PM Belanda Apresiasi Kepemimpinan Indonesia di Tengah Ketidakpastian Dunia

Oleh Rizki Akbar Hasan pada 07 Okt 2019, 18:34 WIB
Diperbarui 07 Okt 2019, 18:34 WIB
Jokowi dan PM Belanda
Perbesar
Presiden Joko Widodo atau Jokowi (kanan) berbincang dengan PM Belanda Mark Rutte (kiri) sebelum pertemuan di Istana Bogor, Jawa Barat, Senin (7/10/19). Pertemuan itu membahas kerja sama strategis antara Indonesia dan Belanda kedepan berdasarkan prinsip kemitraan komprehensif. (AP/Dita Alangkara)

Liputan6.com, Jakarta - Perdana Menteri Belanda menekankan peran penting Indonesia dan kerja sama yang bisa dilakukan antara ASEAN dan Uni Eropa, khususnya dalam menghadapi berbagai ketidakpastian global dewasa ini.

Ancaman kemunduran globalisme dan multilateralisme, meningkatnya proteksionisme, hingga ketidakseimbangan hubungan ekonomi antara sejumlah negara yang memicu perang dagang; adalah sejumlah contoh ketidakpastian global yang digarisbawahi oleh PM Mark Rutte.

Demi menghadapi semua itu, ia menyarankan bahwa Indonesia, bersama Belanda, bisa memimpin kawasan masing-masing dan menyajikan solusi yang tepat.

Rutte menyoroti sekaligus mengapresiasi bagaimana Indonesia memimpin ASEAN dalam konteks geopolitik Indo Pasifik dengan prakarsa ASEAN Outlook on Indo Pacific-nya --ketika banyak negara dunia menunjukkan 'ambisinya' terhadap kawasan tersebut.

"Prakarsa itu menunjukkan ambisi positif yang berbasis koordinasi dan kerja sama, sekaligus, menghilangkan rasa saling tidak percaya dan miskalkulasi," kata PM Mark Rutte dalam diskusi publik yang diselenggarakan oleh lembaga think-tank Foreign Community Policy Indonesia (FPCI) di Jakarta, Senin (7/10/2019).

Sementara bagi Belanda, Rutte mengatakan bahwa prinsip persatuan dan keseimbangan di Uni Eropa adalah hal penting bagi organisasi multilateral Benua Biru.

"Kami (Uni Eropa) butuh persatuan dan keseimbangan dalam menghadapi dunia yang berubah dalam konteks keamanan dan ekonomi," jelas Rutte yang menyoroti faktor pemicu seperti isu Rusia dan persaingannya dengan Uni Eropa, Brexit, konflik Timur Tengah, hingga kemunculan Amerika Serikat --yang notabenenya merupakan sekutu tradisional Eropa barat-- sebagai negara yang justru bersikap sulit diprediksi.

Rutte menambahkan, "Belanda memainkan peranan aktif untuk memimpin dan memajukan prinsip tersebut (persatuan dan keseimbangan)."

Scroll down untuk melanjutkan membaca

Kemitraan ASEAN - Uni Eropa Contoh Nyata Penghormatan Atas Multilateralisme

Jokowi dan PM Belanda
Perbesar
Presiden Joko Widodo atau Jokowi (kiri) berbincang dengan PM Belanda Mark Rutte sebelum pertemuan di Istana Bogor, Jawa Barat, Senin (7/10/19). Pertemuan itu membahas kerja sama strategis antara Indonesia dan Belanda kedepan berdasarkan prinsip kemitraan komprehensif. (AP/Dita Alangkara)

Semua hal itu, bagi PM Mark Rutte, menunjukkan kesamaan sikap Indonesia dan Belanda dalam menjunjung tinggi prinsip multilateralisme dewasa ini.

"Saya percaya itu pilihan yang tepat. Karena dengan berdiri berdampingan di tingkat regional kita benar-benar dapat membuat kekuatan di tingkat global," jelas PM Rutte

"ASEAN membuktikan hal itu, dan juga Uni Eropa," kata sang perdana menteri yang menambahkan agar kedua organisasi bisa saling menjangkau semakin ke depannya.

"Kami sudah bekerja bersama di banyak bidang: hak asasi manusia, penelitian dan teknologi. Kami juga bersatu dengan banyak masalah internasional, dan saya percaya bagi Uni Eropa untuk menjadi mitra strategis ASEAN."

"Dan saya berharap prosesnya dapat disimpulkan dengan cepat," jelasnya, yang menambahkan, "Belanda akan terus bekerja untuk memelihara ikatan yang kuat antara kedua wilayah kami."

Lanjutkan Membaca ↓