Terkuak, Mahasiswa Eropa dan Amerika Gunakan Joki Tugas dari Kenya

Oleh Benedikta Miranti Tri Verdiana pada 24 Okt 2019, 09:02 WIB
Diperbarui 24 Okt 2019, 10:14 WIB
kerja nggak bahagia

Liputan6.com, Nairobi - Jasa pengerjaan tugas mahasiswa memang bukan lagi menjadi hal yang asing didengar. Tak hanya di Indonesia, ternyata jasa tersebut juga digunakan di belahan dunia lain termasuk Eropa hingga Amerika. Bahkan, mereka menggunakan jasa dari orang-orang di Kenya

Dilansir dari sebuah video unggahan BBC, Selasa (22/10/2019), banyak lulusan mahasiswa di Kenya yang kesulitan mencari pekerjaan menjadikan joki tugas sebagai pekerjaan utamanya. 

Vanessa, seorang joki tugas dari Kenya mengatakan, kebanyakan mahasiswa itu tidak hadir dalam kelas, terlebih untuk kelas online. Mereka hanya mempercayakan tugas yang diberikan kepada pekerja jasa tersebut. 

Ia juga mengungkapkan bahwa kerja sama ini merupakan suatu bentuk simbiosis mutualisme yang menguntungkan bagi kedua pihak.

"Kalian malas tapi punya uang, saya yang bekerja dan membutuhkan uang," begitu gambaran sederhana yang diberikan oleh Vanessa mengenai siklus kerjanya.

Sebelum memulai pekerjaannya, ia akan menerima sejumlah topik dari dosen para mahasiswa tersebut kemudian mencari data dan mulai menulis.

Fakta menunjukkan bahwa setidaknya satu dari tujuh lulusan universitas membayar orang lain untuk mengerjakan tugasnya. 

 

* Dapatkan pulsa gratis senilai jutaan rupiah dengan download aplikasi terbaru Liputan6.com mulai 11-31 Oktober 2019 di tautan ini untuk Android dan di sini untuk iOS

2 dari 3 halaman

Bayaran Besar

Mahasiswa
Ilustrasi mahasiswa belajar di kampus (iStockphoto)

Sumber lainnya, yang memilih untuk dipanggil sebagai 'John' juga merupakan seorang joki tugas asal Kenya. 

John memposisikan dirinya untuk mengerjakan tugas bagi mahasiswa tingkat S2 dan PhD. Kebanyakan pekerjaan yang ia terima berasal dari Inggris dan Amerika.

"Dalam tingkatan tersebut, seseorang diminta untuk mengerjakan tugas sebanyak 100 halaman. Dan itu bukanlah hal yang bisa dilakukan sendiri, pasti membutuhkan bantuan. Saya lah yang menjadi bantuan bagi mereka," ungkap John ketika menjelaskan tentang pekerjaannya. 

Ia merupakan lulusan insinyur yang kini masih kesulitan mencari pekerjaan. Ia mengatakan bahwa setiap industri hanya membutuhkan sekitar satu sampai dua lulusan baru. Hal itu membuat banyak lulusan lainnya harus mencari pekerjaan di bidang lain.

John menerima minimum $25 (Rp 350 ribu) per halaman, bahkan kadang hingga $50 (Rp 700 ribu). Hal itu membuatnya sudah cukup nyaman, bahkan ia ragu apakah ia akan menerima tawaran pekerjaan sebagai insinyur nantinya.

Menjadi seorang joki kini sudah menjadi pekerjaan penuh bagi John. Namun, John mengatakan bahwa ia menolak pekerjaan untuk siswa sekolah karena dinilai sangat tidak etis. Menurutnya, orang-orang di tingkat S2 atau PhD harus melakukan penelitian sekaligus membuat laporannya sehingga mereka tidak memiliki waktu untuk itu, disitulah ia membantu.

Industri ini bernilai hingga $1 Miliar (Rp 14 Triliun). Beberapa pihak menilai bahwa pekerjaan tersebut tidak lah etis dan curang namun belum ada undang-undang yang mengatur perihal masalah tersebut di Kenya. Kendati demikian, sudah terdengar rumor bahwa pekerjaan tersebut akan ditindak secara hukum.

3 dari 3 halaman

Saksikan Video Pilihan di Bawah Ini:

Lanjutkan Membaca ↓