Korban Tewas Topan Hagibis Terus Bertambah, Jepang Gencarkan Upaya Penyelamatan

Oleh Liputan6.com pada 16 Okt 2019, 09:43 WIB
Diperbarui 18 Okt 2019, 07:13 WIB
Topan Hagibis

Liputan6.com, Tokyo - Korban tewas akibat Topan Hagibis yang melanda Jepang mencapai lebih dari 70 orang pada Selasa 15 Oktober 2019. Tim penyelamat terus bekerja sepanjang waktu mencari korban selamat.

Topan Hagibis yang kuat melanda Jepang pada Sabtu 12 Oktober 2019 malam lalu. Topan tersebut mengembuskan angin kencang serta hujan lebat yang belum pernah terjadi sebelumnya di Jepang. 

Alhasil, puluhan sungai meluap, dan memicu terjadinya tanah longsor, seperti dilansir channelnewsasia.com, Rabu (16/9/2019).

Diperkirakan 72 orang meninggal dunia akibat hantaman topan. Serta, puluhan orang lainnya hilang, seperti laporan kantor berita Jepang, NHK. Sementara itu, penghitungan jumlah korban tewas dari pemerintah lebih rendah, dan informasi akan terus diperbarui.

2 of 5

Pernyataan PM Jepang

PM Jepang Shinzo Abe saat konferensi pers bersama Presiden AS Donald Trump di Gedung Putih (7/6) (AFP PHOTO)
PM Jepang Shinzo Abe saat konferensi pers bersama Presiden AS Donald Trump di Gedung Putih (7/6) (AFP PHOTO)

Perdana Menteri Jepang, Shinzo Abe mengatakan tidak ada rencana untuk memperlambat operasi penyelamatan. 

Dikutip dari channelnewsasia.com, pemerintah Jepang menyiapkan sekitar 110.000 polisi, penjaga pantai, petugas pemadam kebakaran, hingga melibatkan pasukan militer.

Perdana menteri memberi keterangan perihal upaya penyelamatan pemerintah terhadap korban Topan Hagibis.

"Saat ini di daerah yang rusak pekerjaan penyelamatan dan pencarian yang hilang terus dilakukan sepanjang waktu," kata Abe kepada parlemen. 

"Di mana sungai-sungai banjir, pekerjaan sedang dilakukan untuk memperbaiki titik-titik di mana tepian pecah, dan air dipompa keluar di mana banjir terjadi," tambahnya.

Sebelumnya, kantor perdana menteri menyebut lebih dari 3.000 orang sudah diselamatkan. Bencana topan memengaruhi 36 dari 47 prefektur yang ada di Negeri Matahari Terbit tersebut.

Sementara itu, PM Jepang tersebut juga berjanji untuk melakukan yang terbaik bagi keselamatan dan penyelamatan korban bencana topan, seperti dilansir dari time.com.

"Kami mengutamakan kehidupan masyarakat," kata Abe.

3 of 5

Ucapan Belasungkawa Kaisar Jepang dan Istri

Putra Mahkota Kekaisaran Jepang Pangeran Naruhito dan istri, Putri Masako
Putra Mahkota Kekaisaran Jepang Pangeran Naruhito dan istri, Putri Masako (AP)

Berdasarkan laporan pejabat Badan Rumah Tangga Kekaisaran Jepang, Kaisar Jepang, Naruhito dan istri kaisar, Masako turut menyatakan kesedihan bencana yang terjadi.

"(Mereka) sangat berduka untuk begitu banyak orang yang terkena dampak", kata pejabat tersebut, seperti dilansir channelnewsasia.com.

"(Mereka) menyatakan belasungkawa mereka yang tulus untuk mereka yang kehilangan nyawa, dan dengan tulus berharap bahwa mereka yang tidak bertanggung jawab akan ditemukan sesegera mungkin," tambah pejabat itu.

Sementara itu, pemerintah Jepang tidak berniat menunda upacara istana dan parade untuk merayakan penobatan Kaisar Naruhito pada 22 Oktober.

