Fakta Baru, Perubahan Iklim Picu Ukuran Burung Menyusut

Oleh Liputan6.com pada 05 Des 2019, 18:35 WIB
Diperbarui 05 Des 2019, 19:16 WIB
Melihat Habitat Flamingo di Tengah Mewahnya Kota Dubai

Liputan6.com, Chicago - Sebuah studi terkini menguak fakta baru bahwa ukuran burung menyusut dan sayapnya tumbuh saat iklim menghangat.

Para peneliti menganalisis sebanyak 70.716 spesimen dari 52 spesies burung migran Amerika Utara yang dikumpulkan selama 40 tahun.

600 juta unggas mati setiap tahun di Amerika Serikat setelah bertabrakan dengan gedung-gedung tinggi. Chicago, dengan gedung pencakar langit yang lokasinya berada di jalur migrasi utama, mungkin adalah pembunuh terbesarnya.

Burung-burung itu mati setelah bertabrakan dengan bangunan di Chicago, Illinois.

2 of 3

Beradaptasi Dengan Perubahan Iklim

Ilustrasi cuaca hangat.
Ilustrasi cuaca hangat. (iStockphoto)

Para ilmuwan tidak yakin mengapa suhu yang lebih hangat menyebabkan ukuran burung menyusut. Salah satu teori yang bisa menjelasakan adalah bahwa hewan yang lebih kecil lebih baik dalam pendinginan tubuh, sebab mereka kehilangan panas tubuh lebih cepat karena rasio luas permukaan ke volume yang lebih besar.

Hasil penelitian ini adalah yang terbesar dari jenisnya, bahwa temuan ini penting untuk memahami bagaimana hewan akan beradaptasi dengan perubahan iklim.

"Kami menemukan hampir semua spesies semakin kecil," kata penulis utama Brian Weeks, asisten profesor di sekolah untuk lingkungan dan keberlanjutan di University of Michigan. Demikian mengutip dari BBC, Kamis (5/12/2019).

Pada 1978 dan 2016, panjang tulang kaki bagian bawah burung menyusut 2,4%. Dan dalam waktu yang sama, sayap memanjang 1,3%.

Dia mengatakan studi respons hewan terhadap perubahan iklim sering fokus pada perubahan dalam rentang geografis atau waktu kejadian kehidupan, seperti migrasi dan kelahiran. Tetapi penelitian ini menunjukkan morfologi tubuh adalah aspek terpenting yang ketiga.

3 of 3

Burung Migrasi Dan Tabrakan Setiap Tahunnya

Hari Burung Migrasi Sedunia
Burung residen Cangak Abu (Ardea cinerea) terlihat di kawasan Hutan Lindung Angke Kapuk, Jakarta, Sabtu (11/5/2019). Komunitas anak muda Yayasan KEHATI Biodiversity Warriors bersama Accenture melakukan pengamatan burung air di Hutan Lindung Angke Kapuk Liputan6.com/Herman Zakharia)

Dilansir dari BBC, Brian Weeks mengatakan burung-burung yang paling mungkin bertahan saat migrasi adalah yang memiliki sayap lebih panjang untuk mengimbangi tubuh mereka yang lebih kecil.

Pada tahun 1978, ia mulai berjalan di sekitar bangunan saat pagi hari selama musim semi dan musim gugur migrasi, untuk mengumpulkan burung yang bertabrakan dengan bangunan.

Burung biasanya bermigrasi di malam hari dan tertarik pada cahaya buatan dari bangunan, menyebabkan tabrakan fatal dengan jendela. Ratusan juta burung diperkirakan mati akibat tabrakan setiap tahun.

Selama bertahun-tahun, sudah banyak sukarelawan dan ilmuwan berkontribusi pada upaya pengumpulan burung. 

Pada tahun 2014, para peneliti menemukan bahwa ukuran kambing alpine menyusut karena suhu yang memanas. Pada tahun yang sama, penelitian lain menemukan bahwa salamander juga menciut dengan cepat sebagai respons terhadap perubahan iklim.

 

 

 

Reporter: Jihan Fairuzzia

Lanjutkan Membaca ↓

Live Streaming

Powered by