Ramai Tagar Boycott Vans Terkait Demo Hong Kong, Ada Apa?

Oleh Benedikta Miranti Tri Verdiana pada 09 Okt 2019, 14:31 WIB
Diperbarui 09 Okt 2019, 18:16 WIB
Desain sepatu Vans yang menuai kontroversi terkait demo Hong Kong.

Liputan6.com, Hong Kong - Setiap tahun, brand sepatu ternama Vans menggelar kompetisi desain sepatu bertajuk 'Vans Custom Culture' yang akan menghadiahi pemenangnya uang tunai sebesar $ 25,000 atau sekitar Rp 350 juta dan akan diproduksi massal. 

Dilansir dari CNN, Rabu (9/10/2019), tahun ini kompetisi tersebut menjadi sorotan publik karena salah satu desain dari peserta asal Kanada bernama Naomiso, yang menggambarkan dukungannya terhadap aksi unjuk rasa di Hong Kong hingga saat ini. 

Jika melihat dari jumlah suara yang diberikan masyarakat, ia berhak memenangkan kompetisi tersebut karena berhasil meraih lebih dari 30,000 suara.

Namun, produksi sepatu Vans yang kebetulan berlokasi di China semakin membuat dilema besar bagi pihak Vans jika memenangkan desain tersebut dan tetap memproduksinya.

Maka dari itu, Vans lebih memilih untuk tidak mengambil risiko apapun dan menghapus desain tersebut dari kompetisi yang kemudian membuat masyarakat geram. Hal tersebut terlihat dari aksi masyarakat yang mengunggah video mereka membuang bahkan membakar sepatu Vans miliknya. 

Kontroversi tersebut akhirnya membuat pihak Vans mengeluarkan sebuah klarifikasi dengan menulis bahwa pihaknya berusaha netral dan tidak mengambil posisi politik, maka dari itu desain yang diluncurkan harus tetap sejalan dengan nilai-nilai yang lama dijunjung tinggi yaitu rasa hormat dan toleransi. 

"Mulai hari ini, seluruh toko akan menghentikan sementara penjualan semua produk," ujar salah seorang dari pihak Vans.

Karena keputusan tersebut, tagar #boycottVans akhirnya muncul di media sosial. 

2 of 3

Kejadian Serupa

[Fimela] Kristal
Ilustrasi perhiasan kristal | unsplash.com | pixabay.com

Ternyata, tak hanya merk sepatu Vans yang mengalami dilema terkait aksi protes di Hong Kong. Salah satu brand perhiasan ternama, Tiffany & Co juga harus menghapus salah satu iklan di akun Twitternya yang menunjukkan seorang model wanita bergaya menutupi salah satu mataya dengan tangan, yang mana diinterpretasikan kebanyakan orang sebagai dukungan terhadap para demonstran.

Dilansir dari CNBC, hal tersebut menjadi sebuah masalah karena pada aksi demo di Hong Kong, Agustus lalu, seorang wanita harus dilarikan ke rumah sakit karena salah satu matanya terkena peluru.

Pihak Tiffany & Co, Nathan Strauss, menyampaikan pada Reuters bahwa foto yang ada pada iklan tersebut diambil pada bulan Mei dan tidak berniat untuk melibatkan masalah politik didalamnya. 

"Kami menyesali bahwa iklan tersebut dapat memberikan pandangan yang berbeda dan kami akan segera menghapusnya dari segala media digital," ujarnya.

Selain itu, Blizzard Entertainment, sebuah pengembang di bidang video game, menghapus ulangan video-on-demand (VOD) dari pertandingan Hearthstone match setelah para pemain asal Hongkong dipanggil terkait isu pembebasan wilayah usai pertandingan.

3 of 3

Saksikan Video Pilihan di Bawah Ini:

Lanjutkan Membaca ↓