Demo Kolombia Berlanjut, Tentara Dikerahkan ke Jalan-Jalan Utama Kota

Oleh Rizki Akbar Hasan pada 24 Nov 2019, 12:02 WIB
Diperbarui 25 Nov 2019, 06:15 WIB
Para pengunjuk rasa dan polisi anti huru hara bentrok di Bogota, Kolombia, pada Jumat 22 November 2019. (AFP)

Liputan6.com, Bogota - Presiden Kolombia Iván Duque, pada Sabtu 23 November 2019 waktu lokal, mengatakan, pasukan keamanan akan dikerahkan dan bertahan di jalan-jalan untuk menjaga ketertiban, ketika protes nasional berlanjut untuk hari ketiga.

Demonstrasi anti-pemerintah meletus sejak Kamis, ketika lebih dari 250.000 orang melakukan aksi mogok nasional.

Demonstran memulai aksi dengan damai, tetapi, bentrokan dengan polisi telah pecah, dan ada laporan perusakan dan penjarahan.

Menyikapi, Presiden Duque mengatakan pasukan akan melakukan patroli bersama dengan polisi demi mencegah kejadian berulang, demikian seperti dilansir BBC, Minggu (24/11/2019).

"Kami menyatakan penolakan total dan absolut dari semua warga Kolombia atas vandalisme, terorisme, dan penjarahan," kata Duque.

Setidaknya tiga orang telah tewas sejak protes menentang korupsi dan langkah penghematan dimulai.

Jam malam diberlakukan di Ibu Kota Bogota pada Jumat, tetapi tidak menghalangi pengunjuk rasa kembali ke jalan-jalan sehari kemudian.

Ketika protes dilanjutkan pada hari Sabtu, polisi menggunakan gas air mata untuk membubarkan ratusan orang yang telah berkumpul di dekat Taman Nasional Bogota, menurut sejumlah laporan.

Demonstran juga berkumpul di luar kongres di Bolivar Plaza, dekat istana presiden Kolombia.

Secara terpisah, Jumat malam, tiga petugas polisi tewas dalam serangan bom di barat daya negara itu.

Tidak jelas apakah insiden itu terkait dengan protes Kolombia. Namun, daerah itu terkenal karena perdagangan narkoba dan kekerasan geng.

2 dari 2 halaman

Penyebab Protes di Kolombia

Presiden Kolombia baru terpilih, Iván Duque. (AFP)
Presiden Kolombia baru terpilih, Iván Duque. (AFP)

Rakyat Kolombia turun ke jalan karena kemungkinan perubahan upah minimum, pensiun dan reformasi pajak, dan privatisasi perusahaan-perusahaan negara. Pemerintah menegaskan tidak ada rencana perubahan upah pensiun atau reformasi tenaga kerja dan bahwa perubahan apa pun akan terjadi setelah berkonsultasi dengan kelompok-kelompok buruh.

Para pengunjuk rasa juga marah tentang dugaan korupsi dan apa yang dilihat beberapa orang sebagai kegagalan pemerintah untuk menghormati perjanjian damai 2016 dengan pemberontak Farc sayap kiri di tengah meningkatnya kekerasan.

Pemogokan umum pada hari Kamis diserukan oleh serikat pekerja dan kelompok mahasiswa, dan lebih banyak protes diadakan pada hari Jumat, dengan polisi menggunakan gas air mata untuk membubarkan massa

Presiden Duque mengatakan dia telah mendengar orang Kolombia dan berjanji untuk memperdalam "dialog sosial".

Kerusuhan di Kolombia bertepatan dengan gelombang demonstrasi anti-pemerintah di tempat lain di Amerika Latin.

Para pengunjuk rasa telah turun ke jalan-jalan di beberapa negara Amerika Latin dalam beberapa bulan terakhir, termasuk di Chile, di mana Presiden konservatif Sebastian Pinera bergulat dengan krisis terbesar negara itu sejak kembali ke demokrasi pada tahun 1990.

Di Bolivia, klaim kecurangan pemilu menyebabkan pengunduran diri Presiden Evo Morales di tengah-tengah protes nasional. Demonstrasi juga terjadi di Ekuador dan Nikaragua.

Lanjutkan Membaca ↓