Donald Trump Tugaskan Menantu Urus Proyek Tembok di Perbatasan AS

Oleh Tommy Kurnia pada 26 Nov 2019, 13:20 WIB
Diperbarui 26 Nov 2019, 14:16 WIB
Jared Kushner, menantu Donald Trump yang juga menjabat sebagai penasihat senior presiden AS

Liputan6.com, Washington, D.C - Presiden Amerika Serikat (AS) Donald Trump menugaskan menantunya, Jared Kushner, untuk memantau konstruksi tembok perbatasan di selatan negaranya. Tugas ini melingkupi data kontraktor hingga pendanaan.

Menurut laporan The Washington Post, Selasa (26/11/2019), Kushner akan mengadakan meeting dua minggu sekali untuk membahas urusan konstruksi. Ia pun menargetkan tembok berhasil dibangun sepanjang 450 mil (724 km), sebelum pemilu presiden tahun depan.

Masalahnya, masih banyak lahan yang harus diakuisisi pemerintah demi mewujudkan hal itu. Kushner pun mendorong petugas Customs and Border Protection dan Army Corps of Engineers untuk segela menyelesaikan perkara lahan.

Jared Kushner sendiri merupakan penasihat Presiden Donald Trump. Selama ini ia mengurus isu-isu politik seperti perkara di Timur Tengah.

Namun, ada masalah terkait komunikasi antara Jared Kushner dan pejabat terkait konstruksi. Kushner punya ekspektasi tinggi terkait target pembangunan tetapi dianggap belum memahami dari sisi pemerintahan. Total ada 800 pengajuan lahan yang harus beres.

Sumber The Washington Post berkata keterlibatan menantu Donald Trump justru bisa memperlambat proses. Sebab, Jared Kushner disebut terlalu detail memeriksa pembangunan tembok pada tiap mil.

"Hal itu tidak membuat pembangunan temok menjadi lebih cepat dan murah. Intervensi-intervensinya justru membuat lebih banyak inefisiensi dalam proses," ujar seorang sumber.

Pemangunan tembok merupakan janji politik saat kampanye Donald Trump pada pilpres tahun 2016. Tembok kontroversial ini dibangun atas tujuan mencegah imigran ilegal dan penyelundup narkoba dari wilayah Meksiko.

2 of 4

Tembok Perbatasan Meksiko-AS Digergaji Gangster, Donald Trump: Saya Tidak Takut

Donald Trump Tinjau Tembok Prototipe di San Diego
Presiden AS, Donald Trump meninjau prototipe tembok perbatasan AS dan Meksiko yang kontroversial di San Diego, Selasa (13/3). Prototipe tembok perbatasan Trump memiliki tinggi sekitar 9 meter, dengan puncak yang tebal dan bundar. (MANDEL NGAN / AFP)

Gerombolan bandit penyelundup yang diklaim berasal dari Meksiko memotong tembok pembatas yang sedang dibangun Presiden Amerika Serikat Donald Trump, VOA Indonesia melaporkan, seperti dikutip Liputan6.com pada Senin 4 November.

Dinding yang didirikan di sepanjang perbatasan AS-Meksiko untuk mencegah masuknya migran gelap dan narkoba itu, menurut Trump, "kebal." Ia bahkan menegaskan bahwa ia tidak takut.

"Kita punya pembatas yang sangat kuat," katanya kepada wartawan pada Sabtu, 2 November 2019 di Gedung Putih.

"Tapi, sekuat-kuatnya memang tetap bisa ditembus. Tak apa, ada banyak orang yang mengawasi. Bagian yang dipotong bisa dengan mudah diperbaiki. Salah satu alasan kita mendirikan seperti itu adalah karena mudah dibangun lagi. Tinggal pasang bagian yang baru."

Donald Trump juga menyampaikan pendapatnya setelah The Washington Post melaporkan bahwa sejumlah geng telah berulangkali menggergaji pembatas dalam beberapa bulan belakangan, menggunakan gergaji listrik seharga sekitar US$100 dolar atau sekitar Rp 1,4 juta.

Apabila dilengkapi dengan pisau khusus, gergaji itu bisa memotong tonggak baja dan beton dalam beberapa menit, kata para petugas perbatasan.

Setelah tonggak dipotong, para migran dan penyelundup bisa menyelinap masuk ke AS. Namun, belum jelas berapa sering insiden itu terjadi.

3 of 4

350 Imigran Merangsek Paksa Masuk Perbatasan Amerika Serikat di Meksiko

Nekatnya Para Imigran Masuk Perbatasan AS
Kevin Andres, seorang anak imigran Meksiko berusaha memanjat pagar perbatasan AS (28/12). Banyak Imigran dari karavan memilih menyeberangi tembok perbatasan AS dan menyerahkan diri kepada agen patroli perbatasan. (AP Photo/Daniel Ochoa de Olza)

Sementara itu, pada April 2019 dilaporkan ada sekitar 350 imigran berupaya memasuki Meksiko, guna menyelamatkan diri dari kemiskinan dan kekerasan brutal yang terjadi di negara asal mereka.

Kedatangannya bersamaan ketika rombongan migran berjuluk karavan baru sekitar 2.500 orang tiba - berita yang pasti menarik perhatian Presiden AS Donald Trump.

Para imigran ini berasal dari beberapa negara, mulai dari Kuba, Venezuela, Honduras hingga Afrika Tengah.

"Kami tidak bisa hidup (di Honduras) lagi. Kami ingin menuju perbatasan Amerika Serikat," kata Jorge, seorang imigran Honduras yang menolak menyebut nama belakangnya.

Beberapa imigran menyeberangi jembatan di atas Sungai Suchiate, yang memisahkan Meksiko dari Guatemala. Bahkan mereka rela membayar rakit untuk membawa mereka.

Menyoroti bahaya perjalanan, jaksa penuntut Meksiko mengatakan mereka telah menahan dua penyelundup yang memperdagangkan 22 migran di negara bagian Chiapas dalam insiden terpisah.

Menurut keterangan dari petugas keamanan di Meksiko, pihaknya telah mengamankan 143 migran Honduras, termasuk 71 anak di bawah umur.

Rencananya, ratusan imigran ini berupaya mencapai perbatasan AS-Meksiko. Presiden Amerika Serikat Donald Trump menetapkan kondisi ini sebagai darurat nasional.

Trump secara berulang mengerahkan pasukan ke perbatasan untuk menutup segala pintu masuk yang biasa digunakan oleh imigran.

4 of 4

Saksikan Video Pilihan Berikut Ini:

Lanjutkan Membaca ↓

Live Streaming

Powered by