Berkat Kiprahnya, 5 Perempuan Sepuh Ini Masuk Daftar 100 Wanita Berpengaruh Dunia

Oleh Benedikta Miranti Tri Verdiana pada 18 Okt 2019, 08:01 WIB

Diperbarui 18 Okt 2019, 08:16 WIB

Ilustrasi lansia (iStock)

Liputan6.com, Jakarta - Usia lanjut bukanlah suatu penghalang bagi perempuan hebat ini membuat perubahan bagi dunia. Bukannya merasa rendah diri, para wanita sepuh ini justru semakin giat bersuara atas keadilan dengan peran mereka di bidang masing-masing.

 

Berikut ini 5 nama lansia wanita yang masuk dalam daftar perempuan berpengaruh dunia oleh BBC:

 

* Dapatkan pulsa gratis senilai jutaan rupiah dengan download aplikasi terbaru Liputan6.com mulai 11-31 Oktober 2019 di tautan ini untuk Android dan di sini untuk iOS

2 of 7

1. Marylin Waring dari Selandia Baru

Ilustrasi lansia
Ilustrasi lansia

Terkenal sebagai anggota parlemen termuda Selandia Baru pada tahun 1975 dalam usia 23 tahun, Marilyn Waring adalah pelopor ekonomi feminis, dan penulis buku Counting for Nothing yang inovatif, yang menyoroti nilai pekerjaan tanpa upah bagi kaum wanita.

Sebagai seorang aktivis lingkungan, wanita yang kini berusia 67 tahun ini juga berperan penting dalam meloloskan kebijakan bebas nuklir Selandia Baru.

"Apa yang kami putuskan untuk diukur sekarang adalah apa yang akan kami prioritaskan di masa depan. Penilaian filosofis selalu dibuat berdasarkan nilai, bukan fakta. " demikian kutipan dari Marylin melalui BBC.

3 of 7

2. Ida Vitale dari Uruguay

Ilustrasi lansia bahagia
Ilustrasi (iStock)

Pada usia 95 tahun, penyair Ida Vitale merupakan pemenang Cervantes Prize, penghargaan sastra paling bergengsi di dunia yang berbahasa Spanyol.

Ia merupakan wanita kelima yang memenangkan penghargaan tersebut. Dia adalah anggota terakhir yang bertahan dari gerakan seni penting Uruguay yang dikenal sebagai Generasi '45.

Dia mengakhiri salah satu puisinya yang paling terkenal, Fortune, dengan kalimat "Menjadi manusia dan wanita, tidak lebih, tidak kurang."

"Untuk dapat berbicara dan berjalan dengan bebas, dan hadir tanpa mutilasi, dan memasuki gereja, atau tidak, dan membaca, mendengar musik yang saya sukai, pada malam hari menjadi makhluk, seperti dalam cahaya siang hari. (Fortune, 2005)

4 of 7

3. Luchita Hurtado dari Venezuela

Ilustrasi Orang Tua (iStockphoto)
semakin tua seseorang semakin sulit pula mereka lepas dari obat. (Ilustrasi Lansia/iStockphoto)

Tahun ini, seorang seniman bernama Luchita Hurtado mengadakan pameran solo pertamanya di galeri publik - pada usia 98 tahun.

Lahir di Venezuela, istri dari seniman berpengaruh Lee Mullican ini menghabiskan waktu bertahun-tahun menganggap karya seninya sebagai buku harian pribadi, sebelum sekitar 1.200 karyanya digali ketika para kurator membersihkan studio almarhum suaminya.

Advokasi lingkungan Hurtado terus menginformasikan bahasa visual dari karyanya.

"Kita harus berpikir sebelum memilih," ucap Hurtado melalui BBC.

5 of 7

4. Suster Gerard Fernandez dari Singapura

Lansia (iStock)
Ilustrasi lansia (iStockphoto)

Suster Gerard adalah seorang biarawati Katolik Roma di Singapura, yang bekerja selama tiga dekade sebagai penasihat hukuman mati.

Sekarang berusia 81 tahun, dia telah "mendampingi" 18 narapidana sebelum kematian mereka, menggambarkan panggilannya untuk membantu "orang-orang yang hancur".

"Masa depan wanita, seperti yang lain, akan dipenuhi dengan kebaikan, martabat dan kesetaraan; dunia tanpa diskriminasi atau kebencian, yang didorong oleh belas kasih," demikian kutipan Suster Gerard melalui BBC.

6 of 7

5. Mabel Bianco dari Argentina

Pasangan lansia Chen dan Shen
Pasangan lansia Chen dan Shen (Sumber: Joco Lico Bridal & Studio)

Dokter medis feminis Mabel Bianco telah menghabiskan empat dekade menangani masalah kesehatan wanita, hak-hak reproduksi, aborsi, dan HIV / AIDS dalam agenda kebijakan publik di Argentina.

Dia telah memperkenalkan kebijakan untuk menyelamatkan hidup wanita - dari menanggulangi kanker payudara hingga kekerasan terhadap wanita - dan telah menjadi pelopor pendidikan seks dalam menghadapi konservatisme Katolik Roma.

Tahun ini adalah tahun ke-30 baginya sebagai presiden Yayasan Studi dan Penelitian Wanita (FEIM) yang mendukung hak-hak wanita di Amerika Latin dan dunia.

"Saya ingin masa depan tanpa wanita sekarat sia-sia. Saya berharap kita akan mencapai titik di mana perempuan di seluruh dunia dapat memutuskan secara bebas tentang kehidupan mereka, tubuh mereka, dan apakah akan menjadi ibu atau tidak tanpa risiko kematian, dan mampu hidup tanpa ketidakadilan gender," demikian kutipan Bianco melalui BBC. 

7 of 7

Saksikan Video Pilihan di Bawah Ini:

Lanjutkan Membaca ↓