Kebakaran Australia Tewaskan Setengah Miliar Hewan

Oleh Liputan6.com pada 06 Jan 2020, 14:08 WIB
Diperbarui 08 Jan 2020, 13:13 WIB
Puluhan Koala Berhasil Diselamatkan dari Kebakaran Hutan Australia

Liputan6.com, Australia - Hampir setengah miliar hewan di negara bagian New South Wales Australia telah terbunuh oleh kebakaran hebat yang mengamuk dalam beberapa bulan terakhir.

Jumlah korban jiwa diperkirakan akan meningkat.

Sekitar 480 juta atau hampir setengah miliar mamalia, burung, dan reptil telah terkena dampak sejak kebakaran hutan yang dimulai pada September 2019, menurut ahli ekologi dari University of Sydney, dilansir CNBC.

Ahli ekologi tersebut juga menambahkan bahwa jumlah sebenarnya kemungkinan jauh lebih tinggi.

Kebakaran hutan telah mengubah Australia tenggara menjadi negara yang terbakar hangus saat negara itu sedang menghadapi musim kebakaran dahsyat. Kebakaran itu diperkirakan akan semakin memburuk saat bulan-bulan musim panas terus berlanjut.

Rekor suhu tinggi dan kekeringan yang diperburuk oleh perubahan iklim, telah menyulut api yang telah menghancurkan lebih dari 1.000 rumah dan sembilan juta hektar serta menewaskan 18 orang.

Api yang diperkirakan sebagai yang terburuk pada akhir pekan ini, membuat seluruh spesies di Australia terancam musnah di mana Australia juga telah memiliki tingkat kepunahan tertinggi di dunia.

2 dari 4 halaman

Api Membunuh Koala, Walabi, Wombat, dan Kanguru

Seekor walabi menjilati cakarnya yang terbakar
Seekor walabi menjilati cakarnya yang terbakar setelah melarikan diri dari kebakaran hutan di Liberation Trail dekat kota Nana Glen di Mid North Coast NSW. (Liputan6/CNBC/Getty Images)

Gambar di media sosial menunjukkan koala yang terbakar hangus sedang menerima pertolongan medis. Ada pula mayat hewan yang terbaring di tanah dan kanguru yang mati-matian berlari dari api.

Para ahli mengatakan api kemungkinan telah membunuh jutaan hewan termasuk koala, walabi, wombat dan kanguru.

"Banyak hewan yang terkena dampak kemungkinan telah dibunuh secara langsung oleh api, dengan yang lain menyerah karena menipisnya sumber makanan dan tempat tinggal serta pemangsaan dari kucing liar dan rubah merah," kata ahli ekologi Universitas Sydney dalam sebuah pernyataan hari Jumat (3/1/2020).

Sekitar 34 spesies dan upaspesies mamalia asli telah punah di Australia selama 200 tahun terakhir.

3 dari 4 halaman

Populasi Hewan Berkantung Menurun

Koala yang mengalami dehidrasi dan cedera menerima perawatan di Rumah Sakit Port Macquarie Koala
Koala yang mengalami dehidrasi dan cedera menerima perawatan di Rumah Sakit Port Macquarie Koala di Port Macquarie pada 2 November 2019, setelah penyelamatan dari kebakaran hutan yang telah merusak area seluas lebih dari 2.000 hektar. (Liputan6/CNBC/Getty Images)

Populasi koala Australia yang sudah menurun dan rentan diserang, sudah sangat hancur akibat kebakaran. Pejabat pemerintah memperkirakan bahwa 30% spesies di wilayah itu mungkin telah mati.

Para ahli ekologi memperkirakan bahwa sekitar 8.000 koala telah mati sejak kebakaran dimulai, karena hewan yang bergerak lambat sehingga tidak dapat melepaskan diri dari kobaran api.

Hewan berkantung adalah salah satu hewan paling ikonik di negara Australia, dan telah menyumbang antara $ 1,1 miliar hingga $ 2,5 miliar per tahun untuk pariwisata di Australia, berdasarkan data pemerintah.

“30% dari koala di wilayah ini mungkin telah terbunuh, karena 30 persen dari habitat mereka telah dihancurkan,” Menteri Lingkungan Federal Australia, Sussan Ley, mengatakan kepada Australian Broadcasting Corporation minggu lalu. “Kami akan mengetahui lebih banyak ketika api sudah tenang dan penilaian yang tepat dapat dilakukan.”

Gambar koala yang terbakar mendorong orang dalam mendukung Gofundme—situs donasi yang membantu koala—untuk Rumah Sakit Port Macquarie Koala Australia.

Rumah sakit telah menerima lebih dari $ 2 juta dalam donasi sejak September, tetapi masih berjuang untuk merawat koala yang terluka.

Profesor Universitas Sydney, Dieter Hochuli, mengatakan bahwa kebakaran hutan sementara merupakan bagian normal dari ekosistem Australia secara tradisional. Peningkatan frekuensi dan intensitas memiliki konsekuensi besar bagi masa depan tanaman dan hewan.

“Ini bukan hanya spesies karismatik yang terkenal dan juga berisiko. Serangga yang sangat banyak pada ekosistem kita, bergantung pada layanan seperti penyerbukan dan siklus nutrisi sangat peka terhadap api,” katanya.

“Salah satu yang tidak diketahui adalah bagaimana jika itu semua, populasi mereka dan layanan yang mereka berikan akan memulihkan.”

 

Reporter: Deslita Krissanta Sibuea

4 dari 4 halaman

Saksikan video pilihan di bawah ini:

Lanjutkan Membaca ↓