Kantor Polisi Kolombia Jadi Target Bom, 3 Petugas Tewas

Oleh Tanti Yulianingsih pada 23 Nov 2019, 15:48 WIB
Diperbarui 23 Nov 2019, 16:16 WIB
Para pengunjuk rasa dan polisi anti huru hara bentrok di Bogota, Kolombia, pada Jumat 22 November 2019. (AFP)

Liputan6.com, Bogota - Ledakan fatal terjadi di kantor polisi Bogota, Kolombia. Peristiwa itu melukai 10 petugas di tengah jam malam yang berlaku pukul 21.00 di ibu kota.

"Tiga polisi tewas dalam ledakan bom di kantor polisi di Kolombia, setelah ribuan orang berkumpul untuk protes baru dan penjarahan sporadis meletus di ibu kota," demikian seperti dilaporkan The Guardian, Sabtu (23/11/2019).

Satu sumber kepolisian mengatakan 10 petugas juga terluka dalam ledakan Jumat malam di Kota Santander de Quilichao, barat daya Provinsi Cauca  yang dikenal sebagai tempat panas untuk perdagangan narkoba dan kekerasan.

Sumber itu tidak mengaitkan pemboman itu dengan kelompok bersenjata tertentu. Polisi diperkirakan akan mengadakan konferensi pers pada Sabtu pagi waktu setempat.

Ledakan itu terjadi setelah demonstrasi berkobar lagi di beberapa bagian Bogotá, sehari setelah pawai massal berakhir dengan tiga kematian.

Setelah lebih dari 250.000 orang pawai pada hari Kamis, untuk mengungkapkan ketidakpuasan yang tumbuh dengan pemerintah Presiden Kolombia Iván Duque, kerumunan besar lainnya berkumpul pada Jumat sore di Bolivar Plaza, Bogotá.

Kerumunan itu, termasuk para manula dan keluarga, dibubarkan oleh polisi yang menembakkan gas air mata, membuat para pengunjuk rasa berlari di jalan-jalan sempit di distrik bersejarah itu.

Beberapa pengunjuk rasa berkumpul kembali di persimpangan terdekat dan terus bernyanyi.

Wali kota Bogotá, yang sebelumnya melarang penjualan alkohol, kemudian mengatakanakan ada jam malam pukul 21.00 yang berlaku untuk seluruh kota dengan pengecualian lingkungan Bosa, Kennedy dan Ciudad Bolivar -- di mana jam malam dimulai pukul 20.00 malam.

2 dari 3 halaman

Protes Terhadap Pemerintah

Presiden Kolombia baru terpilih, Iván Duque. (AFP)
Presiden Kolombia baru terpilih, Iván Duque. (AFP)

Para pengunjuk rasa didesak oleh mantan kandidat presiden sayap kiri Gustavo Petro dan yang lainnya, yang menyerukan demonstrasi lain menyusul "cacerolazo" spontan - sebuah ekspresi protes tradisional di mana orang-orang menggedor panci dan wajan - pada hari Kamis.

"Kami di sini untuk terus memprotes pemerintah   Iván Duque Márquez," kata mahasiswa seni berusia 25 tahun Katheryn Martinez ketika ia menggedor pot dengan garpu di plaza, ditemani oleh ayahnya Arturo yang berusia 55.

I"Ini adalah pemerintah tak efisien yang membunuh anak-anak dan tidak mengakuinya," katanya, merujuk pada pemboman baru-baru ini yang ditujukan pada pemberontak yang menewaskan delapan remaja dan membuat mantan menteri pertahanan mengundurkan diri.

Protes ini berkobar di tengah rumor tentang kemungkinan reformasi ekonomi, dan kemarahan pada apa yang dikatakan pemrotes adalah kurangnya tindakan pemerintah untuk menghentikan korupsi dan pembunuhan aktivis hak asasi manusia.

 

3 dari 3 halaman

Protes Berkobar Saat Aksi Serupa di Amerika Latin

Protes itu bertepatan dengan demonstrasi di negara-negara Amerika Latin lainnya, termasuk di Chili, protes atas tuduhan perusakan suara di Bolivia yang membuat presiden Evo Morales mengundurkan diri, dan memicu ketegangan di Ekuador dan di Nikaragua yang dilanda krisis.

Tiga kematian di Provinsi Valle del Cauca sedang diselidiki, Menteri Pertahanan Carlos Holmes Trujillo mengatakan sebelumnya pada hari Jumat. Dia mengatakan pihak berwenang telah mengkonfirmasi kematian dua orang di Buenaventura, dan satu lagi di Candelaria, seraya menambahkan bahwa sekelompok orang telah mencoba menjarah mal Viva Buenaventura.

"Sebagai hasil dari konfrontasi antara pengacau dan pasukan keamanan dan dalam peristiwa yang menjadi subjek penyelidikan oleh kantor jaksa agung, dua orang tewas," katanya.

"Meskipun sebagian besar demonstran berpartisipasi secara damai, 98 orang ditangkap, sementara 122 warga sipil dan 151 anggota pasukan keamanan terluka pada hari Kamis," katanya.

Pihak berwenang sedang melakukan 11 penyelidikan awal atas pelanggaran oleh anggota pasukan keamanan, Trujillo menambahkan, setelah gambar yang beredar di media sosial menunjukkan polisi memperlakukan pengunjuk rasa secara kasar, termasuk seorang petugas anti-huru hara menendang wajah seorang pengunjuk rasa.

Para penumpang di Bogotá dan kota-kota lain menghadapi penundaan lama pada hari Jumat. Banyak stasiun bus Bogotá ditutup.

Polisi menggunakan gas air mata di setidaknya dua bagian kelas pekerja kota di selatan Kolombia. Langkah itu dilakukan dalam upaya untuk membersihkan blokade jalan. Beberapa supermarket di daerah itu juga dijarah dan beberapa pengunjuk rasa mencuri bus umum, menurut media setempat.

Protes hari Jumat tidak didukung oleh satu serikat yang membantu memimpin pawai hari Kamis dan yang memperingatkan terhadap "oportunisme" politik terkait aksi tersebut. The Central Workers Union mengatakan kelompoknya akan berpartisipasi dalam protes Jumat. 

Lanjutkan Membaca ↓