Kisah Harmoni Dua Agama, Saat Keluarga Sikh Sumbang Tanah untuk Bangun Masjid

pada 29 Des 2019, 09:01 WIB
Diperbarui 29 Des 2019, 09:01 WIB
Ilustrasi Masjid (Istimewa)
Perbesar
Ilustrasi Masjid (Istimewa)

New Delhi - Ini adalah contoh kerukunan antar umat beragama. Antara penganut Sikh dan umat Muslim di India.

Adalah keluarga Darshan Singh yang beragama Sikh di India, menerapkan contoh kehidupan dengan toleransi umat beragama yang tinggi. Mereka memberikan tanah kepada warga Muslim Desa Macchike, Distrik Moga, di negara bagian Punjab, untuk lahan pembangunan masjid.

Desa Macchike sebenarnya sudah memiliki masjid yang berusia hampir 200 tahun. Namun masjid itu kemungkinan besar akan dihancurkan untuk proyek pelebaran jalan tol.

Lebih dari setahun yang lalu ketika proyek itu dimulai, keluarga muslim di Desa Machhike, yang tergabung dalam kelompok "Muslim Welfare Society" berusaha mendesak pihak berwenang untuk menyelamatkan masjid tersebut.

Namun, setelah beberapa bangunan yang berlokasi dekat dengan masjid dihancurkan, sejumlah warga muslim mulai mencari tempat alternatif untuk masjid. Mereka juga mendekati perangkat desa, tetapi tidak berhasil.

"Kami khawatir dengan tempat ibadah kami. Hanya dengan 14-15 keluarga muslim di desa yang memiliki populasi lebih dari 7.000 orang, kami tidak memiliki sumber daya untuk membeli tanah, tapi kami juga tidak ingin kehilangan satu-satunya tempat ibadah. Pada titik inilah keluarga Darshan Singh datang sebagai malaikat penolong dan menyumbangkan tanah untuk membangun masjid," ucap Ketua Muslim Welfare Society, Roop Mohammad seperti dikutip dari DW Indonesia, Minggu (28/12/2019).

Harga tanah yang disumbangkan tersebut diperkirakan mencapai 800,000 rupee atau sekitar 11,200 dolar AS.

 

2 dari 3 halaman

Pesantren yang Berdiri Harmonis di Tengah Umat Hindu

Para santriwati Bali Bina Insani melantunkan salawat Al Banjari yang diiringi dengan hadrah dan gamelan
Perbesar
Para santriwati Bali Bina Insani melantunkan salawat Al Banjari yang diiringi dengan hadrah dan gamelan (Liputan6.com/Citra Dewi)

Wujud harmonis hubungan antar agama juga terlihat di Bali. Tepatnya di Pondok Pesantren Bali Bina Insani.

Salawat Al Banjari yang diiringi dengan hadrah dan gamelan, menyambut para peserta dan rombongan Bali Democracy Forum IX hari kedua saat site visit di ponpes yang berlokasi di Tabanan tersebut.

Hadrah dan gamelan yang mengiringi salawat merupakan sebagai bentuk akulturasi. Tak hanya itu, para santri yang tampil mengenakan kemeja bercorak batik dan dilengkapi sarung bali.

Menurut Ketua Yayasan Bali Bina Insani La Royba, Ketut Imanudin Jamal, ponpes yang dipimpinnya adalah lembaga yang mengajarkan kebersamaan dan toleransi atas ciptaan manusia untuk bersaudara.

"Alquran jelas mengatakan bahwa penciptaan manusia untuk saling menyayangi dan memberikan. Di dalam Hadist juga dijelaskan bahwa perbedaan bangsa dan negara adalah sebuah karunia bagi kita," ujar Jamal dalam pidatonya pada Jumat 9 Desember 2016.

Berdasarkan keterangannya, terdapat 16 guru beragama Hindu yang mengajar di Pondok Pesantren Bali Bina Insani. Bahkan di Madrasah Aliyah, 50 persen pengajarnya beragama Islam dan sisanya bergama Kristen.

"Kami biasa di sini antara yang Islam, Hindu, Buddha, dan sebagainya. Betapa indah sebuah perbedaan. Pelangi indah karena warna warni. Taman indah karena tanaman. Plurasime dan kebhinekaan adalah sebuah keniscayaan," kata Jamal.

Ia juga menambahkan, 340 santri dan santriwatinya diajarkan soal Panca Jiwa, yakni keikhlasan, loyalitas, integritas, persaudaraan, kesederhanaan.

Di hadapan para peserta yang berasal dari puluhan negara, Jamal mengungkapkan bahwa di Pondok Pesantren Bali Bina Insani, pluraslime bukanlah sekedar ide tapi sudah menjadi fakta.

"Orang luar berbicara toleransi sebagai sebuah ide dan cita-cita. Tapi di sini adalah sebuah fakta," ujar dia.

Tabanan merupakan sebuah kabupaten di Bali yang wilayahnya terdiri dari Gunung, sawah, dan pantai yang biasa disebut Nyegara Gunung--laut dan gunung satu kesatuan tak terpisahkan.

Menurut Bupati Tabanan, Ni Putu Eka Wiryastuti, Tabanan merupakan tempat bagi Tri Hita Karana, yakni hubungan harmonis antara manusia dengan Sang Pencipta, manusia dengan manusia lain, dan manusia dengan lingkungan.

"Kami sangat bangga karena bisa menjaga harmonis agama di wilayah kami, yang menciptakan kedamaian hudup di antara pemeluk agama berbeda," ujar Wiryastuti.

"Saya mengucapkan terima kasih kepada panitia Bali Democracy Forum yang menjadikan Tabanan sebagai contoh aktivitas mereka," imbuh dia.

3 dari 3 halaman

Saksikan Video Pilihan Berikut Ini:

Lanjutkan Membaca ↓