Buah Pertemuan Paris, Ukraina dan Rusia Sepakat Gencatan Senjata

Oleh Liputan6.com pada 10 Des 2019, 12:50 WIB
Diperbarui 10 Des 2019, 12:50 WIB
Volodymyr Zelensky dari Ukraina, Emmanuel Macron dari Prancis, Vladimir Putin dari Rusia dan Angela Merkel dari Jerman
Perbesar
(Kiri ke kanan) - Volodymyr Zelensky dari Ukraina, Emmanuel Macron dari Prancis, Vladimir Putin dari Rusia dan Angela Merkel dari Jerman di Elysee Palace di Paris. (Liputan6/BBC/EPA)

Liputan6.com, Paris - Ukraina dan Rusia telah sepakat untuk menerapkan gencatan senjata yang lengkap dan komprehensif di bagian timur Ukraina pada akhir 2019. Upaya itu dilakukan dalam perundingan tingkat tinggi.

Dilansir dari BBC, Selasa (10/12/2019), Presiden Rusia, Vladimir Putin dan Presiden Ukraina, Volodymyr Zelensky, bertemu muka di Paris pada Senin 9 Desember 2019.

Pertempuran lima setengah tahun yang terjadi antara pasukan pemerintah Ukraina dan pemberontak yang didukung Rusia, telah menewaskan 13.000 jiwa.

Negosiasi ditengahi oleh para pemimpin Prancis dan Jerman. Mereka mengikuti pertukaran tahanan besar dan penarikan militer Ukraina, dari tiga area utama di garis depan.

Kesepakatan

Vladimir Putin
Perbesar
Vladimir Putin. (Liputan6/BBC/Getty Images)

Dalam sebuah pernyataan tertulis, kedua negara sepakat untuk membebaskan dan menukar semua tahanan terkait konflik pada akhir tahun ini.

Kedua pihak juga berjanji untuk melepaskan pasukan militer di tiga wilayah tambahan Ukraina pada akhir Maret 2020, tanpa menyebutkan wilayah mana yang akan terpengaruh.

Pembicaraan tambahan akan diadakan dalam empat bulan ke depan guna mengetahui kemajuan gencatan senjata.

Pada konferensi pers, setelah pembicaraan di Istana Elysee Prancis, Presiden Putin mengatakan bahwa pembicaraan itu sebagai langkah penting menuju de-eskalasi konflik.

Perjalanan Ukraina Menuju Kesepakatan

Volodymyr Zelensky
Perbesar
Volodymyr Zelensky. (Liputan6/AP/Efrem Lukatsky)

Zelensky, mantan pelawak, terpilih sebagai presiden Ukraina lewat kemenangannya yang besar pada April 2019. Ia berhasil setelah melakukan kampanye untuk membawa perdamaian ke Ukraina timur.

Sejak itu, strateginya berfokus pada upaya memulai kembali perundingan dengan Moskow. Agar hal itu terjadi, Zelensky harus menyetujui beberapa kondisi Rusia, termasuk menarik kembali pasukan Ukraina di kota-kota bagian timur seperti Stanytsia Luhansk, Petrivske, dan Zolote.

Pada Juni 2019, pasukan Ukraina dan separatis pro-Rusia mundur satu kilometer dari Stanytsia Luhanska. Pada akhir Oktober, Ukraina dan separatis pro-Rusia telah melepaskan diri dari Zolote dan pada awal November mereka menarik diri dari Petrivske.

Pada bulan September, Zelensky menerima banyak pujian atas keberhasilannya dalam pertukaran tahanan yang telah lama ditunggu-tunggu dengan Rusia.

 

 

Reporter: Deslita Krissanta Sibuea

Saksikan video pilihan di bawah ini:

Lanjutkan Membaca ↓