Terlepas dari bencana yang terjadi, serta skala kerusakan yang ditimbulkan Topan Hagibis.

4 of 5

Dampak Topan Hagibis bagi Jepang

5 Potret Banjir di Jepang Akibat Topan Hagibis, Bersih dan Bebas Sampah
Potret Banjir di Jepang Akibat Topan Hagibis, Bersih dan Bebas Sampah. (Sumber: Twitter/@kii_xs)

Pejabat pemerintah memperingatkan akan lebih banyak hujan dikhawatirkan terjadi sepanjang hari Selasa di beberapa bagian negara yang terkena dampak topan.

Sektertaris kabinet, Yoshihide Suga mengatakan kepada masyarakat untuk selalu bersiap diri.

"Kami meminta orang-orang untuk tidak lengah dan tetap waspada sepenuhnya," kata sekretaris kabinet.

Hagibis menabrak hembusan angin hingga 216 km/jam. Namun, hujan deras badai adalah yang paling merusak. 

Kematian dilaporkan terjadi di banyak prefektur. Termasuk, seorang pria yang apartemennya dibanjiri, seorang pekerja kota yang mobilnya terjebak di perairan yang naik, serta setidaknya tujuh kru di atas kapal kargo yang tenggelam di teluk Tokyo pada Sabtu malam lalu.

Dikutip dari channelnewsasia.com, hingga Selasa malam sekitar 24.000 rumah tangga masih tanpa listrik. Serta, 128.000 rumah tidak memiliki air bersih.

Puluhan ribu orang menghabiskan di tempat penampungan pemerintah pada Senin malam. Banyak dari orang-orang tersebut yang tidak yakin kapan mereka bisa pulang ke rumahnya.

Setidaknya 176 sungai meluap, termasuk di pusat Nagano, tempat tanggul yang dilewati mengirim air dari sungai Chikuma mengalir ke lingkungan perumahan. Kemudian, menenggelamkan kereta peluru di sebuah depot bahkan hingga jendela mereka.

Sementara itu, menurut penuturan Kementerian Lingkungan Hidup Jepang, 11 kantong berisi tanah radioaktif dan puing-puing dihilangkan dengan dicuci dari dua tempat penyimpanan berbeda di Fukushima, seperti dilansir time.com

Hal itu sebagai bagian dari upaya dekontaminasi dari krisis tahun 2011 atas pembangkit nuklir Fukushima Dai-ichi.

5 of 5

Bantuan Pemerintah

Menengok Pengungsi Korban Topan Hagibis di Jepang
Pejabat kota Koriyama memeriksa kesehatan penduduk yang dievakuasi di tempat penampungan di dalam sebuah sekolah dasar di Koriyama, prefektur Fukushima (14/10/2019). Sedikitnya 43 orang tewas akibat dilandan Topan Hagibis. (AFP Photo/Jiji Press)

PM Jepang mengatakan ada kekhawatiran dampak badai akan berlangsung lama di daerah-daerah yang dilanda bencana. Shinzo Abe menjanjikan dukungan cepat bagi penduduk.

Perdana Menteri Shinzo Abe mengatakan pemerintah mendanai respons bencana dari cadangan khusus 500 miliar yen ($ 4,6 miliar) atau sekitar 65 triliun rupiah dari anggaran fiskal 2019, seperti dilansir time.com. 

Bahkan Ia menyebut bisa diupayakan menyusun anggaran tambahan jika diperlukan.

Dikutip dari channelnewsasia.com, pemerintah menjanjikan bantuan keuangan ke daerah-daerah yang terkena dampak tanpa menentukan berapa banyak bantuan yang akan disisihkan.

"Dukungan untuk para korban bencana adalah tugas yang mendesak," kata Abe.

"Ada kekhawatiran bahwa dampaknya terhadap kehidupan sehari-hari dan kegiatan ekonomi mungkin tahan lama,” tambahnya. 

 

Reporter: Hugo Dimas

Lanjutkan Membaca ↓