Investigasi Diluncurkan Terkait Temuan 39 Jasad Dalam Truk di Essex Inggris

Oleh Afra Augesti pada 24 Okt 2019, 13:00 WIB
Diperbarui 24 Okt 2019, 18:17 WIB
20151120-Ilustrasi-Jenazah-iStockphoto

Liputan6.com, Essex - Investigasi dugaan pembunuhan sedang dilakukan oleh polisi dan detektif di Essex, Inggris, setelah 39 jasad ditemukan pada Rabu, 23 Oktober 2019, di sebuah truk yang diparkir di kawasan industri Inggris selatan.

Personel kepolisian dipanggil oleh paramedis pada Rabu dini hari waktu setempat setelah mayat-mayat itu dilaporkan dari Grays --sekitar 20 mil timur London, di tepi utara Sungai Thames.

"Ini adalah insiden tragis di mana sejumlah besar orang kehilangan nyawa mereka. Tim penyelidik kami sedang dikerahkan untuk mengetahui apa yang sebenarnya terjadi," kata Kepala Polisi Essex, Andrew Mariner, dalam sebuah pernyataan, dikutip dari Time.com, Kamis (24/10/2019).

Ia menambahkan, salah satu di antara 39 korban adalah remaja dan polisi masih berupaya untuk mengidentifikasi semua jenazah itu. "Ini mungkin bisa menjadi proses pemeriksaan yang panjang," kata seorang pengawas.

Polisi yakin, truk tersebut melakukan perjalanan dari Zeebrugge, Belgia, dan memasuki Inggris melalui pelabuhan Purfleet di Essex. Kendaraan berat ini disinyalir berlabuh di wilayah Thurrock of Grays tak lama setelah pukul 00.30 pada Rabu kemarin.

Associated Press melaporkan, pelat truk itu berasal dari Bulgaria, unit traktornya dipercayai dari Irlandia Utara. Polisi menjelaskan, sopir truk --seorang pria berusia 25 tahun dari Irlandia Utara-- telah ditangkap karena dicurigai melakukan pembunuhan. Sampai sekarang, ia masih ditahan polisi.

"Ini adalah tragedi mutlak," Shoaib Khan, seorang pengacara hak asasi manusia Inggris, mengatakan kepada TIME. "Dalang di balik semua ini masih dicari tahu. Perdana Menteri, Sekretaris Dalam Negeri dan pejabat lainnya akan mengungkapkan rasa belasungkawa mereka dan berjanji membuka penyelidikan"

Khan melanjutkan: "Ini adalah akibat langsung dari pemerintah yang menutup jalan untuk memasuki Inggris. Jika hukum dan kebijakan manusiawi diperkenalkan, insiden seperti itu akan terus berlanjut dan orang yang paling tidak berdaya akan terus membayar dengan nyawanya."

2 dari 3 halaman

Kata PM Inggris

Menteri Luar Negeri Inggris Boris Johnson
Menteri Luar Negeri Inggris, Boris Johnson. (AFP)

Perdana Menteri Inggris, Boris Johnson, mengutarakan duka citanya dalam Prime Minister’s Questions (sidang Dewan Rakyat di mana Perdana Menteri menjawab pertanyaan para Anggota Parlemen selama setengah jam) di House of Commons pada Rabu kemarin.

"Itu adalah tragedi yang tak terbayangkan dan benar-benar memilukan," katanya. "Saya tahu bahwa semua anggota mendoakan mereka yang kehilangan nyawa dan orang yang mereka (korban) tinggalkan."

Sementara itu, Menteri Dalam Negeri Priti Patel yang bertugas mengawasi kebijakan imigrasi di Britania Raya menambahkan: "Saya kaget dan sedih dengan insiden tragis di Grays. Hati saya tertuju pada semua yang terdampak."

Para migran gelap yang bersiap 'menumpang' kereta dengan menyebrangi pagar. (AFP)

Ada beberapa kasus migran yang sekarat saat diselundupkan melintasi perbatasan dalam beberapa tahun terakhir. Pada 2018, pengadilan Hongaria menghukum sekelompok penyelundup terkait perdagangan dan kematian 71 migran.

Jasad mereka ditemukan di sebuah truk yang ditinggalkan di sebelah jalan raya di Austria pada 2015.

Lalu pada 2017, responden darurat menemukan lusinan migran tidak berdokumen di dalam kendaraan semi-truk yang diparkir di basement Walmart di San Antonio, Texas. Sembilan orang di antara mereka meninggal.

3 dari 3 halaman

Saksikan Video Pilihan di Bawah Ini:

Lanjutkan Membaca ↓