Usai Demo Berujung Rusuh di Chile, Presiden Pinera Reshuffle Menteri Kabinet

Oleh Benedikta Miranti Tri Verdiana pada 29 Okt 2019, 11:58 WIB
Diperbarui 31 Okt 2019, 00:13 WIB
1 Juta Warga Chile Turun ke Jalan

Liputan6.com, Santiago - Presiden Chile Sebastián Piñera telah mengumumkan perubahan besar-besaran pada kabinetnya dalam upaya untuk memadamkan protes massa yang telah melanda seluruh negara selama berhari-hari belakangan.

Dilansir dari BBC, Selasa (29/10/2019), delapan menteri, termasuk menteri dalam negeri dan keuangan, akan diganti. Langkah ini dilakukan dua hari setelah Tuan Piñera mengumumkan seluruh kabinet yang baru. 

Terlepas dari langkah-langkah itu, pengunjuk rasa kembali bentrok dengan pasukan keamanan di Valparaiso, Concepcion dan pusat ibu kota, Santiago.

Para petugas pemadam kebakaran juga menangani kebakaran besar di pusat perbelanjaan dekat istana kepresidenan di Santiago.

Setidaknya 20 orang telah tewas sejak aksi protes berlangsung lebih dari seminggu yang lalu.

Presiden Piñera mengatakan negara itu telah melalui "masa sulit".

"Chile telah berubah dan pemerintah juga harus berubah untuk menghadapi tantangan dan waktu baru ini," kata presiden tentang perombakan kabinet yang dilakukan.

Dia juga mengatakan bahwa "pemerintah kita telah mendengarkan pesan yang jelas dan kuat yang dikirim oleh orang Chile, yang menuntut dan layak mendapatkan negara yang lebih adil dan mendukung dengan lebih banyak peluang dan lebih sedikit keistimewaan".

Menteri Dalam Negeri Andrés Chadwick, yang sangat dikritik karena penanganannya terhadap aksi protes, akan digantikan oleh Gonzalo Blumel.

Ada juga perubahan di kementerian keuangan, ekonomi, tenaga kerja dan olahraga. Sedangkan, Gubernur Santiago Karla Rubilar berubah menjadi juru bicara pemerintah baru.

 

 

* Dapatkan pulsa gratis senilai jutaan rupiah dengan download aplikasi terbaru Liputan6.com mulai 11-31 Oktober 2019 di tautan ini untuk Android dan di sini untuk iOS

2 dari 3 halaman

Latar Belakang Masalah

Aksi Penjarahan di Tengah Rusuh Chile
Penjarah melambaikan tanda 'V' ketika berlari selama protes di Valparaiso, Chile, Minggu (20/10/2019). Bentrokan pecah di Santiago setelah dua orang tewas ketika sebuah supermarket dibakar ketika protes terhadap kondisi ekonomi dan ketidaksetaraan sosial. (JAVIER TORRES/AFP)

Protes dipicu oleh kenaikan harga tiket metro di Santiago yang sekarang ditangguhkan dan meluas ke bagian lain negara itu selama 10 hari terakhir.

Puncak aksi unjuk rasa terlihat dalam pawai di ibu kota pada hari Sabtu yang dihadiri oleh setidaknya satu juta orang. Itu merupakan demonstrasi terbesar yang berlangsung di Chili sejak demokrasi dipulihkan pada tahun 1990.

Para pengunjuk rasa telah menyatakan ketidakpuasan mereka atas berbagai masalah, mulai dari tingkat ketidaksetaraan yang tinggi dan pendanaan yang buruk untuk pendidikan hingga tingginya biaya perawatan kesehatan.

Banyak demonstran menuduh partai-partai politik yang ada tidak dapat memenuhi kebutuhan mereka.

Beberapa protes kemudian berubah menjadi kekerasan, berakhir dengan penjarahan dan pembakaran. Akibatnya, peringatan keadaan darurat diumumkan dan tentara dikerahkan ke jalan-jalan untuk pertama kalinya sejak 1990.

Presiden Piñera juga memberlakukan jam malam di banyak kota-kota besar Chili yang sebelumnya baru dicabut pada Senin pagi.

Ada banyak dugaan pelanggaran hak asasi manusia yang juga terjadi hingga mendorong Komisaris PBB untuk Hak Asasi Manusia, Michelle Bachelet mengirim misi verifikasi ke negara tersebut.

Presiden mengatakan bahwa tuduhan kebrutalan polisi dan tentara akan diselidiki secara menyeluruh.

Tanggapan awal Piñera terhadap protes massa adalah dengan berperang, menyebut para demonstran sebagai "penjahat" dan mengatakan bahwa Chile "berperang dengan musuh yang keras kepala".

Namun sejak itu, ia melunakkan retorikanya dan perombakan itu dilihat sebagai upaya terakhirnya untuk memadamkan protes, yang telah menyebabkan penangkapan terhadap 7.000 orang.

3 dari 3 halaman

Saksikan Video Pilihan di Bawah Ini:

Lanjutkan Membaca ↓