Kekhawatiran Masyarakat Muslim di Sri Lanka Usai Terpilihnya Presiden Baru

Oleh Benedikta Miranti Tri Verdiana pada 18 Nov 2019, 12:00 WIB
Diperbarui 18 Nov 2019, 13:15 WIB
Ilustrasi pemilu di Sri Lanka (AFP PHOTO)

Liputan6.com, Colombo - Pemilu Sri Lanka 2019 yang dilaksanakan akhir pekan kemarin, tak hanya berujung pada kemenangan Gotabaya Rajapaksa sebagai presiden terpilih. Saudaranya, Mahinda Rajapaksa --mantan presiden 2005-2015-- digadang-gadang akan menjabat sebagai perdana menteri negara Asia Selatan itu.

Sesaat setelah pengumuman kemenangan Gotabaya, pendukung dan anggota partai pengusung mereka, berkumpul di markas, merayakan kemenangan Rajapaksa bersaudara.

"Ini hari kemenangan bagi kami," kata Sagala Abhayawickreme, bagian dari tim sukses kampanye untuk Rajapaksa bersaudara, dikutip dari BBC, Senin (18/11/2019).

"Aku bekerja selama lebih dari empat tahun untuk ini. Kami melihatnya sebagai menteri pertahanan ketika dia menyelesaikan perang 30 tahun," katanya, merujuk pada kekalahan Macan Tamil 10 tahun lalu.

"Saya pikir ini adalah titik balik dalam sejarah Sri Lanka," kata seorang pendukung Rajapaksa lainnya, pengacara Janaka Arunashantha. "Dengan ekonomi dan keamanan nasional, saya pikir negara ini akan membaik dalam segala hal dalam lima tahun ke depan. Kami sangat berharap dengannya."

Namun, Sri Lanka masih berada dalam keadaan trauma, walaupun tujuh bulan berlalu setelah serangan bom oleh gerilyawan Islam yang menghancurkan ekonomi pulau itu. Tak hanya itu, kejadian tersebut turut menghancurkan hubungan komunal pulau yang rapuh dan merupakan pukulan terakhir bagi kepercayaan publik pada pemerintah yang telah ternoda oleh pertempuran.

2 of 3

Kekhawatiran Kelompok Muslim Minoritas

Ilustrasi Bendera Sri Lanka (iStockphoto via Google Images)
Ilustrasi Bendera Sri Lanka (iStockphoto via Google Images)

Tetapi, berita kemenangan Rajapaksa bersaudara disambut dengan cemas oleh banyak orang di komunitas minoritas yang memberikan suara sangat besar bukan untuk Rajapaksa tetapi saingannya, Sajith Premadasa.

Mereka melihatnya sebagai pilihan yang lebih liberal dan inklusif. Di banyak daerah mayoritas Tamil, seperti di utara, suara dimenangkan oleh Premadasa.

Masyarakat menganggap persatuan komunitas yang berbeda, mengejar rekonsiliasi pasca perang akan menjadi tugas yang menakutkan.

Dalam tujuh bulan terakhir, banyak Muslim mengatakan kampanye kebencian terhadap mereka dalam beberapa tahun terakhir, dipicu oleh kelompok-kelompok Buddha garis keras menjadi semakin jelas.

Mereka mengatakan bisnis mereka telah diboikot. Bahkan mereka secara terbuka dihina di jalan, juga termasuk anak-anak di sekolah.

Banyak orang yang menyampaikan kekhawatirannya secara terbuka. Rajapaksa, yang secara luas dianggap mempromosikan kepentingan mayoritas umat Buddha, juga dituduh oleh para pengkritiknya melindungi para ekstremis anti-Muslim.

Seorang wanita Muslim mengekspresikan perasaan cemas yang juga mewakili kebanyakan masyarakat Muslim pada hari-hari menjelang pemilihan.

"Jika Gotabaya Rajapaksa menang, saya melihat banyak kekerasan dan rasisme di depan," katanya kepada saya. "Sebagian besar kelompok rasis ini selaras dengan partai ini."

Pada hari Minggu, jalan-jalan di Kolombo sepi ketika pengumuman hasil pemilu diberitakan. Para pejabat memberlakukan larangan protes dan pertemuan publik. Para pemimpin politik juga meminta ketenangan masyarakat.

Rajapaksa kemudian telah menjanjikan persatuan. Ini adalah tanggapan terhadap ketakutan banyak orang di komunitas minoritas perihal kepemimpinan yang tegas dan tindakan keras terhadap keamanan mungkin mengorbankan kebebasan sipil mereka.

Sekalipun niat politiknya asli, hasil pemilu telah menunjukkan betapa terpolarisasinya negara ini. Persatuan juga diduga akan sulit dicapai.

3 of 3

Saksikan Video Pilihan di Bawah Ini:

Lanjutkan Membaca ↓