Ekuador Umumkan Keadaan Darurat Imbas Protes Kenaikan Bahan Bakar

Oleh Liputan6.com pada 04 Okt 2019, 14:25 WIB
Diperbarui 04 Okt 2019, 14:25 WIB
Ilustrasi bahan bakar diesel. (AP)

Liputan6.com, Ekuador - Pemerintah Ekuador mengumumkan keadaan darurat. Hal ini dipicu demonstran yang menentang kenaikan harga bahan bakar, sehingga mengganggu transportasi nasional pada Kamis (3/10/2019). 

Demonstran marah karena keputusan Presiden Ekuador untuk mengakhiri subsidi bahan bakar 40 tahun. Mereka menambahkan harga bahan bakar tidak lagi terjangkau.

Presiden Ekuador, Lenin Moreno mengatakan ia memberlakukan pencabutan subsidi untuk "menjamin keamanan rakyat dan menghindari kekacauan," seperti dilansir bbc.com.

Harga bahan bakar solar dan bensin diperkirakan akan meningkat lebih dari dua kali lipat.

Subsidi bahan bakar menghabiskan dana pemerintah hingga USD$ 13 miliar atau sekitar 180 triliun rupiah setiap tahunnya.

 

* Dapatkan pulsa gratis senilai Rp 5 juta dengan download aplikasi terbaru Liputan6.com di tautan ini.

2 dari 3 halaman

Perjuangan Rakyat Ekuador

Ilustrasi Bentrokan
Ilustrasi Bentrokan

Para pelajar dan mahasiswa serta dari sektor transportasi memimpin unjuk rasa pada Kamis 3 Oktober 2019.

Beragam elemen kendaraan mulai dari taxi, bus, hingga pengemudi truk memblokade jalan dan jembatan di ibukota Ecuador, Quito. 

Tak hanya itu, bahkan merembet hingga kota Guayaquil, hingga menyebabkan kendaaraan macet/tersendat.

 Beberapa pengunjuk rasa bentrok dengan aparat kepolisian setempat. Aparat menembaki demonstran dengan gas air mata untuk memecah kerumunan.

Menteri Dalam Negeri Ekuador, Maria Paula Romo menyatakan 19 orang telah ditangkap atas bentrokan yang terjadi.

Salah seorang pebisnis di Quito, Cesar Lopez turut berkomentar perihal kenaikan harga bahan bakar atas dicabutnya subsidi.

"Kurangnya transportasi memberi dampak pada kita semua, tapi kenaikan harga bensin yang sama akan memengaruhi kita," Kata Cesar Lopez.

3 dari 3 halaman

Keputusan Presiden

Brasil Gagal Atasi Ekuador
Suporter Ekuador mengibarkan bendera Ekuador saat timnya melawan Brasil pada partai pembuka Copa Amerika 2016 di Stadion Rose Bowl, Pasadena, California, Amerika Serikat, (5/6/2016) WIB. (AFP/Frederic J. Brown)

Beberapa demonstran membakar ban dan melempar benda ke arah kendaraan lapis baja polisi. Hal itu menuai kritik dari Presiden Ekuador.

Presiden Moreno menyebut tidak akan membiarkan pengunjuk rasa "memaksakan kekacauan."

Di bawah tindakan darurat, pemerintah di bawah Presiden Moreno dapat membatasi kebebasan dan mengerahkan pasukan bersenjata. Hal tersebut sebagai upaya untuk menjaga ketertiban. 

Penghapusan subsidi bahan bakar diperkenalkan pada tahun 1970-an. Penghapusan itu adalah bagian dari rencana Presiden Lenin Moreno untuk menopang perekonomian Ekuador yang lesu. Serta, meringankan beban utang negara Ekuador.

 

Reporter: Hugo Dimas

Lanjutkan Membaca ↓