Sampaikan Nota Protes ke Malaysia, KBRI Kuala Lumpur Minta Usut Pengeroyok Suporter Timnas RI

Oleh Tanti Yulianingsih pada 22 Nov 2019, 16:28 WIB
Diperbarui 22 Nov 2019, 16:28 WIB
Ilustrasi bendera Indonesia
Perbesar
Ilustrasi bendera Indonesia (Sumber: Pixabay)

Liputan6.com, Kuala Lumpur - Perihal kabar kekerasan terhadap pendukung Timnas Indonesia yang datang ke Stadion Bukit Jalil, Malaysia, Selasa, 19 November 2019-- dalam lanjutan Pra Piala Dunia 2022, KBRI Kuala Lumpur merespons keras insiden tersebut.

"KBRI Kuala Lumpur menyampaikan nota protes kepada Kementerian Luar Negeri Malaysia yang menyesalkan terjadinya kasus tersebut," tegas pihak perwakilan Indonesia di Negeri Jiran dalam keterangan tertulisnya, Jumat (22/11/2019).

Selain itu, KBRI Kuala Lumpur juga meminta pelaku pengeroyokan Timnas Indonesia di Malaysia agar mendapat sanksi.

"KBRI juga meminta otoritas Malaysia mengusut tegas para pelaku," demikian bunyi pernyataan ini.

Dalam kesempatan tersebut, KBRI Kuala Lumpur juga menyatakan telah menemui korban pengeroyokan oleh suporter Malaysia.

"KBRI telah bertemu dengan korban pengeroyokan pada 19 November 2019 dan memberikan bantuan pengurusan dokumen dan menerima laporan mereka," jelas pihak berwenang RI di Kuala Lumpur.

 

 

2 dari 3 halaman

Kabar Penusukan Tak Benar, KBRI Keluarkan Imbauan

Ilustrasi pisau penusukan
Perbesar
Ilustrasi (iStock)

Sementara itu, terkait video pengeroyokan suporter Timnas Indonesia yang beredar di lini masa dilaporkan viral. Di mana terlihat ada hidung suporter yang patah hingga tangannya tertusuk.

Perihal tersebut, pihak KBRI Kuala Lumpur menyatakan tidak pernah mengeluarkan pernyataan kepada media yang membenarkan terjadinya penusukan terhadap suporter bola Indonesia di Malaysia.

"Informasi kasus yang diterima KBRI sampai hari ini adalah kasus pengeroyokan terhadap dua orang WNI di Bukit Bintang pada 18 November 2019," demikian jelas pihak KBRI Kuala Lumpur dalam keterangan tertulisnya.

"Lalu kasus penahanan tiga orang WNI di Stadion Bukit Jalil pada 19 November 2019. KBRI akan mengajukan permohonan untuk memperoleh Akses Konsuler untuk dapat menemui dan mendampingi ketiga orang dimaksud."

Pihak KBRI Kuala Lumpur juga mengeluarkan imbauan terkait peristiwa tersebut.

"Kepada WNI yang megalami tindak kekerasan terkait pertandingan Indonesia vs Malaysia pada tanggal 19 November 2019, dimohon untuk dapat melaporkannya kepada Pihak Kepolisian Malaysia dan menembuskan laporan dimaksud kepada KBRI untuk dapat kami tindaklanjuti," imbau pihak KBRI Kuala Lumpur.  

3 dari 3 halaman

RI Menuntut Permintaan Maaf Malaysia

Gedung Pancasila dan Ilustrasi Bendera Indonesia (Liputan6.com/Gempur M Surya)
Perbesar
Gedung Pancasila dan Ilustrasi Bendera Indonesia (Liputan6.com/Gempur M Surya)

Kementerian Pemuda dan Olahraga (Kemenpora) Republik Indonesia menuntut permintaan maaf dari pihak Malaysia, baik itu dari Federasi Sepak Bola Malaysia (FAM) ataupun Kemenpora Malaysia.

Desakan itu merupakan buntut dari perilaku brutal suporter Malaysia terhadap pendukung Timnas Indonesia yang datang ke Stadion Bukit Jalil, Selasa, 19 November 2019, dalam lanjutan Pra Piala Dunia 2022. Suporter Timnas Indonesia mendapat pengeroyokan di Bukit Jalil.

Sesmenpora, Gatot Dewa Broto mengatakan pihaknya bakal melayangkan protes keras kepada pihak Malaysia. Indonesia menuntut permintaan maaf dan kasus tersebut diusut hingga tuntas.

"Kalau FAM tidak tahu (sudah minta maaf atau belum), itu urusan PSSI. Kalau dari pemerintah, kami akan tulis surat soal nota keberatan protes dari Indonesia kepada Malaysia. Suratnya sedang dibuat."

"Intinya, Kemenpora minta kasus ini diusut tuntas. Kemudian ada pejabat Malaysia yang menunjukkan permohonan maaf," tegas Gatot.

Gatot juga berharap, Malaysia harus bersikap ksatria. Kala kerusuhan yang terjadi di Stadion Utama Gelora Bung Karno, 5 September lalu, mantan Menpora Imam Nahrawi langsung meminta maaf atas perilaku buruk Timnas Indonesia.

"Waktu itu, Imam Nahrawi sudah menyampaikan permohonan ma’af kepada Menteri Sukan dan Belia Malaysia Syed Saddiq secara langsung pada tanggal 6 September 2019 pagi di suatu hotel di Jakarta," ujar Gatot.

Lanjutkan Membaca ↓