Penangkapan Istri dan Kurir Jadi Awal Tewasnya Pimpinan ISIS al-Baghdadi

Oleh Liputan6.com pada 30 Okt 2019, 17:44 WIB
Diperbarui 31 Okt 2019, 13:15 WIB
Ilustrasi ISIS

Liputan6.com, Suriah - Presiden Donald Trump mengumumkan pada Minggu 27 Oktober pagi bahwa Pimpinan ISIS, Abu Bakr Al-Baghdadi telah tewas dalam serangan militer AS di Suriah pada Sabtu 26 Oktober.

Pembunuhan al-Baghdadi menandai kemenangan besar bagi pasukan AS, karena diketahui ia telah menghabiskan lima tahun terakhir bersembunyi.

Penggrebekan yang telah direncanakan berbulan-bulan itu, diawali dengan penangkapan salah satu istri al-Baghdadi dan seorang kurir, seperti mengutip dari i24news, Rabu (30/10/2019).

Mengutip dua pejabat AS yang tidak disebutkan namanya, The New York Times mengatakan, CIA bekerja dengan intelijen Irak dan Kurdi untuk mendapatkan petunjuk yang lebih tepat tentang keberadaan al-Baghdadi.

Upaya bersama yang dilakukan tersebut bahkan melihat mata-mata itu mendekatinya ketika al-Baghdadi bersembunyi jauh di daerah yang dikelola oleh kelompok-kelompok jihadis dengan berbagai kesetiaan, mengawasi setiap gerakan yang dia lakukan.

 

* Dapatkan pulsa gratis senilai jutaan rupiah dengan download aplikasi terbaru Liputan6.com mulai 11-31 Oktober 2019 di tautan ini untuk Android dan di sini untuk iOS

2 of 3

Persiapan Dilakukan dengan Matang

Presiden Amerka Serikat (AS) (AFP).
Presiden Amerka Serikat (AS) Donald Trump (AFP).

Keputusan Trump yang tiba-tiba untuk menarik diri dari timur laut Suriah hampir membahayakan rencana itu, Times melaporkan.

Keputusan itu memaksa Pentagon untuk mempercepat serangan semalam --yang berisiko. Mereka membawa delapan helikopter yang membawa pasukan komando Delta Force dan menembak beberapa kali selama penerbangan 70 menit mereka melalui Syria.

Para pejabat memuji Kurdi sebagai sumber utama intelijen untuk serangan itu, dan mengatakan arus masuk intel tidak terputus bahkan setelah penarikan AS diumumkan.

Dengan serangkaian pemimpin dunia memberi selamat kepada Trump atas kematian al-Baghdadi, ketegangan memuncak di Capitol Hill, dengan Ketua DPR Pelosi memutuskan Trump tidak mengungkapkan serangan itu kepada para pemimpin Kongres.

Menurut Trump, persiapan serangan itu dilakukan dalam kerahasiaan tinggi untuk menghindari kemungkinan kebocoran.

 

Reporter: Aqilah Ananda Purwanti

3 of 3

Saksikan video pilihan di bawah ini:

Lanjutkan Membaca ↓