Loyalis Donald Trump: Pemakzulan Hanyalah Sirkus dan Sandiwara

Oleh Tommy Kurnia pada 19 Des 2019, 13:31 WIB
Diperbarui 19 Des 2019, 13:31 WIB
Hari Thanksgiving, Trump Tengok Tentara AS di Afghanistan
Perbesar
Presiden Amerika Serikat Donald Trump mengangkat nampan makan malam saat mengunjungi Pangkalan Udara Bagram, Afghanistan, Kamis (28/11/2019). Kunjungan dadakan Trump pada hari Thanksgiving tersebut mengejutkan pasukan AS yang bertugas di Afghanistan. (AP Photo/Alex Brandon)

Liputan6.com, Washington D.C. - Presiden Amerika Serikat (AS) Donald Trump resmi dimakzulkan DPR negeri Paman Sam. Voting dilaksanakan pada Rabu, 18 Desember 2019, dan Partai Demokrat berhasil meloloskan dua pasal untuk pemakzulan Donald Trump.

Senator Partai Republik langsung ramai-ramai pasang badan.

Para senator itu memberikan dukungan pada Presiden Trump via Twitter. Ada senator yang menyebut pemakzulan adalah sirkus dan motif Partai Demokrat dalam pemakzulan hanyalah kebencian.

Kasus pemakzulan ini akan diteruskan ke Senat agar Presiden Donald Trump bisa lengser. Proses ini pun terancam gagal karena Senat dikuasai senator pendukung Trump yang berkomitmen mengakhiri kasus ini.

"Sungguh memalukan bahwa sejak presiden ini terpilih, para Demokrat berusaha memakzulkan Presiden AS. Tindakan ini tidak perlu dan tidak produktif. Senat akan mengakhiri sandiwara ini!" ujar Senator Rand Paul dari Kentucky.

Senator Rick Scott dari Florida mengecam pemakzulan ini sebagai sirkus belaka. Fokus Partai Demokrat pun dianggap hanya kepentingan politik, bukan hal produktif untuk negara.

"Sirkus pemakzulan ini bukanlah apa-apa, melainkan politik partisan," ujar Scott. "Voting hari ini hanya memperkuat bahwa anggota Demokrat tidak terlalu peduli tentang apa yang benar-benar penting bagi rakyat Amerika."

Senator Josh Hawley dari Missouri sampai menyebut pemakzulan ini sebagai lelucon. Pemakzulan Donald Trump juga tak mendapat dukungan kedua partai. Ia juga menyindir Ketua DPR Nancy Pelosi yang belum menunjuk manajer pemakzulan yang bertugas mengawal kasus ini ke Senat.

"Sekarang mereka justru tak punya nyali untuk menguji tuduhan mereka? Apakah mereka membuat negara ini kacau hanya demi hiburan mereka sendiri?" tanya Hawley.

2 dari 4 halaman

Trik Kotor

Donald Trump, Presiden Amerika Serikat.
Perbesar
Donald Trump, Presiden Amerika Serikat. (Liputan6/AP)

Anggota DPR Partai Republik, Matt Gaetz, menegaskan bahwa Partai Demokrat hanya tidak suka pada Presiden Trump. Kebencian itulah yang memicu pemakzulan.

"Rakyat Amerika tak dibodohi oleh trik-trik kotor anggota Partai Demokrat. Rakyat Amerika tidak akan pernah lupa bahwa Demokrat memicu pemakzulan presiden hanya karena mereka tidak suka dia...dan mereka tidak menyukai kita," ucap Gaetz.

Pada pemakzulan yang menimpa Presiden Andrew Johnson dan Bill Clinton, kedua partai kompak memakzulkan dua tokoh itu. Sementara, pemakzulan Trump hanya ditekan Partai Demokrat.

"Pemakzulan ini dimotivasi dari kebencian anggota Partai Demokrat kepada Donald Trump, bukan keadilan. Pemakzulan menyerap waktu yang bisa digunakan untuk hal-hal positif," ujar Senator Bill Cassidy dari Lousiana.

Senator Steve Daines dari Montana menegaskan Senat akan mengakhiri pemakzulan yang ia anggap tipu-tipu belaka.

"Waktunya Senat untuk mengakhiri pemakzulan tipu-tipu yang bersifat partisan ini untuk selamanya," ujarnya.

3 dari 4 halaman

Pemakzulan Donald Trump Tak Pengaruhi Indonesia

Bersama KPK, 3 Menteri Diskusi Bareng Lawan Korupsi
Perbesar
Menteri Keuangan Sri Mulyani menjadi pembicara dalam acara ‘KPK Mendengar’ di Gedung KPK, Jakarta, Senin (9/12/2019). KPK menggelar peringatan Hakordia 2019 dengan tema “Bersama Melawan Korupsi Mewujudkan Indonesia Maju”. (Liputan6.com/Faizal Fanani)

 Donald Trump menjadi presiden ketiga Amerika Serikat (AS) dalam sejarah yang diajukan untuk dimakzulkan oleh parlemen. Namun, proses ini semua masih akan berlanjut dalam persidangan di senat AS untuk keputusan akhir.

Menteri Keuangan Sri Mulyani mengatakan, dampak politik di AS tak akan membawa pengaruh besar bagi kondisi ekonomi di Indonesia. "Mungkin tidak. Karena sudah cukup lama prosesnya, kita lihat saja nanti," kata Menteri Sri di Hotel Arya Duta, Jakarta, Kamis (19/12/2019). 

Menurut, dia apa yang terjadi di AS sudah diperhitungkan pasar. "Jadi perkembangannya dan bagaimana hasilnya itu sudah sangat diperhitungkan oleh market," jelas Menteri Sri.

Dia tak menyanggah bahwasanya, ketegangan politik di AS yang mempunyai perekonomian terbesar, bisa mempengaruhi seluruh dunia. Namun, dirinya merasa optimistis masalah tersebut bisa diselesaikan.

"Tapi saya rasa itu (pemakzulan Trump) proses politik di mana Amerika memiliki mekanisme untuk bisa menyelesaikannya," ungkap Menteri Sri.

4 dari 4 halaman

Saksikan Video Pilihan Berikut Ini:

Lanjutkan Membaca ↓