Reynhard Sinaga Divonis Penjara Seumur Hidup dalam 159 Kasus Perkosaan Pria di Inggris

Oleh Raden Trimutia Hatta pada 06 Jan 2020, 21:01 WIB
Diperbarui 06 Jan 2020, 21:01 WIB
Keluarga Serahkan Pelaku Pemerkosaan Siswi SMP Deli Serdang ke Polisi
Perbesar
Ilustrasi pencabulan. Foto: Ist/Kriminologi.id

Liputan6.com, Jakarta Seorang pria asal Indonesia, Reynhard Sinaga (36) divonis bersalah dalam 159 kasus perkosaan dan serangan seksual terhadap 48 korban pria di Manchester, Inggris. Di antara 159 kasus tersebut terdapat 136 perkosaan, di mana sejumlah korban diperkosa berkali-kali selama 2,5 tahun.

Modusnya, Reynhard membujuk para korban ke apartemenya dengan kedok sebagai "good Samaritan", lalu membiusnya kemudian melecehkan secara seksual setelah mereka pingsan.

Wakil kepala penuntut, Ian Rushton dalam persidangan, Senin (6/1/2020), menyebut Reynhard sebagai "pemerkosa dengan korban paling banyak dalam sejarah hukum Inggris". Dia terbukti telah melakukan 159 pelanggaran, termasuk 136 perkosaan, yang difilmkannya di dua ponsel.  Polisi belum mengidentifikasi 70 korban lainnya.

Reynhard pun dijatuhi hukuman penjara seumur hidup dengan jangka waktu minimal 30 tahun.

Dia mengklaim para korbannya menikmati memerankan fantasi seksualnya selama hubungan intim, tetapi pembelaan itu digambarkan sebagai "menggelikan" dan ditolak dengan suara bulat oleh empat juri pengadilan di pengadilan Manchester.

Dalam rekaman video yang jadi barang bukti, banyak dari pria yang menjadi korbannya terdengar mendengkur saat diperkosa. Seorang korban mengatakan kepada pengadilan bahwa ia menunjukkan kepada Reynhard foto scan bayinya yang belum lahir sebelum jatuh pingsan. Pengakuan itu menepis pernyataan Reynhard bahwa korban menyetujui apa yang diklaimnya sebagai "Fifty Shades of grey-type stuff".

Reynhard yang pindah ke Inggris pada tahun 2007 pada usia 24 tahun, sebagian besar memangsa para pelajar pada usia belasan atau awal 20-an.  Mereka biasanya pergi ke pusat kota Manchester "tidak menginginkan apa pun selain malam yang baik bersama teman-teman mereka," kata hakim Suzanne Goddard QC.

 

2 dari 4 halaman

Modus

ICJR Ungkap Kejanggalan Vonis Korban Perkosaan Terkait Aborsi di Jambi
Perbesar
Ilustrasi vonis hakim, Foto: Istimewa

Pengadilan mendengar Reynhard memiliki formula yang telah diuji untuk menemukan korbannya di luar klub dalam beberapa menit berjalan kaki dari flatnya di Princess Street, pusat kota Manchester.

Dia akan pergi setelah tengah malam untuk menunggu di luar klub, biasanya Factory atau Fifth, dan memangsa sebagian besar pemuda heteroseksual yang telah diusir penjaga atau kehilangan teman mereka.  Beberapa tidak punya uang untuk naik taksi ke rumah atau baterai ponsel mereka habis, sementara yang lain sakit.

Semua dalam keadaan mabuk ketika mereka didekati Reynhard yang berperawakan kecil dan tersenyum dalam kacamata berbingkai hitam, seperti tampak tidak berbahaya. Dia kemudian bertanya kepada para korbannya apakah mereka ingin ke apartemennya dan tidur di lantai atau minum-minum lagi, mereka sepakat.

Para juri diberi tahu bahwa Reynhard menyimpan barang-barang pria sebagai piala dan melihatnya di Facebook. Dia mengirim pesan singkat ke seorang teman untuk membual tentang satu korban: "Dia lurus pada tahun 2014. 2015 adalah terobosannya ke dunia gay hahaha."

 

3 dari 4 halaman

Terbongkar

Ilustrasi Pemerkosaan
Perbesar
Ilustrasi Pemerkosaan (Liputan6.com/Andri Wiranuari)

Aksi Reynhard terbongkar ketika salah satu korbannya terbangun saat diperkosa, kemudian menelepon 999 pada 2 Juni 2017. Polisi percaya Reynhard akan melanjutkan aksinya jika saja saat itu korbannya tidak terbangun.

Setelah penangkapan Reynhard, polisi menemukan film pada dua iPhone yang memperlihatkan dia memperkosa sejumlah pria muda yang tampaknya sedang tidur. Ketika polisi Greater Manchester memeriksa perangkat digitalnya, mereka menemukan materi 3,29TB setara dengan 250 DVD atau 300.000 foto yang menggambarkan serangan seksual berlangsung dalam satu kasus selama delapan jam.

Setiap kali korban tersadar, Reynhard akan mendorong mereka kembali ke lantai untuk melanjutkan serangan atau mengambil teleponnya untuk menghindari kecurigaan.  Hanya sedikit yang tahu bahwa mereka telah diperkosa sampai polisi mengetuk pintu mereka beberapa tahun kemudian.

Hasil penyelidikan polisi mengidentifikasi 195 korban, yang semuanya tidak sadar ketika Reynhard melecehkan mereka. Penyelidik tidak pernah menemukan obat yang dia gunakan untuk melumpuhkan korbannya.

Tetapi para ahli mengatakan kepada juri bahwa mereka percaya para korban pasti telah diberi obat bius, mungkin dengan asam gamma-hydroxybutyric - dikenal sebagai GHB - atau sesuatu dengan efek yang sangat mirip.  Bahkan dalam jumlah serendah 1ml, GHB dapat membuat seseorang tidak sadar.

Para korban menggambarkan bagaimana karier dan hubungan pribadi mereka menderita akibat pelecehan tersebut. Beberapa mengatakan mereka telah beralih ke alkohol dan menjadi terisolasi secara sosial, bahkan tidak dapat memberi tahu kerabat atau teman dekat tentang apa yang terjadi.

Seorang remaja menggambarkan Reynhard sebagai "predator jahat" dan "monster tak berwajah", bahkan mengatakan pada hari ia diberitahu polisi bahwa telah diperkosa "mengubah hidup saya selamanya".  Dia mengatakan mulai banyak minum alkohol dan mengalami serangan panik, dianggap membahayakan diri sendiri, bahkan meninggalkan sekolah.

4 dari 4 halaman

Saksikan video pilihan di bawah ini:

Lanjutkan Membaca ↓

Live Streaming

Powered by