Ilmuwan AS Ciptakan Batu Bata Hidup untuk Bangunan di Mars

Oleh Raden Trimutia Hatta pada 16 Jan 2020, 19:10 WIB
Diperbarui 16 Jan 2020, 19:10 WIB
Batu bata hidrogel-pasir ini tidak hanya hidup, tetapi juga bereproduksi. (College of Engineering and Applied Science at Colorado University Boulder)

Liputan6.com, Jakarta Material "hidup" ramah lingkungan yang terbuat dari pasir dan bakteri berhasil diciptakan Tim ilmuwan di Amerika Serikat (AS). Material berupa batu bata itu memiliki fungsi biologis sekaligus mampu menahan beban struktural.

Penelitian tersebut, yang diterbitkan di jurnal Matter pada Rabu 15 Januari, menjabarkan sebuah perancah yang terbuat dari pasir dan hidrogel untuk tempat tumbuhnya bakteri.

Hidrogel mempertahankan kelembapan dan nutrien bagi bakteri sehingga dapat berkembang biak dan melakukan mineralisasi, sebuah proses yang mirip dengan pembentukan kerang laut di lautan.

Batu bata hidrogel-pasir ini tidak hanya hidup, tetapi juga bereproduksi. Dengan cara memecah satu batu bata menjadi dua bagian, bakteri di dalamnya dapat tumbuh dan berkembang menjadi dua batu bata utuh melalui bantuan pasir tambahan, hidrogel, dan nutrien, demikian ungkap penelitian ini.

 

2 of 3

Cocok untuk Bangunan di Gurun dan Mars

Planet Mars. (iStockphoto)
Planet Mars. (iStockphoto)

Batu bata "hidup" ini juga bisa digunakan untuk membangun struktur-struktur di tempat yang memiliki sumber daya terbatas, misalnya di gurun atau bahkan planet lain seperti Mars.

Para peneliti mendemonstrasikan satu batu bata induk dapat memperbanyak diri menjadi hingga delapan batu bata setelah tiga generasi, yang menunjukkan kemampuan eksponensial dalam manufaktur bahan.

"Kami menggunakan sianobakteri fotosintetis untuk melakukan biomineralisasi perancah tersebut, sehingga batu bata ini benar-benar ramah lingkungan," sebut penulis senior makalah ilmiah ini, Wil Srubar dari Universitas Colorado Boulder, seperti dilansir Xinhua, Kamis (16/1/2020).

Metode tersebut memberikan alternatif yang ramah lingkungan untuk material bangunan modern, karena beton menjadi material yang paling banyak dikonsumsi kedua di Bumi setelah air.

Tim pimpinan Srubar ingin menggabungkan berbagai bakteri fungsional dengan platform bahan bangunan guna menciptakan bahan baru yang memiliki fungsi biologis, misalnya bahan yang dapat mengetahui dan merespons keberadaan toksin di udara. 

3 of 3

Saksikan video pilihan di bawah ini:

Lanjutkan Membaca ↓