RI Berharap Filipina Bantu Pembebasan 3 WNI Sandera Abu Sayyaf

Oleh Benedikta Miranti Tri Verdiana pada 28 Nov 2019, 18:01 WIB
Diperbarui 28 Nov 2019, 18:01 WIB
Gedung Pancasila
Perbesar
Gedung Pancasila. (Liputan6.com/Gempur M Surya)

Liputan6.com, Jakarta - Dua bulan lalu, kelompok bersenjata diduga terafiliasi Abu Sayyaf menculik tiga nelayan Indonesia dari Lahad Datu, Sabah. Pihaknya juga menuntut uang tebusan senilai 30 juta peso Filipina, atau sekitar Rp 8,2 miliar untuk pembebasan mereka.

Permintaan mengenai tebusan tersebut diumumkan oleh salah satu korban WNI melalui rekaman video yang beredar di Facebook pada Sabtu 16 November 2019 lalu.

Ketiganya diidentifikasi sebagai Maharudin Lunani, 48, putranya Muhammad Farhan, 27, dan anggota kru Samiun Maneu, 27. Mereka diculik oleh orang-orang bersenjata dari kapal pukat nelayan yang terdaftar di Sandakan, perairan Tambisan.

Setelah pihak Kemlu membenarkan adanya WNI disandera Abu Sayyaf, pemerintah Filipina pun diharapkan dapat membantu proses pembebasan para korban.

"Tentunya karena lokasi penyanderaan ada di wilayah yurisdiksi Filipina, tentunya yang bisa kita harapkan, melalui pembahasan bersama dengan Bapak Presiden serta Ibu Menlu, adalah kita mendorong agar otoritas Filipina dapat membantu pembebasan tiga warga kita secepatnya dengan aman," ujar Direktur Perlindungan WNI dan BHI, Kementerian Luar Negeri RI Judha Nugraha di Jakarta, Kamis (28/11/2019).

Lebih lanjut, Judha menambahkan bahwa pihak RI tidak membahas untuk memenuhi permintaan uang tebusan yang dituntut oleh para penyandera.

2 dari 3 halaman

Kasus Terbaru

Abu Sayyaf
Perbesar
Ilustrasi Abu Sayyaf (File / Liputan6.com)

Terkait penculikan tersebut, Komisaris Polisi Sabah, Datuk Omar Mammah pada akhir September 2019 menyebutkan, insiden terjadi ketika kapal pukat sedang mencari udang, kapal-kapal pompa tersangka mendekati kedua kapal dari belakang.

Kemudian, orang-orang bersenjata dengan mengenakan perlengkapan kamuflase dan topeng, naik kedua kapal pukat yang sedang menangkap udang seperti dilansir malaymail.com.

"Empat pria bersenjata naik perahu pertama dan tiga tersangka naik perahu kedua. Mereka mengarahkan pistol ke tiga awak kapal di satu kapal dan menyuruh mereka naik perahu pompa," kata Omar.

Diketahui ada dua kapal penangkap ikan yang dinaiki oleh penculik yang hanya berjarak sekitar 50 meter satu sama lain pada lokasi kejadian.

"Di kapal lain, para tersangka mengambil semua dokumen dan telepon seluler dari awak, tetapi tidak membawa salah satu dari empat nelayan di atas kapal," tambah Omar.

Omar menambahkan bahwa ada juga saksi lain yang melakukan panggilan darurat ke polisi laut Malaysia tentang insiden itu.

Komplotan bersenjata beserta nelayan yang diculik kemudian melaju ke pulau Tawi-Tawi di Filipina.

Peristiwa itu terjadi sekitar 7,7 mil laut dari Tambisan di Lahad Datu. Tiga korban yang diculik berusia antara 27 dan 40 tahun.

Ketua Menteri Sabah, Datuk Seri Mohd Shafie Apdal membenarkan kejadian penculikan tersebut. Ia juga mengatakan para nelayan itu kemungkinan berasal dari Buton, Sulawesi Tenggara.

"Namun, kami akan melihat situasi yang tepat. Saya akan mendapatkan informasi lebih rinci tentang itu," kata Ketua Menteri Sabah saat menghadiri resepsi peringatan Hari Kemerdekaan Indonesia yang ke-74 di Malaysia seperti dikutip dari Bernama.

3 dari 3 halaman

Simak video pilihan berikut:

Lanjutkan Membaca ↓