Solusi Jepang Hadapi Masalah Gizi: Makan Siang di Sekolah

Oleh Benedikta Miranti Tri Verdiana pada 16 Okt 2019, 09:02 WIB
Diperbarui 16 Okt 2019, 14:15 WIB
Ilustrasi Anak Sekolah di Jepang.

Liputan6.com, Tokyo - Jepang memiliki prestasi mengatasi masalah gizi, baik obesitas maupun kekurangan gizi yang dialami banyak negara di dunia. Jepang memiliki tingkat kualitas gizi yang tinggi dan angka obesitas yang sangat rendah.

Ternyata, solusinya adalah makan siang di sekolah.

Dilansir dari Channel News Asia, Selasa (15/10/2019), sebuah laporan oleh UNICEF yang dirilis Selasa (15 Oktober) menunjukkan Jepang menduduki tingkat tertinggi untuk indikator kesehatan anak-anak, dengan tingkat kematian bayi yang rendah dan beberapa anak yang kekurangan berat badan.

Tetapi Jepang juga mengelola masalah obesitas anak terendah di antara 41 negara maju di Organisasi untuk Kerjasama Ekonomi dan Pembangunan dan Uni Eropa.

Para ahli mengatakan ada berbagai faktor di tempat kerja, termasuk masyarakat yang sadar kesehatan dan pemeriksaan rutin yang diamanatkan untuk anak-anak, tetapi program makan siang sekolah secara nasional menjadi salah satu kuncinya.

2 of 4

Program Makan Siang Nasional

bekal sekolah
Ilustrasi/copyright shutterstock.com

"Makan siang di sekolah dengan menu yang dibuat oleh ahli gizi disediakan untuk semua sekolah dasar dan sebagian besar sekolah menengah pertama di seluruh Jepang," ungkap Mitsuhiko Hara, seorang dokter anak dan profesor di Tokyo Kasei Gakuin University, kepada AFP.

Makan siang wajib, di mana tidak ada makan siang kemasan yang diperbolehkan. Itu semua mendapat subsidi besar dari pemerintah.

Setiap menu makanan dirancang untuk memiliki sekitar 600-700 kalori seimbang antara karbohidrat, daging atau ikan dan sayuran.

Satu sampel makanan yang disajikan untuk anak-anak di Gunma Jepang adalah: nasi dengan ikan bakar, bayam dan hidangan tauge, disajikan dengan sup miso dengan daging, bersama susu dan plum kering.

"Makan siang di sekolah dirancang untuk memberikan nutrisi yang cenderung tidak didapatkan ketika makan di rumah," kata pejabat kementerian pendidikan Mayumi Ueda kepada AFP.

"Saya pikir itu berkontribusi pada keseimbangan gizi yang diperlukan untuk anak-anak."

3 of 4

Makan Sambil Belajar

anak makan
Ilustrasi/copyright shutterstock.com

Tidak seperti konsep kantin di negara-negara Barat, makan siang di sekolah di Jepang disajikan di dalam ruang kelas. Para murid diminta untuk memberikan makanan kepada satu dengan yang lainnya.

Mereka tidak dapat memilih menu makanan yang ingin mereka makanan. Program tersebut tidak hanya untuk memberi mereka makanan tapi juga sekaligus edukasi.

"Akan ada juga penjelasan mengenai elemen nutrisi yang terkandung dalam makanan mereka. Ini merupakan cara yang bagus dalam memberikan edukasi pada anak-anak," ujar Hara. 

Di sekolah dasar, siswa menggunakan magnet dengan gambar makanan dan menempatkannya ke dalam kategori yang berbeda di papan tulis, mereka belajar untuk mengetahui kandungan makanan mereka.

"Makan siang di sekolah diposisikan sebagai bagian dari pendidikan di bawah hukum," kata Ueda.

"Ini bukan hanya tentang makan makanan, tetapi anak-anak belajar untuk menyajikan, dan membersihkan sendiri."

Pemerintah Jepang mempelajari nutrisi dan kebiasaan makan di Jepang setiap tahun, dan menggunakan hasilnya untuk membentuk apa yang masuk ke makanan sekolah, tambahnya.

Program makan siang di sekolah di Jepang dimulai pada tahun 1889, ketika bola nasi dan ikan bakar disediakan untuk anak-anak yang hidup dalam kemiskinan di prefektur Yamagata utara.

Tetapi program ini diperluas secara nasional setelah Perang Dunia II berakhir untuk mengatasi kelaparan di tengah-tengah masalah gizi yang serius.

4 of 4

Saksikan Video Pilihan di Bawah Ini:

Lanjutkan Membaca ↓

Live Streaming

Powered by