar bisa menyeimbangkan tugasnya. Yakni sebagai menteri dan menghabiskan waktu bersama bayinya yang baru lahir.

"Saya ingin mengambil cuti selama dua minggu secara fleksibel, dengan membuat pengecualian untuk tugas-tugas publik yang penting," katanya, seraya menambahkan dia berharap keputusannya akan membantu mengubah persepsi dan mendorong ayah lain untuk mengikutinya seperti dikutip dari DW Indonesia, Jumat (17/1/2020).

Menteri Lingkungan Jepang itu tidak akan mengambil cuti berminggu-minggu selama berturut-turut dan berharap bisa bekerja secara jarak jauh atau mengurangi jam kerja per hari selama periode cuti, yang akan tersebar selama lebih dari tiga bulan sejak kelahiran anaknya.

 

2 dari 3 halaman

Mendapat Dukungan

[Bintang] Bendera Jepang
Bendera Jepang (via onlinestores.com)

Juru bicara utama pemerintah Jepang mendukung langkah tersebut, dengan mengatakan "penting untuk menciptakan suasana tempat kerja yang kondusif serta memberi dukungan bagi para pria yang meminta dan mengambil cuti mengurus anak."

Kepala Sekretaris Kabinet Yoshihide Suga mengatakan kepada wartawan bahwa dia berharap keputusan Koizumi akan berdampak positif pada sikap para ayah.

Tidak ada catatan resmi tentang apakah ada menteri kabinet sebelumnya yang juga mengambil cuti ayah, tetapi Koizumi adalah yang pertama mengumumkan kepada publik bahwa dia melakukan hal itu.

Koizumi, putra dari mantan perdana menteri, diangkat sebagai menteri lingkungan dalam perombakan kabinet pada bulan September, menjadi menteri termuda ketiga di Jepang sejak akhir Perang Dunia II.

Secara hukum, Jepang menawarkan cuti bagi orangtua yang hendak mengurus anak yang baru lahir dengan kondisi yang relatif baik kepada para pekerja. Kedua orang tua dapat mengambil cuti selama satu tahun, dengan periode enam bulan yang dapat diperpanjang jika tempat penitipan anak tidak tersedia.

3 dari 3 halaman

Saksikan Video Pilihan di Bawah Ini:

Lanjutkan Membaca ↓