Kisah WNI Asal Medan yang Jadi Guru Yoga di Jerman

pada 08 Okt 2019, 20:40 WIB
Diperbarui 08 Okt 2019, 22:17 WIB
20151020-Ilustrasi-Yoga

Jakarta - Kesuksesan adalah sesuatu yang otomatis terjadi, jika yang kamu lakukan adalah sesuatu yang kamu senangi. Demikian kata Adhe Eberz. Perempuan Indonesia yang berasal dari kota Medan itu, dulu pernah bekerja di perusahaan pengolahan kelapa sawit, setelah tamat kuliah ekonomi. Di perusahaan itulah ia bertemu dengan suaminya yang orang Jerman.

Setelah menikah dan pindah ke Jerman, ia awalnya menjadi ibu rumah tangga, dan membesarkan dua putranya. Setelah mereka besar, ia ingin kembali bekerja dan membantu keuangan rumah tangga. Apalagi ketika itu, situasi keuangan keluarganya "amburadul," demikian tuturnya.

Ia bercerita, seperti dikutip dari DW Indonesia, Selasa (8/9/2019), suaminya kerap memberikannya buku-buku yang mengajarkan tentang bagaimana mengembangkan kepribadian untuk menghadapi hidup. Di buku-buku itu, ia kerap membaca, bahwa melakukan yoga efeknya sangat baik.

"Sejak kecil, saya memang sebenarnya menyukai olah raga," katanya.

Tak diduga, apa yang dicarinya sekarang juga ditemukan. Suatu hari, ketika berbelanja di sebuah toko barang dan bahan makanan Asia, ia melihat plakat pengumuman tentang pendidikan untuk menjadi guru yoga. Ia segera pulang dan mendiskusikannya dengan suaminya, yang sangat mendukung keinginannya.

Akhirnya ia mengikuti pendidikan guru yoga, yang lamanya dua tahun. Tahun 2018 ia menyelesaikan pendidikan, dan langsung bekerja di sport club yang tak jauh dari tempat tinggalnya.

2 of 3

Jangan Lelah Mencoba...

20151020-Ilustrasi-Yoga
Ilustrasi Yoga (iStockphoto)

Di sana ia menyadari bahwa, waktu yang dilewatkannya bersama murid-muridnya sangat terbatas.

Begitu pelajaran selesai, ia dan murid harus keluar dari ruangan, karena ruangan akan dipakai untuk aktivitas lain. Itu tidak cukup baginya. Karena ia ingin mempunyai hubungan lebih akrab dengan murid-muridnya. Oleh sebab itu, ia akhirnya membuka studio sendiri.

Ketika ditanya apakah tidak merasa kehilangan, karena tidak melanjutkan karir di bidang ekonomi, yang sudah pernah dirintisnya, ia menjawab, "tidak".

Ia bertutur, orang Indonesia biasanya menginginkan anak-anak mereka menjadi sarjana. Sehingga ketika di Indonesia, ia tidak terpikir untuk menempuh pendidikan lain. Selain itu, di Indonesia orang kerap memikirkan "apa kata orang", dan itu baginya ibarat "penjara". 

Oleh sebab itu ketika putra pertamanya tamat sekolah, ia mengajarkan untuk tidak mendengarkan saran dan nasehat orang lain, melainkan mengikuti kata hati sendiri. Itulah juga pesannya bagi generasi muda Indonesia. "Jangan lelah mencoba, sampai menemukan apa yang kalian impikan".

3 of 3

Saksikan Juga Video Berikut Ini:

Lanjutkan Membaca ↓

Tag Terkait