Pengakuan Miris Korban Budak Seks Tentara Jepang di China

Oleh Raden Trimutia Hatta pada 12 Des 2019, 19:10 WIB
Diperbarui 12 Des 2019, 19:10 WIB
20170113- Mantan Budak Seks Jepang- Filipina-AP Photo
Perbesar
Sejumlah mantan budak seks tentara Jepang menggelar aksi unjuk rasa di depan Kedutaan Jepang di Pasai, Filipina, Kamis (12/1). Mereka menolak kedatangan PM Jepang Shinzo Abe selama 2 hari di Filipina. (AP Photo/Bullit Marquez)

Liputan6.com, Beijing - Dokumen-dokumen zaman Perang Dunia ke-2 mengungkap adanya permintaan tentara Jepang agar pemerintahnya menyediakan satu budak seks untuk 70 prajurit. Ada 23 dokumen yang dikumpulkan Sekretariat Kabinet Jepang antara April 2017 dan Maret 2019, termasuk 13 kiriman rahasia dari konsulat Jepang di China ke Kementerian Luar Negeri di Tokyo pada 1938.

Laporan Kyodo menunjukkan satu kabar dari konsul jenderal Jinan, China, kepada menteri luar negeri yang mengatakan invasi Jepang telah menyebabkan lonjakan prostitusi di daerah itu, dengan 101 geisha dari Jepang, 110 wanita penghibur dari Jepang, dan 228 wanita penghibur dari Korea.

Korban dari sistem 'Wanita Penghibur' yang merupakan warga China pun bersuara. Dua saudara perempuan berusia 90-an dari China telah berbicara tentang dipaksa untuk menjadi budak seks selama perang dunia kedua.

Sebanyak 200 ribu wanita China diculik sebagai budak seks selama invasi Jepang, hanya 14 di antaranya yang sebelumnya diketahui masih hidup, menurut data resmi China.

Peng Renshou (94) dan saudara perempuannya, Peng Zhuying (90) dari kota Yueyang di provinsi Hunan, ditemukan sukarelawan dari sebuah museum di provinsi Jiangsu, China timur, yang memperingati pembantaian Nanking oleh Jepang, menurut laporan Xinhua, dikutip Kamis (12/12/2019).

Para relawan mengumpulkan cerita selama kunjungan ke Yueyang yang membawa mereka kepada para suster, yang awalnya menyangkal cerita budak seks sebelum dibujuk oleh relawan untuk berbicara kepada media China.

2 dari 4 halaman

Diperkosa Berulang Kali

Diprotes Korban ‘Budak Seks’, Kaisar Jepang Tetap ke Filipina
Perbesar
Masyarakat Filipina yang menjadi korban ‘budak seks’ saat Perang Dunia II menuntut keadilan dari Kaisar jepang.

Peng Zhuying mengaku ditangkap pada 1939 dan dibawa ke comfort station --sebuah rumah bordil de facto yang digunakan tentara Jepang-- ketika dia berusia 14 tahun. Dia mengatakan diperkosa berulang kali, sebelum dibuang ketika dia sakit.

Dia dibawa lagi segera setelah pemulihannya, dan ditikam dengan pisau karena gagal memenuhi kebutuhan tentara, katanya. Kemudian, dia bergabung dengan kelompok perlawanan lokal untuk melawan tentara Jepang.

Kakak perempuannya mengatakan dia dibutakan senjata biologis pada 1938, dan dibawa ke rumah bordil militer pada 1944, kemudian juga diperkosa berulang kali.

3 dari 4 halaman

Sumber Gesekan

Sebuah patung yang mewakili budak seks terlihat di dekat Kedutaan Besar Jepang di Seoul, Korea Selatan. (AP/Lee Jin-man)
Perbesar
Sebuah patung yang mewakili budak seks terlihat di dekat Kedutaan Besar Jepang di Seoul, Korea Selatan. (AP/Lee Jin-man)

Keengganan Jepang untuk meminta maaf atas perbudakan seksual pada masa perang telah menjadi sumber gesekan dalam hubungannya dengan negara-negara Asia lainnya, terutama China dan Korea Selatan.

Aktivis Korea Selatan memperkirakan ada 200 ribu korban di Korea, dan media negara daratan melaporkan jumlah yang sama untuk China.

Tiongkok mengadakan peringatan tahunan nasional pertama pada 13 Desember 2014, untuk mengenang pembantaian Nanking, yang dilakukan pasukan Jepang pada Desember 1937 dan Januari 1938 di tempat yang sekarang dikenal sebagai Nanjing.

Pengadilan Militer Internasional untuk Timur Jauh di Tokyo memperkirakan pada 1946 bahwa lebih dari 200 ribu orang China telah terbunuh. Perkiraan resmi China menyebutkan jumlahnya lebih dari 300 ribu korban.

4 dari 4 halaman

Saksikan video pilihan di bawah ini: 

Lanjutkan Membaca ↓