3 Hari Berlalu, Banjir Kembali Menggenangi Venesia

Oleh Liputan6.com pada 16 Nov 2019, 08:47 WIB
Diperbarui 16 Nov 2019, 08:47 WIB
Venesia Tergenang Banjir Imbas Gelombang Pasang

Liputan6.com, Venesia - Permukaan air sungai di kanal-kanal Venesia mencapai ketinggian yang tidak biasanya pada Jumat 15 November 2019, tiga hari setelah kota di Italia itu mengalami banjir terburuk dalam 50 tahun.

Air pasang diperkirakan bisa mencapai 1,6 meter, jauh di atas tingkat normal. Demikian dikutip dari VOA Indonesia, Sabtu (16/11/2019).

Wali Kota Luigi Brugnaro mengatakan kepada wartawan, ia terpaksa meminta polisi memblokir akses ke Lapangan St. Mark, yang sudah terendam air hingga sekitar setinggi lutut pada Jumat pagi.

Sejumlah pekerja terlihat membongkar jembatan-jembatan sementara yang dibangun, untuk memungkinkan publik melintasi lapangan itu tanpa terendam air. 

Venesia mengalami banjir terburuk kedua dalam sejarah, Selasa lalu 12 November. Waktu itu air mencapai ketinggian 1,87 meter di atas permukaan laut, sehingga mendorong pemerintah Italia memberlakukan keadaan darurat.

Pada Kamis, pemerintah menyetujui alokasi 20 juta euro untuk membantu Venesia memperbaiki kerusakan-kerusakan prasarananya yang paling mendesak.

Brugnaro mengatakan, kerusakan di Venesia mencapai ratusan juta euro. Ia menuding perubahan iklim sebagai penyebab munculnya situasi dramatis di kota bersejarah itu. Ia menyerukan diselesaikannya segera proyek pembangunan penahan banjir Moses yang sudah lama tertunda di kota itu.

2 dari 3 halaman

Sudah Berada Dalam Kondisi Darurat

Venesia Tergenang Banjir Imbas Gelombang Pasang
Warga berjalan di Alun-Alun Santo Markus yang banjir akibat terjangan gelombang pasang di Venesia, Italia, Selasa (12/11/2019). Venesia dilanda banjir akibat gelombang pasang setinggi 127 cm. (AP Photo/Luca Bruno)

Venesia mengalami gelombang pasang tertinggi kedua dalam sejarah. Bencana ini mengancam laguna rapuh dan bangunan era Renaissance, ketika Wali Kota Luigi Brugnaro bersiap menyatakan keadaan darurat dan mengatakan perubahan iklim mengancam kota maritim bersejarah tersebut.

Dikutip dari Bloomberg, Kamis (15/11/2019), banjir memuncak pada ketinggian 187 sentimeter (74 inci) di atas batas normalnya. Ini merupakan yang tertinggi sejak 1966. Brugnaro memperingatkan bahwa kemungkinan banjir ini akan memiliki dampak abadi terhadap kota.

"Ini adalah efek dari perubahan iklim," katanya dalam sebuah posting Twitter.

Dengan industri tradisional yang mulai meninggalkan daerah itu, Kementerian Pembangunan Italia telah menyatakan wilayah Venesia tengah berada dalam krisis industri.

Para kritikus menuduh bahwa pihak berwenang telah membuat terlalu banyak konsesi untuk industri pariwisata, dengan mengorbankan kebijakan lingkungan berkelanjutan yang seharusnya dapat melindungi kota dari banjir.

Baca Selengkapnya...

3 dari 3 halaman

Saksikan Video Pilihan di Bawah ini:

Lanjutkan Membaca ↓