Arab Saudi Hukum Mati 5 Pembunuh Jurnalis Jamal Khashoggi

Oleh Tommy Kurnia pada 23 Des 2019, 17:23 WIB
Diperbarui 25 Des 2019, 15:13 WIB
Jamal Khashoggi, wartawan Arab Saudi yang hilang sejak 2 Oktober di Istanbul, Turki (AP/Hasan Jamali)

Liputan6.com, Riyadh - Pengadilan di Arab Saudi menjatuhkan hukuman mati untuk lima orang yang terlibat pada pembunuhan jurnalis Jamal Khashoggi tahun lalu. Khashoggi terbunuh ketika mengunjungi konsulat Arab Saudi di Istanbul, Turki.

Dilaporkan BBC, Senin (23/12/2019), pengadilan Arab Saudi berkata kematian brutal Khashoggi adalah akibat dari "operasi di luar kendali". Total ada 11 orang yang diseret ke pengadilan.

Namun, utusan PBB tidak setuju dengan hukuman mati itu karena dianggap tidak sesuai hukum. Pelapor khusus (special rapporteur) juga meminta agar Pangeran Mohammed bin Salman (MbS) turut diperiksa.

September lalu, Pangeran MbS telah menyanggah terlibat pembunuhan Jamal Khashoggi. Namun, ia menyebut dirinya bertanggung jawab dalam kapasitasnya sebagai pemimpin Arab Saudi.

Akan tetapi, PBB tidak percaya bahwa Pangeran MbS tidak terlibat.

"Tidaklah masuk akal bahwa operasi dengan skala seperti ini bisa diterapkan tanpa sepengetahuan putra mahkota (Pangeran MbS)," demikian laporan PBB yang terbit Juni lalu.

Tahun lalu, Kerajaan Arab Saudi juga sudah mengundang anak laki-laki Jamal Khashoggi, yakni Salah, untuk bertemu Raja Salman. Adik Khashoggi yaitu Sahel juga hadir.

Dalam sebuah foto yang beredar, Salah Khashoggi tampak tidak berekspresi saat berjabat tangan dengan Raja Salman dan Pangeran MbS.

2 dari 4 halaman

Tunangan Jamal Khashoggi Sebut Dunia Bertindak Pasif Terhadap Arab Saudi

Anggota asosiasi wartawan Turki-Arab memegang poster dengan foto-foto Jamal Khashoggi, saat mereka mengadakan protes di dekat konsulat Arab Saudi di Istanbul pada Senin, 22 Oktober 2018 (AP/Lefteris Pitarakis)
Anggota asosiasi wartawan Turki-Arab memegang poster dengan foto-foto Jamal Khashoggi, saat mereka mengadakan protes di dekat konsulat Arab Saudi di Istanbul pada Senin, 22 Oktober 2018 (AP/Lefteris Pitarakis)

Tunangan dari jurnalis Saudi yang terbunuh, Jamal Khashoggi mengecam pada Selasa, 3 Desember 2019 mengenai kepasifan komunitas internasional terhadap Arab Saudi, tepat 14 bulan setelah pembunuhan jurnalis tersebut. 

Khashoggi, seorang kontributor Washington Post dan juga merupakan penduduk AS. 

Ia terbunuh pada Oktober 2018 oleh agen-agen Saudi ketika berada di konsulat Arab Saudi di Istanbul untuk mendapatkan dokumen sebelum melangsungkan pernikahan dengan Hatice Cengiz. Demikian dikutip dari Channel News Asia.

Dalam perbincangannya bersama Agnès Callamard, pelapor khusus PBB untuk eksekusi di luar proses hukum, Cengiz menyesalkan bahwa tidak ada tindakan signifikan dari masyarakat internasional sejak sebuah laporan PBB merilis berita tentang pembunuhan yang terjadi pada Juni.

"Ini bukan kasus yang bisa ditutup seperti ini. Bagi saya, pembunuhan Jamal Khashoggi adalah pembunuhan paling tidak manusiawi di era modern," katanya.

"Saya ingin itu terus mengganggu orang. Beberapa orang harus kehilangan jam tidur karenanya," tambahnya.

3 dari 4 halaman

Tersangka Pembunuhan

Raja dan Putra Mahkota Saudi Temui Keluarga Khashoggi
Putra Mahkota Mohammed bin Salman menemui anggota keluarga dari mendiang jurnalis Jamal Khashoggi di Istana Kerajaan Saudi di Riyadh, Selasa (23/10). Dalam pertemuan, keluarga Khasoggi diwakili sang putra, Salah dan saudaranya, Sahel. (Handout/SPA/AFP

Laporan Callamard menemukan bukti yang dapat dipercaya yang menghubungkan Putra Mahkota Saudi Mohammed bin Salman dengan pembunuhan itu.

Callamard, tidak mewakili pihak PBB tetapi melaporkan temuannya ke sana, telah meminta Sekretaris Jenderal PBB Antonio Guterres untuk memulai penyelidikan kriminal internasional ke dalam kasus ini.

"Kami menyerukan penyelidikan internasional, itulah yang saya kerjakan," kata Cengiz.

Callamard menyerukan moratorium ekspor peralatan pengawasan ke Arab Saudi serta sanksi yang menargetkan pejabat senior yang diduga terlibat dalam pembunuhan itu, termasuk Putra Mahkota.

"Uni Eropa, seperti halnya komunitas internasional lainnya, sangat mengecewakan dalam reaksi dan tindakannya terhadap Arab Saudi," kata Callamard, yang berada di Brussels untuk bertemu dengan para pejabat Uni Eropa.

Pakar itu juga menegaskan kembali kritiknya terhadap pertemuan G20 mendatang di Arab Saudi, yang merupakan "kesalahan", dan menyerukan kebebasan pers dan perlindungan hak asasi manusia untuk ditambahkan ke dalam agenda.

4 dari 4 halaman

Saksikan Video Pilihan Berikut Ini:

Lanjutkan Membaca ↓