Menhan Prabowo Jamu Dubes Inggris untuk RI, Ini yang Dibahas

Oleh Liputan6.com pada 07 Nov 2019, 14:45 WIB
Prabowo Subianto

Liputan6.com, Jakarta - Pasca kunjungan ke PT Pindad, Bandung, Jawa Barat, Menteri Pertahanan RI Prabowo Subianto hari ini (7/11) menerima kunjungan kehormatan dari beberapa duta besar negara sahabat, salah satunya Duta Besar Inggris Owen Jenkins.

"Jumpa beberapa duta besar. Ini dengan Dubes Inggris untuk Indonesia," kata Wakil Menteri Pertahanan RI Sakti Wahyu Trenggono saat dihubungi, Kamis (7/11/2019).

Ia menambahkan, Prabowo juga dijadwalkan bertemu Dubes Rusia untuk RI Lyudmila Vorobieva.

Tentang topik pembahasan, Sakti menjelaskan, "Courtesy call (kunjungan kehormatan) saja."

Sebelumnya, Menhan Prabowo telah menerima kunjungan kehormatan sejumlah duta besar, termasuk Korea Selatan dan Yordania pada Senin pekan ini.

Dengan Dubes Korea Selatan, pertemuan itu membahas penjajakan pengadaan alutsista jet tempur dari Negeri Ginseng untuk Indonesia.

2 of 3

Pembahasan Pengadaan Jet Tempur KFX/IFX

Prabowo Subianto
Ketua Umum Partai Gerindra Prabowo Subianto berjalan memasuki kompleks Istana Kepresidenan, Jakarta, Senin (21/10/2019). Prabowo Subianto tiba di Istana di tengah suasana pengumuman calon menteri kabinet Presiden Joko Widodo atau Jokowi. (Liputan6.com/Angga Yuniar)

Wamenhan RI Sakti Wahyu Trenggono membenarkan bahwa Menhan Prabowo dan Dubes Korsel Kim Chang-beom membahas pengadaan jet tempur KFX/IFX yang sempat tertunda beberapa tahun lalu.

Sakti menambahkan, hingga saat ini pihaknya masih mengkaji rencana tersebut.

"Khusus KFX/IFX sedang kami dalami dan dipelajari manfaatnya. Itu penting karena pesawat tempur itu merupakan teknologi tinggi, dan tidak bisa sembarangan, serta di level mana nanti kita punya hingga sampai kemampuan seperti apa," ujar Sakti.

Selain manfaat, lanjutnya, faktor biaya juga menjadi kendala. Sebab harga pesawat KFX/IFX disebut mencapai US$ 2 miliar (sekira Rp 28 triliun).

Di sisi lain, Presiden Joko Widodo (Jokowi) menegaskan agar menekankan mengurangi impor dalam pengadaan alutsista.

"Karena nilainya mahal sampai 2 miliar dollar. Jadi belum bisa jawab kelanjutannya karena masih perlu kajian," pungkas Sakti.

 

Ronald Chaniago, Merdeka.com

3 of 3

Simak video pilihan berikut:

Lanjutkan Membaca ↓