Qasem Soleimani Tewas, Houthi Yaman Akan Serang Pangkalan Militer AS

Oleh Liputan6.com pada 05 Jan 2020, 16:04 WIB
Diperbarui 07 Jan 2020, 15:13 WIB
Masyarakat Iran melakukan protes usai kematian Jenderal Militer Qasem Soleimani.

Liputan6.com, Jakarta Jenderal Militer Iran Qasem Soleimani tewas dalam serangan udara yang diluncurkan Amerika Serikat. Kelompok pemberontak Houthi Yaman menyerukan penyerangan terhadap pangkalan militer Amerika Serikat (AS) di kawasan itu sebagai aksi balasan.

Dalam sebuah pernyataan yang disampaikan biro politik kelompok Houthi, para pemberontak itu menganggap pembunuhan Soleimani sebagai "kejahatan perang", seraya mengatakan bahwa "menyerang pangkalan militer Amerika di kawasan itu merupakan satu-satunya solusi yang tersedia."

"Orang-orang di kawasan itu harus menyadari bahwa keamanan dan stabilitas mereka tunduk pada upaya pembebasan hingga pengusiran penjajah Amerika," bunyi pernyataan tersebut.

Mohammed Ali al-Houthi, pemimpin kelompok Houthi, juga sangat mengutuk "pembunuhan Soleimani" dan menyerukan "tanggapan yang cepat dan langsung", seperti dilansir Xinhua, Minggu (5/1/2020).

Papan iklan besar yang memuat gambar Qasem Soleimani terlihat di jalan-jalan utama di Sanaa, Ibu Kota Yaman yang dikuasai Houthi.

 

2 dari 3 halaman

Pemerintah Yaman Dukung Serangan AS

Seorang bocah laki-laki memegang foto Qasem Soleimani dalam acara pemakamannya.
Seorang bocah laki-laki memegang foto Qasem Soleimani dalam acara pemakamannya. (Source: AP/ Vahid Salemi)

Sementara itu, para pejabat pemerintah Yaman yang disokong Arab Saudi mengutarakan dukungannya terhadap pembunuhan Soleimani dan menganggap langkah AS tersebut sebagai "langkah penting untuk mengakhiri konflik di kawasan itu."

"Keterkejutan dan air mata yang ditunjukkan oleh para anggota Houthi di Sanaa pascapembunuhan Soleimani mengonfirmasi apa yang kami katakan tentang hubungan mereka dengan Iran," kata Menteri Informasi Yaman Muammar Iryani di akun Twitter resminya.

"Posisi kelompok Houthi tidak mewakili rakyat Yaman," tambahnya, yang merujuk pada pembunuhan Soleimani sebagai "langkah untuk merongrong kebijakan hegemoni Iran."

Sebelumnya pada hari yang sama, seorang pejabat militer senior Yaman yang propemerintah mengatakan "serangan militer yang dipersiapkan dengan baik" telah menewaskan seorang komandan penting kelompok Houthi bernama Abdul-Ridha Shahlay di Sanaa.

"Pemimpin Houthi yang terbunuh itu merupakan salah satu sosok paling dicari di Yaman dan kawasan," tambahnya, tanpa menyebutkan rincian tentang operasi tersebut.

Pada Jumat 3 Januari, Qasem Soleimani, komandan Pasukan Quds dari Korps Garda Revolusi Islam (Islamic Revolution Guards Corps) Iran, dan Abu Mahdi al-Muhandis, wakil kepala pasukan paramiliter Hashd Shaabi Irak, tewas dalam serangan droneyang dilancarkan AS di dekat bandar udara Baghdad, memicu kemarahan sejumlah partai dan politisi Irak.

Pada Oktober 2015, pemerintah Yaman yang diakui secara internasional mengumumkan pemutusan semua hubungan diplomatik dan politik dengan Iran.

Pemerintah Yaman telah berulang kali menuduh Iran mencampuri urusan negaranya dan mendukung kelompok pemberontak Houthi.

Kelompok Houthi mengambil alih Sanaa, ibu kota Yaman, dan beberapa provinsi utara lainnya sejak September 2014.

3 dari 3 halaman

Saksikan video pilihan di bawah ini:

Lanjutkan Membaca ↓