Temu Alumni Beasiswa ITEC, Dubes India: Belajar di Negeri Kami Adalah Tantangan

Oleh Afra Augesti pada 05 Okt 2019, 16:19 WIB
Duta Besar India untuk Indonesia

Liputan6.com, Jakarta - Kedutaan Besar India di Jakarta pada hari ini, Sabtu (5/10/2019), menjadi tuan rumah bagi "Hari Alumni India Indonesia" (Kerjasama Teknis dan Ekonomi India - ITEC).

Dalam pertemuan tersebut, Duta Besar India untuk Indonesia, Pradeep Kumar Rawat, menyebut program ITEC sudah berjalan selama 56 tahun semenjak diinisiasi oleh pemerintah India pada 15 September 1964.

Ini adalah program bantuan bilateral dari pemerintah India kepada negara-negara di Asia, Asia Tenggara, Afrika dan Karibia.

Keputusan mengenai pendirian ITEC didasarkan pada keyakinan tentang perlunya untuk membangun hubungan yang saling memperhatikan dan saling bergantung, tidak hanya berdasarkan cita-cita dan aspirasi, tetapi juga pada fondasi ekonomi yang solid.

"Kerja sama teknis dan ekonomi ini dianggap sebagai salah satu fungsi penting dari kebijakan luar negeri yang terintegrasi dan imajinatif," ujarnya di Hotel Westin, Sabtu (5/10/2019). 

"Pada masa sekarang, kami mempunyai banyak hal yang bisa kami tawarkan, terutama dalam sektor teknologi. Saya memperkenalkan program i-tech yang memiliki banyak materi baru dan terkini, seperti robotik, virtual reality (VR), artificial inteligence (AI), infrastruktur teknik informatika, komputasi, dan lain sebagainya," imbuhnya.

Pemerintah India telah menawarkan beasiswa untuk WNI di bawah berbagai skema selama hampir tujuh dekade.

Dengan adanya Kerjasama Teknis & Ekonomi India (ITEC), Kerja Sama Teknis Skema Colombo plan (TCS) & Dewan Hubungan Budaya India (ICCR), India menawarkan beasiswa khusus yang didanai penuh dan sebagian, serta mencakup tunjangan hidup dan tunjangan lain yang diperlukan calon mahasiswa --selain tiket pesawat pulang-pergi.

Lebih dari 125 beasiswa dialokasikan khusus untuk Indonesia setiap tahun. Lebih dari 1.300 sarjana dari seluruh Tanah Air disebut telah memanfaatkan beasiswa tersebut sejauh ini.

Meskipun ketentuan untuk beasiswa sangat dihargai oleh pemerintah Indonesia dan akademisi, hal tersebut juga telah membuat dampak yang besar pada pengembangan keterampilan dan pengembangan kapasitas di Indonesia.

"India menemui banyak tantangan setelah merdeka pada kurang dari dua dekade. Pada waktu itu, India memutuskan bahwa apapun yang kita miliki, kita harus membagikannya dengan negara-negara sahabat di dunia," Dubes Pradeep menyampaikan.

"Teknologi canggih sedang berkembang di India. Jadi, kami tidak memiliki banyak hal untuk ditawarkan, tetapi apapun yang kami sediakan, kami merasa, pada suatu hari pengalaman kami dalam proses ini bisa membantu komunitas global."

"Pasca-merdeka, ada lagi tantangan yang harus kami hadapi sebagai negara yang baru bebas penjajahan, seperti kebanyakan negara yang dikolonisasi. Kami menyadari permasalahan yang kami miliki dan harus bisa menemukan solusinya, yang juga punya kaitan dengan negara-negara lain yang senasib. Untuk itulah, kami memfokuskan pada sumber daya manusia." 

 

* Dapatkan pulsa gratis senilai Rp 5 juta dengan download aplikasi terbaru Liputan6.com di tautan ini.

2 of 3

Membangun Desa Tertinggal

Presiden Joko Widodo atau Jokowi mengadakan pertemuan bilateral dengan Perdana Menteri India, Narendra Modi, di sela KTT G20, Sabtu (29/6/2019).
Presiden Joko Widodo atau Jokowi mengadakan pertemuan bilateral dengan Perdana Menteri India, Narendra Modi, di sela KTT G20, Sabtu (29/6/2019). (foto: Biro Pers Setpres)

Pemerintah India juga tengah berfokus pada pembangunan desa tertinggal dan teknologi. Sama seperti Indonesia yang memiliki Kementerian Desa, Pembangunan Daerah Tertinggal, dan Transmigrasi (Kemendes), India pun memiliki Panchayati Raj, yang sistem kerjanya tak jauh beda dengan Kemendes.

India punya dua program utama dengan Indonesia, salah satunya sudah dilakukan dengan Kemendes. Pertama, kunjungan 18 pejabat Kemendes ke India selama 2 minggu.

"Mereka melihat bagaimana cara India membantu desa-desa tertinggal untuk ikut berkembang dan juga agar Indonesia bisa tahu cara untuk mengatasi persoalan serupa di dalam negeri," ungkap Dubes Pradeep.

Program kedua ditujukan kepada mereka yang tinggal di daerah-daerah tanpa listrik. "Ini program pelatihan dan terbilang unik, karena kami hanya melatih wanita-wanita dari desa-desa tertinggal, kami menyebut mereka Solar Mama."

"Mereka tidak berbicara dalam bahasa India mana pun, mereka juga tidak bisa membaca dan menulis, tetapi dengan adanya program ini, kami melatih mereka menjadi teknisi cahaya. Mereka mampu merakit dan membangun sebuah panel surya dan sistem elektrifikasi matahari," pungkas Dubes Pradeep. 

Sementara itu, baru-baru ini, India baru saja meluncurkan program pendidikan baru, Indian Institution of Technology (IIT). Lulusan-lulusan IIT banyak menempati posisi-posisi tertinggi dalam ekonomi global, menurut Dubes Pradeep. Karena itulah, ITT menjadi institusi pendidikan yang paling banyak disorot dunia.

"Perdana Menteri mengumumkan bahwa India akan menawarkan beasiswa biaya penuh untuk 1.000 Ph.D. bagi negara-negara Asia. Indonesia adalah salah satu negara terbesar yang menerimanya," tutup Dubes Pradeep.

Belajar di India, kata Dubes Pradeep, adalah sebuah tantangan. Tidak gampang. Ada alasan di baliknya. "Hari ini, kita bersaing dengan manusia. Ketika bersaing dengan manusia, hidup menjadi semakin sukar. Namun, perhatikan jika kita bersaing dengan robot. Hidup menjadi lebih sulit lagi."

3 of 3

Saksikan Video Pilihan Berikut Ini:

Lanjutkan Membaca ↓