Polusi Parah di New Delhi, India Batasi Kendaraan dengan Sistem Ganjil Genap

Oleh Liputan6.com pada 04 Nov 2019, 14:01 WIB
Diperbarui 05 Nov 2019, 12:14 WIB
Kabut Asap Beracun Kepung New Delhi

Liputan6.com, New Delhi - Polusi udara di New Delhi dan kota-kota sekitarnya telah mencapai tingkat terburuk sepanjang tahun ini. Atas peristiwa itu, pihak otoritas di ibu kota telah mengumumkan darurat kesehatan paru-paru sekitar 40 juta masyarakat dan memerintahkan penutupan sekolah.

Aplikasi yang menggunakan data polusi untuk menjelaskan kualitas udara sebanding dengan asap rokok menemukan, bahwa kualitas Ibu Kota India saat ini sama dengan merokok 33,2 batang per hari.

Mengutip dari ABC, Senin (4/11/2019), akibat kabut asap tersebut, dari 30 penerbangan dialihkan dari bandara New Delhi karena jarak pandang yang buruk.

Jalan-jalan juga tampak sepi lantaran sejumlah besar orang memilih menetap di rumah, daripada mengekspos diri mereka ke atmosfer berbahaya di luar.

"Polusi telah mencapai tingkat yang tak tertahankan di India utara," tulis kepala menteri Delhi, Arvind Kejrial di Twitter.

Badan pemantauan lingkungan pemerintah memperingatkan, tidak ada bantuan yang diharapkan untuk satu atau dua hari ke depan. Ini dikarenakan kelembaban yang dihasilkan dari hujan ringan yang tak terduga memperburuk pencemaran.

"Kecepatan angin meningkat dan itu bisa memakan waktu 24 hingga 48 jam sebelum tingkat polusi berkurang ke level sekitar 500," ujar Mahesh Palawat, wakil presiden badan prakiraan cuaca swasta Skymet.

2 dari 3 halaman

Pembatasan Kendaraan dan Tindakan Otoritas

Ilustrasi bendera India (AFP Photo)
Ilustrasi bendera India (AFP Photo)

Dokter melaporkan terjadi lonjakan pasien dengan masalah pernapasan, menurut Sachin Taparia, kepala Lingkaran Lokal konsultan swasta yang berbasis di Delhi yang melakukan survei tentang kebijakan dan program pemerintah.

"Delhi telah berubah menjadi kamar gas ketika tingkat polusi mencapai kategori parah," kata Taparia.

Mulai Senin, pemerintah kota juga akan membatasi penggunaan kendaraan pribadi di jalan-jalan ibu kota di bawah skema 'ganjil-genap' berdasarkan plat nomor.

"Pembatasan sementara pada kendaraan pribadi akan memiliki dampak (baik), sementara kita menghadapi situasi yang paling berbahaya," kata Palawat dari Skymet.

Lalu, menurut seorang pengacara, Mahkamah Agung kemungkinan akan mendengar petisi pada hari Senin dari badan lingkungan, mencari cara untuk membuat pemerintah negara bagian mengambil tindakan lebih keras terhadap petani untuk mengekang pembakaran tunggul.

Berdasarkan SAFAR, foto-foto satelit telah menangkap lebih dari 3.000 insiden pembakaran tunggul pekan lalu di negara-negara tetangga, berkontribusi terhadap 44 persen polusi Delhi.

 

Reporter: Aqilah Ananda Purwanti

3 dari 3 halaman

Saksikan video pilihan di bawah ini:

Lanjutkan Membaca ↓