Pesawat di Alaska Batal Terbang Akibat Serangan Siber

Oleh Tommy Kurnia pada 22 Des 2019, 10:34 WIB
Diperbarui 22 Des 2019, 11:16 WIB
Ilustrasi pesawat (iStock)

Liputan6.com, Anchorage - Maskapai RavnAir asal Alaska terpaksa membatalkan penerbangannya akibat serangan siber ke jaringan komputer mereka. Setidaknya enam pesawat gagal lepas landas pada Sabtu 21 Desember waktu setempat.

Dilaporkan AP News, Minggu (22/12/2019), serangan itu datang di tengah puncak musim liburan menjelang Natal dan Tahun Baru. Juru bicara perusahaan berkata 260 penumpang kena dampak pembatalan ini.

Pesawat yang penerbangannya dibatalkan adalah tipe Dash 8. Serangan dideteksi terjadi pada hari Jumat, namun delay terjadi pada Sabtu hingga pukul 12 siang.

"Serangan siber memaksa kita untuk memutuskan sistem maintenance Dash 8 dan back-up-nya," tulis RavnAir dalam pernyataan.

RavnAir merupakan pesawat level regional yang menjangka wilayah Alaska yang sulit dijangkau transportasi darat. Perusahaan tidak menjelaskan jenis serangan siber yang terjadi, namun mereka sudah menghubungi FBI dan perusahaan kemanan siber untuk memperbaiki sistem.

Penerbangan pun kembali lancar pada Sabtu pukul 1 siang sesuai jadwal. Maskapai pun berusaha menambah agar lebih banyak pesawat yang terbang pada dua hari ke depan.

"Kami akan berusaha sebisa mungkin menambah penerbangan selama dua hari ke depan. Kami melanjutkan usaha untuk memperbaiki sistem-sistem yang terdampak Kami sudah sebisa mungkin membooking kembali penumpang pada penerbangan lain," jelas perusahaan.

2 dari 4 halaman

Pesawat di Indonesia Batal Terbang Akibat Candaan Bom

[Fimela] Ilustrasi Pesawat
Ilustrasi di dalam pesawat | unsplash.com/@by_syeoni

Awal Desember ini, ada pula kasus pesawat batal terbang di Indonesia. Penyebabnya bukan serangan siber, melainkan ada orang berkata membawa bom, padahal candaan itu dilarang dalam dunia penerbangan. 

 Pesawat AirAsia tujuan Bandara Internasional Ngurah Rai dari Yogyakarta, batal terbang karena seorang penumpang melontarkan candaan tentang bom, Jumat 6 Desember 2019. Penumpang tersebut mengaku membawa bom.

Hal ini dibenarkan oleh Head of Communications AirAsia Indonesia Baskoro Adiwiyono.  

"AirAsia mengonfirmasi penundaan keberangkatan penerbangan QZ8441 tujuan Bandara Internasional Ngurah Rai, Bali menyusul adanya penumpang yang mengaku membawa bom saat persiapan keberangkatan di Bandara Internasional Adisucipto, Yogyakarta. Kejadiannya kemarin, Jumat 6 Desember 2019)," ujar Baskoro kepada Liputan6.com, Jakarta, Sabtu, 7 Desember 2019.

Menurut dia, petugas keamanan AirAsia kemudian mengamankan penumpang tersebut beserta barang bawaannya. Lalu, petugas memeriksa kembali seluruh penumpang dan barang bawaannya dengan alasan keamanan.

Setelah dinyatakan aman, pesawat AirAsia tersebut diberangkatkan pukul 09.59 WIB.

3 dari 4 halaman

Maskapai Mengecam

Semarak! Penerbangan Perdana AirAsia Indonesia Makau-Jakarta
Semarak! Penerbangan Perdana AirAsia Indonesia Makau-Jakarta (Liputan6.com/Andri Wiranuari)

Menurut Baskoro, AirAsia mengecam segala tindakan yang mengancam keamanan penerbangan.

"AirAsia mengecam segala bentuk tindakan yang mengancam keamanan dan keselamatan penerbangan baik yang disengaja maupun tidak," kata Baskoro.

AirAsia berterima kasih kepada pihak-pihak terkait dan seluruh penumpang penerbangan tersebut atas kesabaran dan kerja samanya selama proses penanganan gangguan keamanan ini

4 dari 4 halaman

Saksikan Video Pilihan Berikut Ini:

Lanjutkan Membaca ↓